01 Kereta Solo Surabaya

Kereta Solo Surabaya (Bandung Malang Part 4)

Bukan spesifik Kereta Solo Surabaya secara fisik rangkaiannya. Ini masih merupakan bagian dari Trip Bandung Malang. Naik KA Argo Wilis, ada momen apa aja nih di bagian ini?

Pendahuluan

Sebelumnya kita telah melewati 3 fase perjalanan naik KA Argo Wilis. Pertama dari Bandung ke Cilacap. Lanjut Cilacap ke Jogja. Selepas itu Vortenslanden atau di lintas Jogja Solo.

Sekarang kita memasuki fase ke-4 sebelum transit. Perjalanan KA Argo Wilis akan berakhir di Stasiun Surabaya Gubeng. Namun perjalanan kita belum akan berakhir di sana. Because, our last destination is Malang.

Kejadian Tak Terduga

Dalam traveling banyak hal-hal tak terduga yang muncul. Nggak sedikit pula yang nggak disadari sama sekali. Contohnya di trip naik KA Argo Wilis ini nggak nyadar ketinggalan charger handphone. Juga mengalami kejadian memory card rusak.

Tertinggal Bekal Minuman

Pada KA Bandung Malang 1 : Dari Bandung ke Cilacap awalnya semua berjalan lancar. Meskipun tersadar ketika berada di sekitaran Nagreg tertinggal salah satu bekal minuman.

Memory Card Error: Kroya-Yogyakarta Blank

Sayangnya begitu masuk Kroya dan ada warning bahwa memory hp full, otomatis memindahkan data-data fase ke-1 itu tadi ke memory card. Nah disinilah kejadian tak terduga berawal. Hampir semua data yang telah diambil mengalami kerusakan.

Puncaknya di fase Cilacap Jogja Kereta (KA Bandung Malang 2). Nggak satupun data-data terutama dari Kroya hingga Yogyakarta yang selamat. Mode simpan telah dialihkan ke memory card itu tadi yang ternyata error. Beneran blank di sini.

Mengorbankan Data-Data Lawas, Tapi

Baru ketika fase ketiga yakni Lintas Kereta Api Mataram (KA Bandung Malang 3) mode penyimpanan back to default. Dengan mengorbankan data-data lawas yang dialihkan ke memory card.

Sayangnya ada satu lagi yang nggak disadari. Charger handphone tertinggal di Bandung. Waduh, gawat sih kalo udah begini, mana batere udah kepake separuh lagi sejak dari Bandung.

Batere Handphone Sekarat

Nah di fase ke-4 kali ini dramanya batere handphone sekarat. Di saat yang sama baru tersadar bahwa charger nggak terbawa. Otomatis mesti beli charger baru ketika transit di Surabaya nanti.

Gimanapun caranya handphone jangan sampe mati. Karena itu vital banget. Bukan sekedar komunikasi dengan keluarga, kerabat, dan teman-teman di kota asal. Tapi juga buat pembayaran, order transportasi online, hingga scan Peduli Lindungi.

Apalagi nyampe di Malang udah lewat tengah malam sedikit. Mau nggak mau harus naik online ke penginapan. Nah kalo handphone nggak jalan itu gawat urusannya. Bisa mati kutu dah itumah.

What’s Next?

Begitu tau kondisinya begitu lantas apa nih solusinya? Sedangkan ini baru separuh dari perjalanan menuju kota transit Surabaya. Masih harus lanjut lagi naik Kereta Api Tumapel ke Malang.

Apa aja nih momen selain “senam jantung” gegara batere handphone sekarat? Berikut penjelasan selengkapnya. Yuk disimak!

Kereta Solo Surabaya, Aslinya Buaaanyak Banget!

Kereta Solo Surabaya jelas ada. Banyak banget malah. Memang sih startnya nggak dari Solo-nya langsung. Itu juga beberapa destinasi akhirnya bukan Surabaya. Ada yang Jember dan Ketapang.

Namun dalam konteks ini Kereta Solo Surabaya nya jelas KA Argo Wilis. Rute aslinya Bandung – Surabaya Gubeng PP. Pernah jadi nomor 1 di Gapeka 2019 namun nggak bertahan lama. Keburu dihantam Pandemi Covid-19.

