Kereta Api Yogyakarta Kotagede Hilang dan Terlupakan

Kereta Api Yogyakarta Kotagede Hilang dan Terlupakan

Telusur rel kereta api Yogyakarta Kotagede. Mulai dari Stasiun Ngabean hingga SMPN 9 Yogyakarta. Kecuali sekitaran Ngabean, nggak ada satupun jejak si ular besi tersisa. Hilang dan terlupakan begitu saja.

Pendahuluan

Sebagai destinasi wisata utama dan favorit, Yogyakarta ternyata menyimpan kejayaan si ular besi. Khususnya sebelum Perang Dunia ke-2. Bagaimana transportasi berbasis rel yang dioperasikan NISM menjadi tulang punggung.

Pengembangan Kereta Api di Yogyakarta

Setelah selesai dengan lintas utama Semarang – Vortenslanden, NISM meneruskan pembangunan jaringan kereta api ke wilayah selatan Yogyakarta, khususnya Kabupaten Bantul dan Kulonprogo.

Gambaran Umum Jalur Kereta Api Yogyakarta Kotagede

Dengan Lempuyangan dan Stasiun Ngabean sebagai pijakan. Jalur kereta api dibangun ke Palbapang Bantul hingga Sewugalur Kulonprogo. Kemudian menyusul dari Stasiun Ngabean ke Pundong via Kotagede.

Nah inilah yang mencakup segmen jalur Kereta Api Yogyakarta Kotagede. Mulai dioperasikan pada 15 Desember 1917. Kotagede sebagai bekas ibukota kesultanan Mataram tentu memiliki peranan penting bagi perekonomian.

Keberadaan Pasar Turut Berkontribusi

Disitu terdapat Pasar yang notabene ialah sentra ekonomi. Sehingga membutuhkan moda transportasi yang cepat dan efisien seperti kereta api. Bahkan NISM juga menggunakan standard gaunge 1.435 mm. Disini jelas latar belakangnya ekonomi. Dimana pasar turut berkontribusi

Lanjut ke Plereddan dan Pundong juga Ekonomi

Pembangunan pun nggak cukup hanya ke Stasiun Pasar Gede. Jaraknya ke pusat Kotagede sekitar 1,5 km. Dari situ dilanjut ke Plereddan hingga Pundong dan beroperasi 15 Januari 1919.

Seperti halnya jalur kereta api Yogyakarta Kotagede, segmen Plereddan hingga Pundong juga nggak lepas dari faktor ekonomi. Dimana banyak melewati Pabrik Gula hingga Perkebunan. Jadi kereta api akan memudahkan pengangkutan.

Fase Kemunduran

Sayangnya kedatangan militer Jepang membuyarkan itu semua. Hampir semua jalur kereta api dibongkar dan tinggal sisakan segmen Palpabang saja. Itupun gaunge nya diganti jadi 1.067 mm.

Pasca Kemerdekaan kondisinya makin miris. Puncaknya pertengahan 1980-an seluruh lintas cabang selatan ditutup total. Sehingga tinggal sisakan Lintas Kereta Api Mataram (jalur utama) yang dilayani KRL Joglo.

Saking mundurnya layanan perkeretaapian dalam kota Yogyakarta, bahkan jalur Ngabean – Pasar Gede – Pundong yang telah hilang sejak 1942 seolah terlupakan begitu saja.

Kereta Api Yogyakarta Kotagede : Penelusuran Tanpa Ada Jejak

Mengingat sarananya telah tiada sejak 1942 maka penelusuran pada tanggal 18 November 2022 ini sangat mengandalkan Google Maps. Memperkirakan posisi bekas halte dan stasiun di segmen jalur Kereta Api Yogyakarta Kotagede. Nah seperti apakah kondisinya?

Kereta Api Yogyakarta Kotagede Mulai Stasiun Ngabean

Penelusuran dimulai dari Stasiun Ngabean. Boleh dibilang ini adalah satu-satunya bangunan stasiun yang masih tersisa dan utuh. Walaupun kini telah beralih fungsi menjadi kantor operator shuttle bus wisata Kraton.

Begitupula Ngabean secara umum telah jadi Halte Sentral Bus Transjogja. Juga parkiran bus pariwisata pengangkut turis yang hendak menuju Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat dan sekitarnya, termasuk kawasan KM 0 dan Malioboro.

Stasiun Ngabean sendiri merupakan titik temu antara jalur kereta api menuju Palbapang – Brosot – Sewugalur dan Pasar Gede – Pundong. Meski demikian bukanlah stasiun besar seperti Lempuyangan.

Masih Tersisa Rel Kereta Api hingga Pojok Benteng Kulon

Adapun untuk jalur kereta apinya sendiri masih tersisa dalam kondisi tumbuh tenggelam. Diperkirakan itu telah diganti dengan gaunge 1.067 mm. Jadi boleh dibilang peninggalan Jepang.

Mengingat jalur rel peninggalan Belanda menggunakan standard gaunge 1.435 mm. Namun sejak 1942 hingga dinonaktifkan pertengahan 1980-an telah diganti ke 1.067 mm. Seperti halnya Lintas Kereta Api Mataram dan jalur kereta api lain pada umumnya.

Jalur Kereta Api Yogyakarta Kotagede Dekat Pojok Benteng Kulon

Bekas yang masih nampak itu terus membentang ke selatan arah Halte Dongkelan. Nah di dekat Pojok Benteng Kulon, harusnya rel bercabang ada yang belok ke timur. Inilah jalur kereta api Yogyakarta Kotagede.

Siapa Sangka Dulunya Jalur Kereta Api

Penelusuran telah memasuki kawasan Jalan MT. Haryono yang membentang hingga perempatan Plengkung Nirbaya Gading. Ini adalah gerbang masuk kawasan Kraton via Alun Alun Selatan dan Taman Sari.

