Kereta Api Parahyangan Legenda Priangan Barat

Kereta Api Parahyangan Sang Legenda

Kereta Api Parahyangan pernah menjadi unggulan di masanya. Namun kejayaan itu memudar seiring beroperasinya kereta lain yang lebih cepat dan nyaman. Puncaknya saat beroperasinya Tol Cipularang hingga terpaksa pensiun. Jadi bagian dari sejarah panjang koridor Jakarta Bandung.  

Hari ini tanggal 31 Juli 2022 tepat 51 tahun lalu diluncurkan sebuah layanan kereta api unggulan yang beroperasi di koridor Jakarta Bandung. Rangkaian kereta yang dikemudian hari dikenal dengan nama Parahyangan. Asalnya punya layanan full kereta bisnis (K2), pernah berjaya di dekade 1980-an sampai membawa 14 kereta dalam satu perjalanan sebagaimana KA Kertajaya sekarang, dan mengalami pasang surut di era 1990-an sampai millennium.

Namun sayangnya sang legenda nggak bisa tetap berdinas sampai dengan 51 tahun. Tepat di tanggal 26 April 2010 harus pensiun gegara merugi sebagai dampak dari pengoperasian Tol Cipularang. KA Parahyangan lantas dilebur dengan KA Argo Gede menjadi KA Argo Parahyangan.

Apapun dan bagaimanapun itu, baik Kereta Api Parahyangan dan Argo Parahyangan sebagai penerus merupakan bagian dari sejarah panjang perkeretaapian Priangan. Khususnya terkait dengan konektivitas Jakarta-Bandung.

Sejarah Singkat Kereta Api Tanah Priangan

Sejarah perkeretaapian di tahan Priangan telah ada sejak tahun 1872. Saat itu untuk pertama kalinya si ular besi menginjakkan rodanya di Buitenzorg.

Seiring tuntasnya pembangunan jalur kereta api penghubung Batavia-Buitenzorg yang prosesnya dimulai pada tanggal 27 Maret 1964 oleh operator swasta Kolonial Belanda, NIS (Nederland Indische Stroomtram Maatschappij). Pembangunan jalur tersebut dalam dua tahap mulai dari Kleine Boom (Pasar Ikan) – Batavia Noord – Koningsplein, dilanjutkan tahap berikutnya Koningsplein – Mester Cornelis Passer – Buitenzorg.

Pembangunan Koridor Batavia Bandung

Buitenzorg yang sekarang kita kenal dengan nama Bogor merupakan titik awal pijakan menuju Tanah Priangan lebih dalam. Jadi masih termasuk bagian kecil gitu. Secara Gubernur Jenderal Hindia Belanda waktu itu juga telah tinggal di sini.

eiring berjalannya waktu, jalur kereta api dari Buitenzorg dilanjutkan ke Sukabumi, Cianjur dan akhirnya sampai juga di Bandung. Bahkan nggak cukup sampai disitu, berlanjut pula ke Cicalengka sampai akhirnya jadi satu kesatuan dengan jalur kereta api di Jawa Tengah, Jogja, dan Jawa Timur.

Nah disitulah perjalanan si ular besi di koridor Jakarta Bandung mulai. Meski disisi lain penumpangnya masih harus pindah kereta di Buitenzorg. Karena beda operator dimana Batavia-Buitenzorg dioperasikan NIS sedangkan Buitenzorg-Bandung oleh SS (Staat Spoorwegen).

Jalur Cikampek Padalarang dan Vlugge Vier

Seiring berjalannya waktu, SS yang notabene adalah perusahaan negara mulai mengakuisisi jalur kereta api di sebelah timur Batavia. Jalur tersebut membentang mulai dari Batavia Zuid hingga Karawang. Setelah berhasil, SS mulai membangun banyak lintas cabang di sekitar Batavia dan melanjutkan koridor timur dari Karawang ke Padalarang, 29 Desember 1900.

Lintas baru tersebut diresmikan 2 Mei 1906 sekaligus memperpendek waktu tempuh antara Batavia dan Bandung. Tahun 1934, Staat Spoorwegen mulai mengoperasikan Kereta Api Cepat Vlugge Vier dengan rute utama Batavia-Bandung via Cikampek.

Vlugge Vier artinya si empat cepat dalam sehari terdiri dari 4 (empat) perjalanan dari Batavia dan empat lainnya dari Bandung. Layanan ini ada yang diberangkatkan dari Tanjung Priok dan tentunya terintegrasi dengan kapal laut. Satu perjalanan rutenya diperpanjang hingga Garut dan Tasikmalaya. Kereta cepat ini menggunakan lokomotif Tenderlock seri 1300. Menempuh perjalanan sejauh 175 km dalam waktu 2 jam 45 menit.

