krl ekonomi rheostatik pelopor modernisasi kereta perkotaan

KRL Ekonomi Rheostatik Pelopor Modernisasi Kereta Perkotaan

KRL Ekonomi Rheostatik hadir ketika transportasi perkotaan berada di titik nadir. Ini sekaligus modernisasi sarana kereta yang telah ada sejak 1929. Kini armadanya telah diistirahatkan di Purwakarta dan digantikan unit baru.

Pendahuluan

Sejarah panjang transportasi kereta api perkotaan khususnya berbasis KRL telah ada sejak 1929. Ketika pemerintah kolonial melalui Electrische Staats Spoorwegen (ESS) mengoperasikan perdana unit KRL dari Tanjung Priok ke Jatinegara (dulu Mester Cornelis).

Waktu itu ESS mengoperasikan lokomotif listrik yang dikenal dengan nama Bon Bon dan unit kereta listrik bermotor (EMU) sedikit mirip KRL sekarang. Kereta tersebut kebanyakan masih beroperasi hingga setelah Indonesia merdeka.

Namun sayang memasuki dekade 1960-an perkeretaapian Indonesia berada di titik nadir sebagai dampak dari instabilitas politik waktu itu. Bahkan KRL sampai tak bisa beroperasi di jalur KRL Manggarai Jakarta Kota. Dampak dari pemutusan LAA dari Gondangdia hingga Sawah Besar demi pembangunan Monas.

Praktis memasuki awal 1970-an tinggal di lintas Bogor aja (bagian dari Jalur KA Manggarai Padalarang) yang masih mengoperasikan unit kereta listrik, khususnya lokomotif Bon Bon. Bahkan unit EMU udah nggak jalan lagi.

KRL Ekonomi Rheostatik Kembalinya Kereta Listrik

Tahun 1976 pemerintah melalui Perusahaan Jawatan Kereta Api (PJKA) mulai mendatangkan unit KRL Ekonomi Rheostatik buatan Nippon Sharyo Jepang, bersama beberapa unit KRD, sebagai komitmen untuk modernisasi transportasi kereta perkotaan.

Angkatan pertama yang datang itu masih menyesuaikan dengan kondisi stasiun yang kebanyakan masih peron rendah. Dengan empat pintu masing-masing 2 kanan dan 2 kiri. Tempat duduknya juga disesuaikan membelakangi jendela dengan menyisakan space luas di tengah untuk penumpang berdiri.

Kembalinya kereta listrik di Lintas Kereta Api Jakarta menjawab kerinduan sekaligus kebutuhan masyarakat saat itu. Pasalnya sebelum kereta listrik ada lagi untuk keperluan komuter masih sangat mengandalkan angkutan jalan raya, terutama bus. Tentu saja kondisinya sangat penuh di jam sibuk.

KRL Ekonomi Rheostatik Mild Steel dan Stainless Steel

Batch pertama yang didatangkan tahun 1976 menggunakan rangka baja ringan (mild steel). Unit ini masih terus didatangkan tahun 1978, 1983 dan 1984. Semula KRL beroperasi sampai Stasiun Depok. Setelah dilakukan perbaikan sarana dan prasarana akhirnya lanjut sampai Bogor.

KRL Ekonomi Rheostatik beroperasi sebanyak 1 set per rit nya. Dimana 1 set itu terdiri dari 4 kereta. Kabin masinis berada di ujung rangkaian. Sehingga waktu kereta tiba di tujuan akhir nggak perlu lagi transit. Cukup masinis nya aja yang pindah.

Tahun 1986 PJKA kembali datangkan rangkaian KRL namun kali ini berbody Stainless Steel. Karakteristik baja lebih kuat daripada batch sebelumnya. Bahkan ada beberapa unit yang diupgrade jadi kelas bisnis hingga eksekutif ber-AC. Oh iya sedikit info semua KRL yang didatangkan itu tanpa AC ya

Balik lagi ke sini, rata-rata didatangkan dalam bentuk Compeletely Built Up (CBU). Namun ada juga unit stainless steel tahun 1987 yang didatangkan hanya berbentuk komponen. Untuk selanjutnya dirakit di PT INKA Madiun.

KRL Ekonomi Rheostatik Awet Beroperasi 38 Tahun

Seiring waktu memang banyak KRL yang didatangkan dari Pabrikan Eropa (BN Holec) dalam wujud komponen dan dirakit di PT INKA Madiun. Khususnya di awal dekade 1990-an. Sayang usia operasional nggak bisa bertahan lama dan sering alami kerusakan.

Kalopun ada angkatan 90-an yang awet itu KRL Hitachi 1997. Sama juga dirakit di PT INKA Madiun, trainset ini biasa beroperasi di jalur yang sekarang merupakan bagian Cikarang Line. Sehingga menjadikannya image KRL Orang Bekasi.

Praktis KRL Ekonomi Rheostatik menjadi andalan utama dalam tugasnya memenuhi kebutuhan komuter masyarakat Jabodetabek. Bersama KRL Hitachi yang kadang diperbantukan di KRL Manggarai Jakarta Kota dan jalur KA Manggarai Padalarang segmen Bogor.

Seiring berjalan waktu, KRL AC bekas dari Jepang terus didatangkan. Hingga akhirnya pada 2014 seluruh rangkaian KRL Non AC harus purnatugas. Tak terkecuali Rheostatik yang telah dinas selama 38 tahun (1976 – 2014).  

Berakhir di Stasiun Purwakarta

Saat ini seluruh unit non AC termasuk KRL Ekonomi Rheostatik status afkir dan telah ditanahkan di Stasiun Purwakarta. Bagian dari Jalur KA Cikampek Padalarang tersebut menjadi akhir dari perjalanan panjang icon modernisasi kereta perkotaan.

Peninggalan sejarah ini masih bisa kita temui di Stasiun Purwakarta. Terutama bila kamu menumpang KA Argo Parahyangan, Serayu, dan Kereta Api Cikuray. Semua beroperasi di koridor Jakarta – Bandung hingga Garut. Pastinya akan melewati Jalur KA Cikampek Padalarang. Sebagian memang telah dirucat. Namun masih ada yang utuh. Misalnya buatan tahun 1976.

Kesimpulan

KRL Ekonomi Rheostatik merupakan ikon modernisasi transportasi kereta perkotaan. Mengembalikan sarana kereta listrik yang sangat dirindukan masyarakat pada tahun 1976. Sebelumnya mobilitas komuter masih bergantung pada bus. 

Awalnya unit yang didatangkan berbody mild steel. Tahun 1986 mulai pakai Stainless Steel. Sampai dengan 38 tahun kereta ini tetap setia beroperasi melayani masyarakat Jabodetabek. Kini semuanya telah ditanahkan di Stasiun Purwakarta.

Galeri Foto