stasiun tegal selangkah menuju pusat kota

Stasiun Tegal : Hanya Selangkah Menuju Pusat Kota Bahari

Stasiun Tegal adalah salah satu stasiun utama di Jalur Kereta Pantura Barat. Memiliki sejarah panjang dan pertama dioperasikan JSM hingga diambil alih SCSM. Terletak cukup dekat dengan Alun-Alun sehingga hanya selangkan ke Pusat Kota Bahari tersebut.

Pendahuluan

Sebelumnya telah dibahas tentang Jalur Kereta Pantura di sisi timur dari Semarang ke Purwodadi hingga Stasiun Cepu. Meskipun belum menyeluruh, nggak ada salahnya untuk sekarang sejenak kembali ke sisi baratnya.

Dalam sejarahnya lintas pantura ini cukup unik. Sebab kedua sisinya berujung di Kota Semarang. Di sisi barat jalur dimulai dari Cirebon melewati Tegal, Pemalang, Pekalongan dan berakhir di sebuah stasiun bernama Semarang Poncol.

Sedangkan sisi timurnya dari Tawang hingga Surabaya. Itupun terdapat percabangan di Stasiun Brumbung menuju Lintas Kereta Api Mataram (Vortenslanden). Percabangan identik juga ada di Gambringan yang terhubung dengan Gundih.

Dua Operator Jalur Kereta Pantura

Mengapa sedemikian unik? Rupanya Jalur Kereta Pantura dimiliki oleh dua operator berbeda yakni SCSM (Semarang Cheribond Stroomtram Maatschappij) untuk sisi barat dan NISM (Nederlandsch Indische Spoorweg Maatschappij) di sebelah timur dan percabangan ke Lintas Kereta Api Mataram (Vortenslanden).

Stasiun Tegal Bagian Pantura Barat SCSM

Adapun pembahasan kali ini ialah Jalur Kereta Pantura Barat yang dulunya dioperasikan oleh SCSM. Dimana Stasiun Tegal merupakan bagian penting dan punya peranan cukup vital. Sejatinya stasiun ini dibangun oleh JSM (Java Spoorweg Maatschappij) sebagai ujung utara dari Lintas Tegal Balapulang dan beroperasi tahun 1885.

SCSM kemudian mengambil alih JSM pada 1895. Dua tahun kemudian stasiun direnovasi dengan penambahan kanopi kayu. Seiring berkembangnya waktu stasiun lama peninggalan JSM pun ditutup dan perannya kemudian digantikan bangunan tahun 1918 karya arsitek Henri Maclaine Pont (1884-1971).

Inilah yang kita kenal sekarang sebagai Stasiun Tegal sebagai gerbang masuk menju Kota Bahari dan tempat asalnya Teh Poci. Pasca pengambilalihan hingga perpindahan, stasiun ini merupakan bagian penting dari Jalur Kereta Pantura Barat yang dioperasikan SCSM.

Stasiun Tegal dan Gedung Birao

Bukan sekedar memindahkan bangunan stasiun, SCSM juga mendirikan dan membuka Gedung Birao yang terletak percis di depan stasiun. Bahkan bangunan ini dibuka 5 tahun lebih awal dari stasiun baru.Juga hasil karya arsitek Henri Maclaine Pont. Gedung Birao difungsikan sebagai Kantor Pusat SCSM.

Gedung Birao masih berdiri hingga sekarang. Namun sayangnya meski telah ditetapkan sebagai asset oleh PT. KAI bangunan bersejarah ini masih terbengkalai hingga memiliki kesan angker. Padahal punya potensi seperti Museum Lawang Sewu. Sebenarnya Gedung Birao ini juga bisa jadi icon Kota Tegal sebagaimana Lawang Sewu Semarang.

Stasiun Tegal Selangkah ke Pusat Kota Bahari

Bangunan Stasiun Tegal yang dibuka 1918 dan beroperasi hingga kini ternyata memiliki posisi yang sangat strategis. Boleh dibilang berada tepat di Pusat Kota Tegal. Pasalnya dari sini ke Alun Alun Kota Tegal jaraknya cukup dekat. Boleh jadi cuma selangkah.

Bahkan stasiun inipun sebetulnya bagian dari Alun Alun Timur bila kita membaginya jadi dua sisi. Secara di Timur ini juga ada Taman Pancasila dengan Monumen Lokomotif D300. Ditambah ex-Gedung Birao. Sedangkan sebelah barat itu jadi Pusat Kota Bahari yang ada Masjid Agung nya.

Layani Hampir Semua Perjalanan Kereta Api

Intinya mau gimanapun itu posisi stasiun udah cukup strategis. Selain merupakan bagian penting dari Jalur Kereta Pantura Barat. Karena itupula semua perjalanan kereta api dilayani di sini. Mulai kereta ekonomi bersubsidi sekelas Airlangga hingga sejumlah kereta argo. Hanya KA Argo Bromo Anggrek yang melintas langsung.

Kesimpulan

Stasiun Tegal dibangun 1885 dan dioperasikan pertama kali oleh JSM. 10 tahun kemudian diambil alih SCSM untuk kemudian dilakukan renovasi 1897. Seiring berjalan waktu SCSM mendirikan bangunan baru dan semua aktivitas pindah ke sana mulai 1918 hingga sekarang. Sejak itu punya peran penting di Jalur Kereta Pantura Barat SCSM.

Nggak jauh dari bangunan baru itu telah berdiri Gedung Birao yang telah ada 3 tahun sebelumnya. Namun sayang kondisinya saat ini masih terbengkalai. Meski punya potensi sebagaimana Lawang Sewu Semarang.

Posisi stasiun sangat strategis. Jaraknya boleh dibilang hanya selangkah menuju Alun-Alun Kota Bahari. Dengan posisi pentingnya itu hampir semua kereta api dilayani di sini. Kecuali KA Argo Bromo Anggrek.

Galeri Foto