halte cicayur walaupun kecil tetap warisan sejarah

Halte Cicayur Tangerang : Walaupun Kecil Tetap Warisan Sejarah

Sejak 2012 Halte Cicayur Tangerang telah diupgrade jadi stasiun dan tentunya bangunan baru. Walaupun hanya halte kecil namanya warisan sejarah tetap harus dilestarikan. Kini wujud asli bangunan bersejarah ini jadi pajangan Museum Kereta Api Ambarawa.

Pendahuluan

Berbicara tentang bangunan cagar budaya tak ada kata lain selain wajib untuk dilestarikan. Mau apapun bentuknya namanya warisan sejarah itu takkan menghapus nilai sejarah yang ada. Tak terkecuali sebuah halte kecil di Kabupaten Tangerang yang kini telah diupgrade jadi stasiun kelas III.

Halte kecil ini menjadi saksi sejarah pembangunan jalur kereta dari Jakarta ke Merak periode 1898-1901 oleh Staats Spoorwegen (SS). Namun karena kebutuhan untuk operasional KRL Commuter Line hingga Stasiun Rangkasbitung, juga faktor keamanan, halte ini harus diupgrade jadi stasiun kelas 3.

Before We Go

Sebetulnya keberadaan dua halte yang sekarang jadi koleksi Museum Kereta Api Ambarawa udah pernah dibahas. Namun itu masih dalam satu paket. InSyaaAlloh di kesempatan kali ini akan dibahas masing-masing halte bersejarah tersebut.

Bagi kamu yang ingin membacanya bisa langsung ke sini, Halte Cicayur dan Cikoya : Sekarang Koleksi Museum Ambarawa

Halte Cicayur Tangerang Dibangun Staats Spoorwegen (SS)

Merupakan satu dari dua halte di Jabodetabek yang tetap eksis hingga memasuki abad millenium. Terletak di wilayah Kabupaten Tangerang, kampung Cicayur perbatasan Kecamatan Cisauk dan Pengadegan. Nah penamaan Cicayur berdasarkan pada kampung tersebut.

Halte ini merupakan bagian dari sejarah pembangunan jalur kereta api dari Batavia Zuid ke Rangkasbitung via Duri-Tanah Abang oleh Staats Spoorwegen (SS). Jalur yang sekarang ini jadi Rangkasbitung Line atau Jalur Kulon diresmikan 1 Juli 1899.

Pembangunan inipun dilanjutkan ke Serang hingga Anyer Kidul tahun 1900. Menyusul percabangan dari Stasiun Krenceng menuju Merak tahun 1914.

halte cicayur sebelumnya bagian dari jalur duri rangkasbitung merak

Halte Cicayur Tangerang : Bertahan Hingga 2012

Sebagai bagian dari Jalur Kereta Tanah Abang – Merak, halte ini masih tetap mempertahankan keasliannya hingga tahun 2012. Bahkan hingga KRL Commuter Line sampai Stasiun Maja juga masih tetap demikian.

Halte Cicayur Tangerang : Diupgrade Karena Alasan Kenyamanan dan Keamanan

Bagaimanapun caranya untuk tetap bertahan dengan wujud asli, perkembangan zaman pula yang mengharuskannya berubah. Pembangunan double track ke Maja hingga Rangkasbitung bersama perluasan jaringan KRL membuat bangunan halte harus ditingkatkan jadi stasiun kelas 3.

Dengan wujud aslinya, halte di Tangerang ini sulit untuk bisa mengakomodasi kereta untuk peron tinggi. Jelas ini mengganggu kenyamanan dan tentu efeknya juga ke keselamatan. Karena dua alasan itu mau nggak mau Cicayur harus diupgrade.

Namun kini permasalahan muncul, mengingat bangunan asli susah untuk tetap eksis ketika gedung baru telah ada. Harus upgrade untuk kenyamanan dan keselamatan. Tapi juga jangan sampai menghilangkan nilai historisnya.

upgrade jadi stasiun membuat bangunan asli sulit dipertahankan

Diangkut dan Jadi Koleksi Museum Kereta Api Ambarawa

Alhasil sebuah opsi cukup radikal pun diambil. Bangunan halte Cicayur yang asli memang nggak akan dihilangkan begitu saja. Namun terbatasnya lahan membuatnya harus diangkut jauh ke sebuah tempat bernama Ambarawa. Terletak di Kabupaten Semarang.

Bersamaan dengan pembangunan stasiun baru, bangunan asli Halte Cicayur Tangerang dipindahkan ke sana. Hingga kini wujudnya tetap eksis walaupun hanya jadi koleksi museum kereta api Ambarawa. Biar gimanapun dan sekecil apapun juga tetaplah warisan sejarah.

gimanapun juga tetap warisan sejarah

Kesimpulan

Halte Cicayur Tangerang boleh aja kecil tapi tetap merupakan warisan sejarah. Keberadaannya telah ada sejak era kolonial. Pertama kali dioperasikan Staats Spoorwegen (SS) pada 1 Juli 1899 bersama dengan segmen Batavia Zuid – Duri – Tanah Abang – Rangkasbitung.

Wujud asli bangunan bersejarah ini tetap eksis sampai tahun 2012 dan sempat melayani KRL Commuter Line. Perkembangan zaman pula yang mengharuskan diupgrade.

Namun sekecil apapun bentuknya, warisan sejarah tetaplah demikian. Demi tetap melestarikan nilai sejarahnya, wujud aslinya dipindahkan dan jadi koleksi Museum Kereta Api Ambarawa.

InSyaaAlloh Lanjut ke Halte Cikoya

Pembahasan ini InSyaaAlloh lanjut ke Halte Cikoya : Menyelamatkan Ujung Kabupaten Tangerang. Di awal udah disebut dua halte Jabodetabek. Apalagi dua-duanya udah pernah dibahas dalam satu pembahasan. Namun sekarang masing-masing dibahas lebih mendalam. Setelah Cicayur rasanya kurang lengkap kalo Cikoya juga nggak ikut dibahas tersendiri.