Menyaksikan Kemegahan Masjid Muhammad Bin Zaid

Selepas KA Argo Wilis meninggalkan Stasiun Solo Balapan, saat itu pula fase ke-4 yakni Kereta Solo Surabaya dimulai. Nah dari situ kitab isa menyaksikan kemegahan Masjid Muhammad Bin Zaid yang baru selesai dibangun.

Percabangan ke Semarang

Namun masjid belum dibuka. Uniknya posisi masjid berada tepat di titik percabangan jalur Solo Semarang. Di dua sisinya pula. Pertama di sisi Solo Balapan. Satunya lagi mengarah ke Stasiun Solo Jebres.

Hal ini terbilang unik. Berbeda dengan percabangan lintas utama lainnya semisal ke Garut dan Cilacap yang hanya satu. Ini ada dua sebenarnya nggak lepas dari masa lalunya.

Efek Dulu Beda Perusahaan NISM dan SS

Seperti kita ketahui, percabangan dari Solo Balapan ke Semarang merupakan bagian dari jalur kereta api pertama di Indonesia yang dibangun NISM (Nederlandsch Indische Stroomtram Maatschappij), perusahaan swasta.

Adapun percabangan dari Semarang ke Solo Jebres itu dibangun oleh Staat Spoorwegen (SS). Makanya ketika jalur kereta api dari Priangan tersambung hingga Surabaya, itu belum ada kereta api langsung.

Begitu tiba di Stasiun Yogyakarta harus ganti kereta NISM dulu karena melewati lebar spoor 1.435 mm. Setibanya di Solo Balapan balik lagi naik kereta SS sampe Surabaya. Ketika itu percabangan dari jalur Semarang ke Solo Jebres belum ada.

Sungai Bengawan Solo

Nggak lama berselang sebelum melintas langsung Stasiun Solo Jebres, KA Argo Wilis menyeberangi Sungai Bengawan Solo. Kali ini nampak debit air sungainya lagi surut. Inilah sungai terpanjang di Pulau Jawa.

Kecuali Stasiun Solo Balapan, KA Argo Wilis melintas langsung di semua stasiun yang berada di wilayah Solo Raya. Termasuk Stasiun Palur, titik akhir KRL Joglo, dan Stasiun Sragen.

Kereta Solo Surabaya Bablas Ngawi dan Nganjuk

Berikutnya Kereta Solo Surabaya memasuki wilayah Ngawi. Di sini jalur kereta api agak dekat dengan Jalan Tol Solo Kertosono yang jadi bagian dari Tol Trans Jawa. Namun lagi-lagi nggak ada pemberhentian di daerah Ngawi.

Padahal di sini terdapat dua stasiun penting yakni Stasiun Walikukun dan Stasiun Ngawi. Begitupula ketika KA Argo Wilis melintas wilayah Nganjuk, nggak ada pemberhentian bahkan di Stasiun Nganjuk.

Berhenti di Stasiun Madiun

Kereta Solo Surabaya, KA Argo Wilis, siap-siap memasuki Stasiun Madiun. Nah kereta baru berhenti di sini setelah dari Stasiun Solo Balapan tadi. Ada hal unik sebelum masuk Stasiun.

Sebuah sungai besar lebih dulu diseberangi. Awalnya mengira bahwa ini adalah Sungai Bengawan Solo juga. Namun setelah diteliti lebih jauh, ternyata Kali Madiun. Masih anak Sungai Bengawan Solo. Tapi ukurannya memang lebar.

KA Argo Wilis melintas JPL lebih dulu dan setelah itu baru berhenti di Stasiun Madiun. Stasiun ini bersebelahan dengan PT. INKA Madiun. Di sebelah kiri terdapat KA Ketel Pertamina ditarik loko CC 206 mengarah ke barat.

Dokumentasi Foto Terakhir

Nah pemberhentian di Stasiun Madiun ini menjadi akhir dari dokumentasi foto. Lho kenapa? Bukannya perjalanan masih jauh dan akan singgah di 3 stasiun lagi? Betul, tapi batere udah nggak bisa diajak kompromi.

Batere Dah Napas Terakhir

Kondisi batere handphone beneran udah masuk napas terakhir. Nggak bisa lagi mengaktifkan paket internet. Begitupula dengan kameranya. Nggak bisa lagi mengambil foto. Otomatis beralih ke safe mode.

Balik ke 20 Tahun Lalu

Kereta Solo Surabaya, KA Argo Wilis, berangkat dari Stasiun Madiun jam 16.08 WIB. Berhenti selama kurang lebih 7 menit. Dengan handphone yang hanya fungsi dasar saja (telepon dan SMS) maka itu seperti balik lagi ke 20 tahun lalu.