Vlugge Vier sempat berhenti beroperasi seiring pendudukan Jepang pada 1942-1945 dan masa-masa perang kemerdekaan. Baru di tanggal 21 Januari 1952 kereta ini bisa dioperasikan lagi dibawah DKA (Djawatan Kereta Api) dan berganti nama menjadi Parahijangan seiring berjalannya waktu.

Kereta Api Parahyangan, Dinas Perdana 31 Juli 1971

Tanggal 31 Juli 1971 Kereta Api Parahyangan untuk pertama kalinya diresmikan dan beroperasi melayani rute Jakarta Kota – Bandung PP. Sang legenda menjanjikan waktu tempuh Jakarta Bandung hanya 2 jam 30 menit. Memang target itu tercapai di masa-masa awal pengoperasian. Kereta Api Parahyangan waktu menggunakan livery krem orange seperti KA Mutiara Utara.

Dalam satu trainset terdiri dari 6 kereta bisnis (BW/K2) buatan Jerman ditarik lokomotif BB 301. Di masanya termasuk kereta unggulan. Pernah satu hari salah satu lokomotifnya yakni jenis BB 301 27 dicat krem oranye sesuai dengan livery keretanya.

Tahun 1976, KA Parahyangan mulai ditarik lokomotif BB 304 selama kurang lebih setahun. Karena setelahnya mulai rutin menggunakan CC 201 sebagai lokomotif penarik utama. Tahun 1978, rangkaiannya diganti dengan trainset baru buatan Jepang.

Kereta Eksekutif (K1) juga mulai dibawa meski nggak rutin dan sebatas carteran (sewa). Dekade 1980-an, tepatnya 1984, kereta eksekutif (K1) mulai rutin dibawa. Kereta Api Parahyangan memasuki masa kejayaannya di sini. Dijadikan kereta favorit hingga PJKA mulai rutin menjalankan rangkaian panjang.

Malah sekali waktu pernah membawa 14 kereta ditarik 2 lokomotif CC 201 (double traksi). Waktu itu kereta disewa oleh rombongan wisata salah satu SMA di Bandung. Kereta dengan rangkaian panjang biasa dibawa setiap senin pagi (shubuh) dari Bandung dan kembali lagi jam 9.

Di masa jayanya Kereta Api Parahyangan beberapa kali dipakai sebagai latar dalam film nasional. Namun yang paling membekas ialah Film Teraktor Benyamin (1975) yang dibintangi (alm) H. Benyamin S. dan Hetty Koes Endang.

Menceritakan seorang mahasiswa tingkat akhir, Benny, yang hendak melakukan penelitian di sebuah desa di Priangan Timur. Ceritanya Benny naik Kereta Api Parahyangan dari Stasiun Jakarta Kota ke Stasiun Bandung. Disinilah Benny kembali reunian dengan Hetty (Hetty Koes Endang) teman satu kampusnya tapi beda fakultas.

Setelah turun di Stasiun Bandung, Benny melanjutkan perjalanan dengan kereta lokal menuju Priangan Timur. Kebetulan di tahun produksi film itu lokomotif uap masih beroperasi dan itu digunakan sebagai penarik kereta lokal yang ditumpangi Benny.

Puncak Kejayaan dan Pasang Surut

Kereta Api Parahyangan jadi favorit dan menapaki kejayaan di dekade 1980-an. Namun sejatinya puncak kejayaan sang legenda baru terjadi di era 1990-an. Perubahan dari PJKA ke Perumka diikuti dengan perubahan radikal pada livery kereta.

Dimana livery krem orange (merah putih) berubah jadi biru tua – biru langit untuk kereta eksekutif (K1) dan biru tua – hijau pada kelas bisnis (K2). Sedangkan kereta pembangkit jadi biru total. Lokomotif juga berubah dari krem hijau jadi merah.

Tahun 1992 Perumka merubah tampilan kereta eksekutif menjadi lebih terlihat mewah dan nyaman dengan penambahan fasilitas TV. Di tahun yang sama pula Kereta Api Parahyangan mulai dicoba untuk menempuh waktu 2 jam 21 menit untuk perjalanan pagi dari Bandung ke Jatinegara. Sebagai langkah awal proyek JB250 dimana nantinya Jakarta Bandung hanya 2 jam saja.

