Stasiun Kediri Dinamika Perkeretaapian Kota Tahu

Stasiun Kediri : Dinamika Perkeretaapian Kota Tahu

Stasiun Kediri menjadi saksi sejumlah dinamika perkeretaapian di Kota Tahu. Hingga sebatas bagian Jalur Blitar. Juga pernah menjadi terminus KAJJ. Bagaimana proses perkembangannya?

Pendahuluan

Jaringan kereta api di Kota Kediri mulai dibangun sekitar tahun 1881. Bersamaan dengan pembangunan lintas cabang dari Stasiun Kertosono. Bagian dari jalur kereta Solo Surabaya.

Seiring berjalannya waktu si ular besi terus mengalami perkembangan. Seiring dengan itupula perekonomian daerah terangkat. Sayangnya perkeretaapian di sini pun mengalami berbagai dinamika.

Terutama pada jalur kereta api yang sebelumnya dioperasikan oleh pihak swasta. Mulai dari masa pendudukan Jepang dengan penutupan sejumlah lintas cabang. Hingga puncaknya segmen utama lintas tersebut ditutup 1981. Tinggalah sebatas bagian dari Jalur Blitar.

Kereta Api di Kediri

Sama halnya dengan Malang, Kediri awalnya juga merupakan titik percabangan akhir. Namun seiring berjalannya waktu jaringan kereta api Kediri diperpanjang hingga menjangkau Tulungagung dan Blitar.

Jalur tersebut mula beroperasi pada tahun 1884 dan menjadi cikal bakalnya Jalur Blitar. Sedangkan dari sisi Stasiun Malang, pembangunan baru dilakukan pada tahun 1896 dan mencapai Stasiun Blitar 1897.

Nah bagaimanakah perkembangan dunia perkeretaapian di Kota Tahu selanjutnya? Mari kita bahas.

Jaringan Kediri Stroomtram Maatchappij (KSM)

Nah yang kita singgung sedikit barusan adalah lintas kereta api milik pemerintah kolonial Belanda, Staats Spoorwegen (SS). Dalam sejarahnya, perusahaan swasta juga pernah punya andil dalam pengembangan si ular besi di sana.

Nah di tahun 1881 adalah kali pertamanya kereta api menjamah Kota Tahu itu. Di tahun itu pula Stasiun Kediri pertama kali membuka layanan perkeretaapiannya.

Ternyata perkembangan si ular besi nggak berhenti sampai di sini. Selain pihak Staats Spoorwegen (SS) memperpanjang lintasan hingga Stasiun Blitar (1884) hingga akhirnya membentuk Jalur Blitar (1897)

Di sela-sela itu, 1895, sebuah operator perkeretaapian swasta lokal pun didirikan yakni Kediri Stroomtram Maatschappij (KSM).

Stasiun Kediri Sebagai Tonggak Sejarah

Beroperasinya Stasiun Kediri di tahun 1881 menjadi tonggak sejarah perkeretaapian di kota tersebut. Tentunya hal itu sangat membantu perekonomian masyarakat. Terutama percepatan angkutan barang dan penumpang.

Berdirinya KSM memang nggak langsung diikuti pengoperasian kereta api. Tentunya sebelum itu harus lebih dulu ada jaringan rel kereta api. Dibangun tahun 1896. Barulah pada Januari 1897 Stasiun Kediri dan Jombang bisa dihubungkan jaringan itu.

Uniknya, kedua stasiun merupakan milik pemerintah. Dalam hal ini jelas Staats Spoorwegen (SS). Masih di tahun yang sama, sesudah itu, jaringan rel kereta api negara juga telah tersambung hingga Stasiun Malang hingga membentuk Jalur Blitar.

Stasiun Kediri Titik Awal Jalur Blitar

Stasiun terbesar sekaligus utama di Kota Tahu asalnya adalah terminus. Namun di tahun 1884 Staats Spoorwegen (SS) mengembangkannya hingga menjangkau Tulungagung dan Blitar.

