jalur ka cirebon kroya dan konektivitas jakarta surabaya

Jalur KA Cirebon Kroya dan Konektivitas Jakarta Surabaya

Jalur KA Cirebon Kroya dibangun tahun 1912-1917 sebagai bagian dari konektivitas Jakarta – Surabaya. Meski sebelumnya telah tersambung, pihak Belanda waktu itu merasa perlu adanya percepatan. Khususnya melalui pengoperasian kereta ekspres yang memerlukan jalur baru

Pendahuluan

Sejatinya konektivitas antara Jakarta dan Surabaya di era kolonial telah ada sejak 1894. Dimana Lintas Priangan yang terdiri dari segmen Bogor – Cicalengka, Jalur kereta Cicalengka Garut, dan Dari Garut ke Cilacap telah tersambung dengan trase di Jawa Tengah, Yogyakarta dan Jawa Timur. Sehingga membentuk jalur Trans Jawa.

Namun di sini ada permasalahan yakni dua segmen dioperasikan oleh NISM (Nederlands Indische Spoorweg Maatchappij). Batavia – Buitenzorg (Jakarta Bogor) dan Yogykarta – Solo (Vortenslanden). Bahkan yang kedua itu menggunakan lebar gaunge 1.435 mm, berbeda dengan Staats Spoorwegen (SS) di 1.067 mm.

Perjalanan dari Jakarta ke Surabaya saat itu memakan waktu beberapa hari. Ditambah penumpang masih harus berganti kereta seperti di Buitenzorg dan Yogyakarta yang berbeda operator. Kadang yang satu operator pun tetap harus demikian. Terlebih belum ada perjalanan kereta malam.

Jadi Jakarta Surabaya kala itu memang seperti naik kereta lokal sekarang. Singgah di beberapa kota dan berganti kereta. Makanya jangan heran bila waktu tempuhnya dalam hitungan hari.

Jalur KA Cikampek Padalarang sebagai Shortcut Pertama

Bila memutar via Buitenzorg – Sukabumi – Cianjur, waktu tempuh Batavia dan Bandung aja udah memakan waktu lama. Sebuah literatur menyebut perjalanan tersebut memakan waktu 9 jam sampai Bandung dan 9 jam 11 menit hingga Stasiun Cicalengka. Itu udah termasuk transfer kereta di Buitenzorg

Lantas pihak Staats Spoorwegen (SS) ingin memangkas waktu tempuh panjang tersebut dengan membangun shortcut yakni di Jalur KA Cikampek Padalarang. Dibandingkan jalur lama, trase ini lebih pendek sekaligus ekstrem. Konturnya berupa lembah dan di satu titik harus membuat terowongan.

Tahun 1906 jalur KA Cikampek Padalarang dengan panjang 42 km ini selesai. Meski pendek terdapat banyak jembatan menyeberangi lembah dan sungai. Ditambah terowongan Sasaksaat yang menembus gunung. Di antara jembatan yang paling ikonik ialah Cisomang, Cikubang, dan Cibisoro. InSyaaAlloh nanti dibahas tersendiri.

Dengan adanya shortcut ini waktu tempuh Jakarta Surabaya otomatis terpangkas. Khususnya di segmen Priangan Barat yang semula bisa 9 jam (termasuk transit) menjadi 3-4 jam saja tanpa transit.

Rel Khusus di Lintas Kereta Api Mataram

Sebelum memecahkan solusi di sisi Priangan Barat dengan membangun shortcut Cikampek-Padalarang, Pihak NISM sebetulnya telah memberikan solusi agar penumpang tujuan Surabaya nggak perlu transit dan berpindah kereta di Yogyakarta

Caranya dengan menambah satu batang rel di gaunge 1.435 mm. Sehingga kereta yang dioperasikan Staats Spoorwegen (SS) bisa lewat di Lintas Kereta Api Mataram. Namun sekali lagi ini masih memiliki keterbatasan. Sehingga belum bisa mempersingkat waktu tempuh.

Sampai akhirnya 5 tahun kemudian hal tersebut bisa sedikit diatasi di sisi Priangan Barat. Dengan membangun shortcut meski harus menyeberangi banyak sungai dan lembah, serta menembus Terowongan Sasaksaat, namun waktu tempuh bisa dipangkas kurang lebih 4 jam.

Jalur KA Cirebon Kroya Jadi Shortcut Kedua

Konektivitas Jakarta Surabaya dinilai belum lebih cepat meski telah dibangun Jalur KA Cikampek Padalarang. Perjalanan masih memakan waktu sekitar 3-5 harian dengan pola yang masih menyerupai Kereta Lokal. Belum ada layanan ekspres terlebih kereta malam.