Namun siapa sangka sebelah selatan Plengkung Nirbaya tersebut dulunya adalah jalur kereta api. Entah di Jalan MT. Haryono atau masih agak sedikit ke selatan lagi. Melalui Jalan D.I. Panjaitan. Susah juga ya karena rel nya hilang.

Jalur Kereta Api Yogyakarta Kotagede – Halte Timuran

Nah dari perempatan Plengkung Nirbaya itu nama jalannya berganti jadi Jalan Mayjen Sutoyo sampai Pojok Benteng Wetan atau perempatan Jalan Parangtritis. Disinilah kawasan Timuran berada.

Dimana dulu terdapat Halte Timuran. Namun lagi-lagi yang didapat hanya perkiraan. Karena itu tadi rel nya udah nggak ada. Bekas-bekasnya beneran hilang bak ditelan bumi. Perkiraan sih agak selatan sedikit.

Lanjut Naik Teman Bus K2J

Penelusuran ternyata nggak bisa sepenuhnya dilakukan dengan berjalan kaki. Secara udah lumayan juga ya dari Stasiun Ngabean sampe Pojok Benteng Wetan dan Perempatan Jalan Parangtritis.

Juga demi menghemat waktu akhirnya diputuskan lanjut menggunakan Bus. Kebetulan untuk menuju SMPN 9 Yogyakarta yang dulunya Stasiun Pasar Gede bisa ditempuh dengan naik Teman Bus K2J jurusan Condong Catur.

Singkat cerita naiklah dari Halte Kolonel Sugiono 1 Pojosukuman. Nah sekarang telah berada di Jalan Kolonel Sugiono. Duh beda-beda ya nama jalannya dari awal penelusuran tadi.

Halte Sidikan, Nggak Jauh dari XT Square

Penelusuran Jalur kereta Api Yogyakarta Kotagede dilanjutkan menggunakan Teman Bus K2J. Nah di sini menyeberangi Jembatan Tungkak di atas Kali Code sebelum masuk kawasan XT Square.

Sampai perempatan Taman Siswa jalannya berubah nama lagi jadi Menteri Supeno. Masuk XT Square jika diteruskan lagi-lagi berubah nama Perintis Kemerdekaan. Namun bus K2J belok ke Jalan Veteran dan masuk lagi ke Perintis via Gambiran.

Padahal bila terus lurus lewat depan XT Square (Jalan Perintis Kemerdekaan) ada belokan ke kanan yakni Jalan Sidikan. Diperkirakan Halte Sidikan posisinya dulu di situ. Nggak begitu jauh lah dari XT Square

Menyeberangi Sungai Gajah Wong dan Tiba di SMPN 9 Yogyakarta

Kembali masuk Jalan Perintis Kemerdekaan, menyeberangi Jembatan Gajah Wong Pandeyan atau Winong di atas Sungai Gajah Wong. Terdapat halte Ngeksigondo Diklat PU. Nah jalannya berubah lagi nih jadi Ngeksigondo.

Akhirnya tibalah di Halte SMPN 9 Yogyakarta di Basen kecamatan Kotagede. Nah siapa sangka ternyata bangunan sekolahan ini dulunya adalah Stasiun Pasar Gede. Walaupun jarak dengan Kotagede nya masih sekitar 1,5 km lagi arah selatan.

Tapi yang jelas secara administrasi ini udah masuk kecamatan Kotagede. Penelusuran pun otomatis selesai di sini. Jelas banget hanya mengandalkan maps dan perkiraan aja. Tanpa ada satupun bekas-bekas jalur kereta api Yogyakarta Kotagede.

Kereta Api Yogyakarta Kotagede Benar-Benar Terlupakan

Dari penelusuran ini terlihat jelas bahwa peninggalan NISM ini telah benar-benar terlupakan. Bahkan Stasiun Ngabean sebagai titik awal aja udah berubah jadi tempat bus.

Juga Stasiun Pasar Gede di Kecamatan Kotagede sekarang jadi SMPN 9 Yogyakarta. Lebih dikenal sebagai sekolahan. Alih-alih sebagai bekas stasiun kereta api. Bangunannya aja nggak ada dan full gedung sekolahan.  

Makanya nggak usah heran bila banyak yang bingung dan heran bila kita katakan bahwa dulu pernah ada kereta api menuju Kotagede. Nah sekarang mau ke Kotagede naiknya Bus Transjogja 3A.

Malah dengan bus itu langsung menuju Kotagede nya. Kalo mau ngikutin jalur kereta api sih naiknya Teman Bus K2J lalu turun di Halte SMPN 9 Yogyakarta. Percis di depan sekolahan bekas Stasiun Pasar Gede.

Kesimpulan

Nyaris tanpa jejak apapun di jalur Kereta Api Yogyakarta Kotagede. Terutama sejak dari Pojok Benteng Kulon hingga ke titik akhir penelusuran yakni SMPN 9 Yogyakarta yang dulunya bekas Stasiun Pasar Gede.

Rel tersisa hanya di sekitaran Stasiun Ngabean hingga Pojok Benteng Kulon itu tadi. Itupun udah nggak asli lagi karena telah dirubah dari 1.435 mm ke 1.067 mm sejak kedatangan militer Jepang tahun 1942.

Tiadanya jejak maupun bekas rel kereta api membuat orang akan heran bila kita mengatakan dulu ada kereta api ke Kotagede. Karena sekarang ke sana bisa naik bus Transjogja 3A. Kalo mau ikutin bekas rel naik Teman Bus K2J. Jadi benar-benar hilang dan terlupakan begitu saja.

Galeri Foto