Update Terkini

1 2 3

Trainset dan Lintas Kereta Api

Trainset disebut juga rangkaian kereta api. Baik itu untuk angkutan penumpang dan barang. Jadi satu rangkaian penuh ditarik oleh lokomotif. Bisa juga dalam beberapa kasus tanpa lokomotif seperti rangkaian KRL dan KRD, di negara kita masih jamak dipakai untuk kereta komuter dan perintis. Kecuali Whoosh ya, itu terhitung KA Jarak Jauh.

Lintas kereta api adalah nama lain dari jalur kereta api yang menghubungkan satu tempat dengan tempat lainnya. Semakin banyaknya hubungan maka akan membentuk semacam jaringan rel kereta api.

Lintas tak bisa berdiri sendiri tanpa ada sarana lainnya seperti jembatan, terowongan, dan tentu saja pemberhentian. Ditambah lagi sistem persinyalan untuk keamanan dan keselamatan perjalanan kereta. Sama juga di jalan raya yang harus ada rambu lalu lintas. Tanpa ada itu semua bisa kacau dan risiko terjadi malapetaka.

Pertanyaan di sini, kenapa trainset dan lintas dijadikan satu? Bukannya itu dua hal yang berbeda meski sama-sama sarana penting perkeretaapian?

Rangkaian kereta baik yang ditarik lokomotif maupun modelan KRL dan KRD tentu membutuhkan sarana rel agar bisa berjalan. Karena kereta api nggak bisa berjalan di jalan raya beraspal layaknya moda transportasi jalan raya seperti bus dan kendaraan bermotor lainnya. Inilah alasan mengapa keduanya disatukan dalam satu pokok bahasan.


Trainset atau Rangkaian Kereta (gerbong)

Trainset adalah nama lain dari rangkaian kereta. Bisa berupa untuk angkutan penumpang atau barang. Nah terkhusus barang itu dinamakan gerbong. Jadi ini juga bisa berarti rangkaian gerbong. Tergantung peruntukkan rangkaian kereta api yang dioperasikan. Apakah itu untuk mengangkut orang atau barang. Dalam kondisi tertentu juga kerap dijumpai adanya rangkaian campuran antara penumpang dan barang. Bila dijumpai hal seperti ini biasanya “rangkaian kereta” yang dipakai. Seperti pada kasus KA Malabar yang membawa 2 gerbong barang, atau pada kasus Ganevo Ekspres di Sumatera Barat dulu.

Trainset Listrik : KRL Commuter Line, LRT, MRT, hingga Whoosh

Selain rangkaian kereta atau gerbong yang ditarik lokomotif, ada juga kereta bertenaga listrik. Disebut EMU (Electrical Multiple Unit) atau KRL (Kereta Rel Listrik). Membutuhkan listrik aliran atas atau bawah agar kereta bisa berjalan.

Meskipun ada lokomotif bertenaga listrik, di Indonesia kereta listrik hingga kini masih sebatas untuk angkutan penumpang. Lebih dari itu 99% masih merupakan layanan perkotaan atau komuter. Bukan lokomotif melainkan rangkaian kereta yang satu set biasanya terdiri dari 4 hingga 8 kereta dengan kabin masinis berada di ujung rangkaian.

Untuk angkutan perkotaan atau komuter saat ini kita mengenal KRL Commuter Line, MRT Jakarta, dan dua LRT yakni Jabodebek dan Jakarta (JakPro). Dua pertama menggunakan mekanisme listrik aliran atas untuk menggerakkan kereta. Sedangkan LRT listriknya berada di bawah menyatu dengan rel. Inilah yang masih mendominasi perkeretaapian di Indonesia.

Namun ada pengecualian 1% yakni Whoosh atau Kereta Cepat yang belum lama ini dioperasikan melayani rute Jakarta Bandung. Ini adalah kereta listrik pertama di Indonesia yang melayani perjalanan jarak jauh atau KAJJ. Whoosh ini juga menggunakan listrik aliran atas (LAA). Karena itu sekarang kalo ada orang tanya KRL itu mesti diperjelas KRL mana dulu nih. Apakah Commuter Line, LRT, MRT Jakarta, atau malah Whoosh.

Kereta Rel Diesel (KRD) : Bandara, Feeder, Komuter, dan Perintis

Trainset lainnya yang berjalan tanpa lokomotif adalah Diesel Multiple Unit (DMU) atau Kereta Rel Diesel (KRD). Sama seperti KRL kabin masinis berada di ujung rangkaian. Bedanya yang ini menggunakan mesin diesel.

Populasi KRD saat ini masih beroperasi di lintas yang belum terelektrifikasi. Layanannya pun pada dasarnya hampir semua angkutan perkotaan. Walapun ada yang beroperasi sebagai kereta bandara seperti di Medan, Solo, dan Yogyakarta. Ada juga yang dinas Feeder untuk mendukung operasional Whoosh. Selebihnya adalah layanan komuter.

Terdapat pula yang difungsikan sebagai kereta perintis yakni Cut Meutia di Aceh dan Batara Kresna di Solo. Untuk Batara Kresna menggunakan model Railbus yang trainset nya terdiri dari 3 kereta. Namun bila unit tersebut dalam perawatan atau mengalami trouble biasanya digantikan rangkaian KRDE yang biasanya dinas Bandara.


Lintas Berikut Jembatan, Persinyalan, dan Terowongan

Rangkaian kereta api nggak akan bisa bekerja tanpa adanya jalur rel kereta yang dinamakan lintas. Begitupula lintas nggak akan aman tanpa ada jembatan, terowongan, dan sistem persinyalan.

Trainset atau rangkaian kereta api membutuhkan sarana agar bisa beroperasi. Karena dia bukanlah kendaraan bermotor di jalan raya. Kereta api membutuhkan jalur khusus. Nah jalur khusus itulah dinamakan rel.

Dari rel terbentuk jalur kereta api menghubungkan dua hingga beberapa titik. Inilah yang dinamakan lintas.

Apakah berhenti sampai disitu? Ternyata lintas aja belum cukup. Ketika harus menyeberangi sungai atau lembah dibutuhkan sarana yang namanya jembatan. Untuk menembus gunung membutuhkan terowongan. Tak kalah penting ialah sistem persinyalan. Tanpanya perjalanan kereta takkan bisa aman.

Nah disinilah alasan kenapa dalam konteks ini trainset dan lintas dijadikan satu.


Museum dan Sarana Edukasi Kereta Api

Museum dan sarana edukasi kereta api sejatinya juga masuk dalam infrastruktur perkeretaapian. Bahkan seperti Museum Kereta Api Ambarawa itu juga punya trainset meski hanya dimanfaatkan untuk kereta wisata. Namun demikian spirit edukasinya tetap ada. Disamping tentu untuk sekedar nostalgia bersama kereta kayu warisan kolonial.