Kondisi yang harus dihadapi sampai tujuan akhir Stasiun Surabaya Gubeng. Hmm bakalan cemberut nih? Abis mau gimana ya? Beginilah kalo tertinggal charger dalam kondisi perjalanan di atas 5 jam.

Kali ini yang ada di pikiran hanya satu. Begitu nyampe di Surabaya nanti kudu buruan nyari toko hp untuk membeli charger. Nggak perlu mahal-mahal. Nggak usah ori punya juga. Pokoke yang kompatibel aja lah.

Kereta Solo Surabaya Tiba di Jalur KA Penataran Dhoho

Meski lebih banyak bengong dan paling ditemani entertainment yang masih aktif dari laptop, perjalanan tetap masih bisa dinikmati. Kondisi seperti itu jelas nggak bisa mengambil foto lagi.

Jam 16.51 KA Argo Wilis tiba di Stasiun Kertosono. Kini Kereta Solo Surabaya telah memasuki jalurnya KA Penataran Dhoho. Di sini juga kereta menyeberangi Sungai Brantas.

KA Argo Wilis berangkat lagi jam 16.56. Itu artinya berhenti 5 menit di Kertosono. Selepas stasiun itu sempat menyaksikan ada counter handphone. Tekad untuk mencarinya di Surabaya semakin menguat.

Kereta Solo Surabaya di Jombang dan Mojokerto

Jam 17.08 WIB KA Argo Wilis tiba di Stasiun Jombang. Berhenti selama kurang lebih 4 menit. Kemudian singgah lagi di Stasiun Mojokerto (17.28 – 17.32 WIB). Ini adalah pemberhentian terakhir sebelum Stasiun Surabaya Gubeng.

Uniknya ketika di Stasiun Mojokerto, masih ada penumpang naik. Sepertinya hendak menuju Surabaya menggunakan tarif khusus. Memilih KA Argo Wilis daripada kelamaan nungguin Lokalan. Bisa jadi begitu.

Tiba di Stasiun Surabaya Gubeng

Setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih 10 jam dari Stasiun Bandung, KA Argo Wilis akhirnya tiba di tujuan akhir Stasiun Surabaya Gubeng. Tepat di jam 18.08 WIB.

Batere masih tersisa 3% lagi. Nah sesuai perhitungan masih bisa mengambil beberapa foto di sini. Udah itu nggak ada hal lain yang dipikirkan. Hanya ada satu, segera cari counter hp dan beli charger!

Perjalanan juga belum selesai. Di Surabaya hanya transit. Selanjutnya ialah fase akhir menuju Kota Malang. Menggunakan Kereta Api Tumapel yang legendaris itu. Kini menjadi sapujagad.

Berapa Lama Perjalanan Kereta Solo Surabaya?

Balik lagi ke Kereta Solo Surabaya, dengan KA Argo Wilis perjalanannya ditempuh selama kurang lebih 3 jam saja. Tiba di Stasiun Solo Balapan jam 15.01 WIB dan berangkat jam 15.06 WIB.

Kalo dihitung dengan kedatangan di Stasiun Surabaya Gubeng yakni 18.08 WIB berarti keseluruhan perjalanan tersebut ditempuh dalam waktu 3 jam 2 menit. Dengan hanya berhenti di Madiun, Kertosono, Jombang, dan Mojokerto.

Kesimpulan

Perjalanan Kereta Solo Surabaya ini merupakan bagian dari trip KA Bandung Malang (Fase-4). Masih dengan drama memory card error ditambah batere handphone yang sekarat.

Karena itu mesti mengaktifkan Safe Mode yang artinya hanya bisa telepon dan SMS. Supaya bisa awet sampai tiba di Surabaya. Konsekuensinya jelas hanya bisa mendapatkan hiburan dari laptop saja tanpa internet.

Perjalanan Kereta Solo Surabaya ditempuh dalam waktu 3 jam 2 menit dengan pemberhentian hanya di Madiun, Kertosono, Jombang dan Mojokerto. Adapun jika ditotal dari Bandung kurang lebihnya 10 jam.

Tentunya masih belum berakhir. Mengingat tujuan akhir perjalanan ialah Stasiun Malang. Sambil menunggu Kereta Api Tumapel, lebih dulu membeli charger handphone karena sudah mendesak.

Galeri Foto