Karenanya menjadi titik awal jalur Blitar. Khususnya di sisi barat dari arah Kertosono. Sedangkan di sisi timur dari Bangil dan Malang masih belum tersambung hingga 1897.

Kereta Api Penataran Dhoho dari Surabaya Kota yang mengambil rute berlawanan jarum jam (arah Kertosono), ketika masuk Jalur Blitar, yang pertama disinggahinya nggak lain ialah stasiun ini.

Adapun rangkaian Kereta Api Penataran Dhoho yang lewat Sidoarjo dan Malang, titik awalnya ialah Stasiun Lawang di Kabupaten Malang. Ini adalah bagian timur.

Stasiun Kediri Saksi Sebuah Dinamika

Stasiun Kediri hingga kini memegang peran penting dalam menunjang perekonomian daerah. Khususnya untuk angkutan penumpang. Kereta Api turut mendukung berbagai sektor terutama pariwisata di Kota Tahu.

Namun sebenarnya perkeretaapian di sinipun mengalami dinamika pasang surut. Sejak 1897 Kediri memiliki jaringan kereta api negara (SS) dan swasta (KSM). Dimana jaringan KSM dipusatkan di daerah Pare.

Berkurang di masa Pendudukan Jepang

Ketika terjadi peralihan kekuasaan ke Masa Pendudukan Jepang, sejumlah lintas cabang milik KSM dibongkar oleh pihak Jepang. Dengan demikian sejak saat itu panjang lintasan jaringan kereta api jelas berkurang.

Berakhir di Tahun 1981

Dinamika pun terus berlangsung hingga memasuki masa Kemerdekaan Indonesia. Telah mahfum bahwa dekade 1960-an merupakan masa-masa kelam dunia perkeretapian. Itupun mencapai puncaknya ketika lintas Kediri-Jombang akhirnya ditutup tahun 1981.

Stasiun Kediri Sebatas Bagian Jalur Blitar

Sejak itu berakhirlah masa-masa keemasan si ular besi dalam melayani sendi-sendi kehidupan masyarakat Kediri. Sehingga yang tertinggal hanyalah sebatas bagian dari Jalur Blitar.

Stasiun Kediri Pernah Jadi Terminus KAJJ

Meski hanya sebatas bagian dari Jalur Blitar, Stasiun Kediri pernah menjadi terminus sejumlah rangkaian Kereta Api Jarak Jauh (KAJJ). Tercatat KA Brantas, Kahuripan hingga Senja Kediri.

Namun hal itu nggak berlangsung lama. Rute KA Brantas dan Kahuripan lantas diperpanjang hingga Stasiun Blitar. Demikian pula Senja Kediri dikembangkan jadi Senja Singasari hingga menjadi Majapahit. Tujuan akhir Stasiun Malang.

Walaupun udah nggak lagi jadi terminus, stasiun tetap melayani keberangkatan KAJJ jurusan Stasiun Blitar dan Stasiun Malang. Juga lokalan macam Kereta Api Penataran Dhoho.

Kesimpulan

Stasiun Kediri mulai beroperasi 1881. Awalnya hanyalah terminus. Namun kemudian lintas diperpanjang hingga Stasiun Blitar di tahun 1884 dan tersambung dengan Malang 1897.

Di awal tahun yang sama juga telah dioperasikan lintas menuju Jombang milik operator swasta, Kediri Stroomtram Maatschappij (KSM). Menandai sebuah sejarah perkeretaapian di Kota Tahu.

Sayangnya berbagai dinamika pun terjadi di sini. Mulai dari penutupan lintas-lintas cabang milik MSM sejak masa pendudukan Jepang. Puncaknya Kediri-Jombang ditutup 1981.

Meski demikian stasiun ini pernah menjadi terminus sejumlah rangkaian KAJJ. Sekarang tetap memiliki layanan perjalanan KAJJ dan Kereta Api Penataran Dhoho.  

Galeri Foto

Epilog


Comments

One response to “Stasiun Kediri : Dinamika Perkeretaapian Kota Tahu”

Leave a Reply