Staats Spoorwegen (SS) lantas membangun satu shortcut lagi, kali ini dari Cikampek menuju Cirebon, Prupuk, Purwokerto hingga Kroya. Segmen yang kini menjadi Jalur KA Cirebon Kroya. Mulai dibangun 1912 dan selesai 1917. Shortcut ini memperpendek jarak antara Jakarta dan Surabaya jadi 821 km.

Jalur KA Cirebon Kroya Sebagian Termasuk Pegunungan

Lintas Priangan jelas ya itu jalur pegunungan dan ekstrem di beberapa titik. Namun shortcut baru inipun sebagiannya merupakan jalur pegunungan. Terutama di segmen Prupuk hingga Jalur KA Purwokerto.

Hanya saja nggak seekstrem di Priangan. Bahkan cenderung agak datar. Sedikit mirip Jalur Kereta Cicalengka Garut di segmen Leles hingga Stasun KA Garut. Adapun dari Cikampek hingga Prupuk masih lintas datar.

Jalur KA Cirebon Kroya : Jembatan dan Terowongan

Seperti halnya shortcut yang pertama, ini juga terdiri dari beberapa bentang jembatan dan 2 terowongan. Untuk jembatan paling terkenal tentu saja Sakalibel di Bumiayu, Sungai Logawa, dan Jembatan Serayu Rawalo. Adapun 2 terowongan yakni Notog dan Kebasen.

Uniknya terowongan Notog itu berbentuk lekungan (curve) sehingga dari satu ujung ke ujung lainnya nggak terlihat. Terowongan Kebasen sendiri ukurannya pendek. Keduanya kini telah diganti bangunan baru untuk mengakomodasi Double Track.

Jalur KA Cirebon Kroya dan Eendaagsche Express

Pembangunan shortcut untuk memperpendek konektivitas Jakarta dan Surabaya ini tentu jadi latar belakang beroperasinya layanan Eendaagsche Express (Kereta Api Ekspres Siang) di tahun 1929.

Melalui shortcut ini perjalanan dari Jakarta ke Surabaya yang biasanya bisa 2 harian lewat Priangan diperpendek jadi 13,5 jam saja. Terlebih di saat yang sama Staats Spoorwegen (SS) telah mengoperasikan Lintas Kereta Api Mataram tersendiri bersisian dengan milik NISM.
Beroperasinya Eendaagsche Express di shortcut ini memang nggak lantas menghapus layanan dari Priangan ke Surabaya. Pasalnya tersedia rangkaian dari Bandung yang nantinya digabung di Kroya. Jadwal kereta api lain di sekitar Priangan pun turut diselaraskan. Eendaagsche Express merupakan kebanggaan Staats Spoorwegen (SS) kala itu.

Jalur KA Cirebon Kroya dan Java Nacht Express

Tahun 1936 Staats Spoorwegen (SS) mulai menjalankan layanan kereta ekspres malam yang juga melintas di jalur KA Cirebon Kroya. Kereta ini diberi nama Java Nacht Express dan menjadi cikal bakal KA Bima di masa kini.

Perjalanan malam sehingga terdapat layanan kereta tidur di sini. Dengan beroperasinya Java Nacht Express, konektivitas Jakarta dan Surabaya menjadi 11,5 jam. Sebuah pencapaian baru di era kolonial

Jalur Penting Hingga Kini

Pasca kemerdekaan keberadaan Jalur KA Cirebon Kroya ini sangat penting. Hal ini dibuktikan ketika jembatan Sakalibel di Bumiayu mengalami kerusakan di dekade 1970-an pemerintah langsung gerak cepat memperbaiki.

Begitupula Jembatan Sungai Serayu di Rawalo Purwokerto turut direnovasi total. Dengan mengganti rangka baja lengkung atas menjadi model trapesium. Mohon dikoreksi ya kalo salah sebut maklum bukan ahli konstruksi jembatan.

Saat ini lintas tersebut telah menggunakan double track. Karenanya perjalanan kereta api terutama dari Jakarta bisa dipercepat. Sebagai contoh untuk Jakarta – Jogja dengan Double Track bisa ditempuh 6 jam saja.

Kesimpulan

Jalur KA Cirebon Kroya dibangun tahun 1912-1917 yang awalnya adalah shortcut untuk mempercepat konektivitas Jakarta Surabaya. Masih berupa jalur pegunungan walaupun nggak seekstrem Priangan. Ketika beroperasi pertama kali diikuti pengoperasian Eendaagsche Express yang dilanjut Java Nacht Express.

Kini setelah Indonesia merdeka, keberadaan lintas tersebut sangatlah penting. Ketika terjadi kerusakan langsung diperbaiki. Infrastruktur pun terus dibenahi. Bahkan kini seluruhnya telah Double Track yang tentunya ikut mempercepat waktu tempuh. Misalnya Jakarta Jogja 6 jam saja.

Galeri Foto