Ketika jalur layang Manggarai Jakarta Kota mulai dibuka terbatas, Kereta Api Parahyangan mendapat kehormatan untuk menggunakan jalur tersebut bersama KRL Jabotabek. Khususnya rute yang ke Jakarta Kota.

Puncak kejayaan sang legenda terjadi pada 1993 ketika berhasil menduduki peringkat ke-1 dalam Gapeka 1993. Seiring dialihkannya jalur kereta api Manggarai-Gambir ke jalur layang seluruhnya, rute Kereta Api Parahyangan dipangkas jadi Bandung-Gambir PP. Terhitung sejak saat itu juga perjalanan berakhir dan diberangkatkan dari Stasiun Gambir.

Meski Mencapai Kejayaan di dekade 1990-an, perlu diperhatikan bahwa di dekade ini jugalah terjadi pasang surut Kereta Api Parahyangan. Terlebih pada 31 Juli 1995 atau pada hari jadinya yang ke 22 tahun, Kereta Api Parahyangan justru “dihadiahi” saingan berat dengan nama Argo Gede (JB 250). Layanan baru ini diluncurkan bersama Argo Bromo (JS 950). Sebagai hadiah HUT Kemerdekaan RI ke-50.

KA Argo Gede menawarkan kenyamanan yang jauh lebih tinggi dan waktu tempuh lebih cepat. Nah kehadiran saingan baru ini otomatis memudarkan kejayaan sang legenda. Meski demikian peminatnya tetap ada.

Kereta Api Parahyangan Merugi dan Pensiun

Puncak dari masa-masa sulit sang legenda tentu saja pada saat peresmian Tol Cipularang di tahun 2004. Adanya jalan tol membuat waktu tempuh jadi lebih cepat bahkan bisa kurang dari 3 jam. Sedangkan kereta api pada waktu itu justru 3 jam saja udah bagus. Dengan demikian jelas sudah nggak bakalan kuat bersaing dengan ban karet di jalan tol.

Sebelum ada tol pun layanan Kereta Api Parahyangan telah mengalami penurunan. Terutama penghapusan fasilitas TV di kereta eksekutif (K1) satwa sebagai imbas dari perubahan Perumka ke PT.KA (selanjutnya PT.KAI). Fasilitas ini baru ada lagi di tahun 2015 lewat kebijakan penyeragaman kereta eksekutif. Ditambah lagi keberadaan penumpang berdiri di kereta eksekutif dan kereta pembangkit yang tak 100% steril jelas membuat kenyamanan sang legenda menjadi turun.

Ketika Tol mulai terhubung sepenuhnya di tahun 2004 penumpang Kereta Api Parahyangan mulai pindah ke moda transportasi jalan raya seperti Travel. PT. KAI sempat mencoba mengobral tiket Kereta Api Parahyangan untuk menaikkan lagi okupasinya. Dalam beberapa waktu sempat terdongkrak. Namun lambat laun Travel semakin menjamur bahkan sama-sama memberikan berbagai diskon dan kemudahan.

Kerugian besar nggak bisa dihindari. Penurunan okupasi hingga dibawah 50% pun terus terjadi setiap harinya. Kecuali akhir pekan agak sedikit terdongkrak meski nggak begitu menolong. Sehingga opsi penutupan pun diambil. Dengan berat hati sang legenda harus pensiun sebelum hari jadinya yang ke-39 tahun. Tepat di tanggal 26 April 2010.

Pasca pensiun PT. KAI menggabungkan Parahyangan dan Argo Gede ke dalam satu rangkaian menjadi KA Argo Parahyangan. Keesokan harinya tanggal 27 April 2010 sejarah baru di koridor Jakarta Bandung pun dimulai. Meski telah pensiun, sang legenda Priangan Barat jelas sulit untuk dilupakan. Berbagai kenangan indah banyak tersimpan di kereta itu.

Galeri Foto Kereta Api Parahyangan

Jadwal Perjalanan Per 31 Juli 1971

A. Jakarta Kota – Bandung

R32R34R38
Jakarta Kota (JAKK)06.3010.2415.30
Bandung (BD)09.2813.3518.24

B. Bandung – Jakarta Kota

R33R35R39
Bandung (BD)05.5410.3014.49
Jatinegara (JNG)08.26 / 08.2913.02 / 13.0517.21 / 17.24
Gambir (GMR)08.46 / 08.4913.22 / 13.2517.41 / 17.44
Jakarta Kota (JAKK)09.0313.3917.58

Referensi

  • Anonimus. Legenda Parahyangan.