Moda Transportasi Impian Warga Bandung

Moda Transportasi Impian Warga Bandung

Di hari Kota Bandung ke 212 warganya punya moda transportasi impian yakni Kereta Api. Keberadaan KA Lokak Bandung Raya dan Garut Cibatuan dirasa belum cukup. Maunya sih semisal MRT dan LRT. Untuk jangka pendek seperempatnya bisa dijawab oleh Double Track.

Nggak salah bila memandang kereta api sebagai transportasi pilihan untuk jangka panjang dalam membangun sebuah peradaban. Buktinya banyak negara yang telah menjadikannya sebagai backbone transportasi umum. Bukan hanya itu aja tapi juga terintegrasi.

Entah karena kebijakan yang salah atau gimana, di Indonesia terutama Kota Bandung malah minim transportasi umum layak. Jangankan kereta api, bus aja yang kelihatannya simple masih sangat kurang.

Pilihanpun hanya tersisa angkot dengan kondisi yang jauh dari layak. Bahkan karena jumlahnya yang terlalu banyak ikut menjadi penyumbang kemacetan parah. Disamping kendaraan pribadi. Banyaknya kendaraan pribadi diakibatkan minimnya transportasi umum layak.

Kota Bandung Sejatinya Telah Punya Jaringan Kereta Api

Jika ditarik mundur ke belakang, khususnya di era kolonial, Kota Bandung yang kini telah berusia 212 tahun udah punya jaringan rel kereta api. Awalnya mungkin hanya sebatas lintas utama.

Pertama, jalur kereta api Batavia Bandung hingga Cicalengka selesai pada tahun 1884. Disusul kemudian jalur kereta api Cicalengka Garut 5 tahun kemudian. Memasuki era 1900-an, mulailah pembangunan lintas-lintas cabang menuju kawasan pedalaman di selatan.

Ambil contoh Jalur KA Bandung-Ciwidey dan Jalur KA Dayeuhkolot-Majalaya. Lintas kedua adalah bagian dari Jalur KA Bandung-Ciwidey. Jadinya lintas cabang yang punya percabangan lagi ke Majalaya.

Berikutnya ialah Jalur KA Rancaekek Tanjungsari. Nah untuk yang ini rencana awalnya akan diperpanjang hingga Majalengka dan Cirebon. Namun batal akibat krisis ekonomi di negeri Belanda yang efeknya dirasakan koloninya.

Nggak hanya itu, di dalam kota pun sejatinya ada jaringan rel kereta api. Taruh aja salah satunya Jalur KA Kiaracondong Karees. Ini adalah percabangan langsung mengarah ke sentra ekonomi, Pasar Kosambi. Juga ke Dipo Pertamina Samoja (di kemudian hari pindah ke Padalarang).

Untuk akses ke Pasar Kosambi nggak hanya memanfaatkan Jalur KA Kiaracondong Karees. Tetap juga lintasan khusus yang terhubung langsung ke jalur utama. Saat ini telah menjadi jalan pemukiman warga sekitar Jalan Baranangsiang.

Sejumlah percabangan juga dibangun menghubungkan jalur utama dengan kawasan pabrik dan pergudangan. Seperti di dekat JPL Braga yang dulunya pergudangan. Sekarang gudangnya udah jadi Gedung Bank Mandiri. Adapun lainnya terdapat di daerah Ciroyom. Terhubung ke Pasar Andir.

Sayangnya keberadaan jalur rel kereta api di dalam kota itu harus tergerus oleh perkembangan zaman. Bahkan ada yang udah non-aktif bersamaan dengan datangnya Kekaisaran Jepang di tahun 1942-1945 (Penjajahan Jepang).

Memasuki Dekade 1970-an dan puncaknya di 1980-an, akhirnya semua percabangan dan jaringan rel kereta api di dalam kota Bandung pun ditutup. Telah terjadi pergeseran dari ban besi menjadi ban karet. Di era itulah namanya angkot udah mulai marak.

Daya angkutnya memang jelas lebih kecil. Tapi masyarakat waktu itu memandang ada keunggulan dari segi efisiensi. Karena bisa mengantar langsung ke tujuan akhir. Misalnya ke perumahan. Beda dengan kereta api yang hanya stasiun ke stasiun.

Sekarang Jadi Moda Transportasi Impian

Maraknya angkutan jalan raya ternyata dibarengi dengan pembelian kendaraan pribadi secara besar-besaran. Dampaknya kemacetan terjadi dan makin parah setiap tahunnya.

Sementara pertumbuhan jalan di Kota Bandung boleh dibilang stagnan. Jadi nggak seimbang dengan pertumbuhan jumlah kendaraan roda empat. Makanya nggak usah heran kemacetan parah kerap terjadi di jam sibuk dan hari-hari libur.

Hingga akhirnya masyarakat merindukan Kereta Api sebagai Moda Transportasi Impian. KA Lokal Bandung Raya dan KA Garut Cibatuan yang kini jadi kereta komuter Bandung dirasa masih belum cukup memenuhi ekspektasi tersebut.

Kereta Perkotaan Semisal MRT dan LRT

Moda Transportasi Impian Warga Bandung memang si ular besi. Meski telah ada dua rangkaian lokalan tadi yang sekarang beroperasi reguler itu dirasa belum cukup. Apalagi KA Lokal Garut Cibatuan malah lebih cocok dibilang jarak menengah ketimbang komuter.

Kereta Api sebagaimana moda transportasi impian Warga Bandung tentu saja kereta perkotaan (urban railway). Semisal MRT dan LRT yang telah ada di Jakarta. Wacananya memang udah lama. Bahkan pernah ada wacana Metro Capsule juga. Sejenis LRT gitu.

Namun wacana tinggalah wacana. Makin kesini moda transportasi impian tersebut semakin dirindukan warga. Dinas terkait juga bukannya diam aja. Telah ada semacam roadmap urban railway untuk kota Bandung dan sekitarnya. Sebagai pelengkap dua rangkaian lokalan yang telah ada.

Roadmap tersebut berbentuk LRT yang akan dipusatkan di Leuwipanjang. Bahkan bukan hanya di dalam Kota Bandung, tapi juga menjangkau hampir seluruh Bandung Raya. Hingga ke Cikalong Wetan di sisi barat dan Majalaya di timur.

Double Track Bandung Sedikit Menjawab Moda Transportasi Impian

Adapun untuk jangka pendek, saat ini Double Track Bandung telah jadi di segmen Gedebage-Haurpugur. Tinggal menghubungkan Kiaracondong-Gedebage dan Haurpugur-Cicalengka.

Manakala Double Track Bandung ini jadi dan beroperasi seluruhnya, headway KA Lokal Bandung Raya bisa lebih pendek daripada sekarang. Artinya seperempat dari Moda Transportasi Impian Warga Bandung telah terealisasi.

Meskipun telah ada, namun kendalanya ada di headway.

Selama ini headway KA Lokal Bandung Raya paling cepat itu 30 – 45 menit. Kalo delay bisa aja nyampe 1 jam. Lantaran Lintas Kiaracondong-Cicalengka masih single track.   

Galeri Foto