Terowongan Kereta Api Karangkates Karya Anak Bangsa

Terowongan Kereta Api Karangkates : 100% Indonesia

Kebanyakan peninggalan Belanda, Terowongan Kereta Api Karangkates baru dibangun tahun 1969 dan dioperasikan setahun kemudian. Bagian dari Jalur Blitar dan pertama karya anak bangsa. Gimana prosesnya?

Pendahuluan

Pada umumnya terowongan kereta api yang ada di Indonesia merupakan warisan pemerintah Kolonial Belanda. Dalam hal ini Staats Spoorwegen (SS). Pembangunannya satu paket dengan lintas kereta api.

Dimana pada bagian sulit karena harus melewati tanjakan sangat ekstrem lantas dibuat terowongan menembus gunung atau bukit. Seperti terjadi pada Terowongan Lampegan dan Sasaksaat di Jawa Barat. Juga lainnya.

Uniknya lagi, terowongan kuno itu banyak yang masih eksis hingga kini. Bahkan untuk Sasaksaat aja yang masih asli merupakan terowongan paling padat lalulintas kereta api.

Proyek Besar Senggol Jalur Blitar

Di antara mayoritas peninggalan Belanda, terselip terowongan kereta api yang sedari awal dibangun oleh bangsa sendiri. Posisinya berada di Jalur Blitar dimana ini awalnya nggak ada terowongan meski jalur pegunungan.

Pembangunan terowongan di jalur Blitar berkaitan dengan sebuah proyek besar. Sebuah bendungan dibangun untuk membendung aliran sungai Brantas. Fungsinya untuk pengairan (irigasi), pengendalian banjir, hingga PLTA. Juga pariwisata tentunya.

Proyek besar ini pastinya akan menyenggol Jalur Blitar. Nah agar nggak bernasib sama dengan lintas lainnya dibangunlah sebuah terowongan. Nah terowongan apakah itu dan gimana pembangunannya?

Pembangunan Terowongan Kereta Api Karangkates

Pada tahun 1962 pemerintah mulai membangun Bendungan Karangkates dengan dana pampasan perang Jepang dan rupiah murni. Namun sempat terhenti di tahun 1965 karena ekonomi memburuk dan terjadi gejolak politik.

Pembangunan baru bisa dilanjutkan lagi pada tahun 1967 setelah ekonomi membaik dan mendapatkan bantuan pinjaman luar negeri. Bersama dengan itupula ikut dibangun lintasan baru di Jalur Blitar.

Lintas baru itu berada di segmen Sumberpucung – Pogajih. Adapun lintas lama akan terkena dampak pembangunan bendungan yang dikemudian hari juga dikenal dengan nama Bendungan Ir. Sutami.

Dengan kondisi alam Jalur Blitar yang masuk pegunungan, lintas baru membutuhkan terowongan sebanyak dua bentang. Nah inilah yang kita kenal sebagai Terowongan Kereta Api Karangkates. Pembangunannya bersama dengan bendungan.

Terowongan Kereta Api Karangkates : Dibangun 1969

Sementara bendungan mulai lagi 1967, terowongan kereta api Karangkates akhirnya bisa dieksekusi 2 tahun kemudian. Sebagai bagian dari lintas baru Sumberpucung-Pogajih. Dipersiapkan sebelum lintas lama ”ditenggelamkan”.

Terowongan Kereta Api Karangkates : Operasional 1970

Terowongan pun bisa dioperasionalkan pada tahun 1970. Tentunya sejak saat itu operasional jalur Blitar di segmen Sumberpucung dialihkan ke jalur baru yang melewati dua buah terowongan. Dan berlangsung hingga sekarang.

Terdapat Dua Bentang, Salah Satunya Terpanjang ke-2

Terowongan Kereta Api Karangkates terdiri dari dua bentang. Dimana terowongan 1 dengan nama lain Eka Bakti Karya memiliki panjang 850 meter. Ini menjadi terpanjang ke-2 (aktif tanpa perhitungkan MRT Jakarta) setelah Sasaksaat. Sedangkan yang ke-2 namanya Dwi Bakti Karya panjangnya 400 meter.

Karya Anak Bangsa yang Sangat Vital

Terowongan Kereta Api Karangkates murni dibangun oleh Indonesia. Meskipun ada dana pampasan perang Jepang dan pinjaman luar negeri. Sehingga jadi yang pertama karya anak bangsa. 100% Indonesia gitu.

Sekarang kondisi dua buah terowongan tersebut bisa dibilang padat lalu lintas kereta api. Pasalnya terdapat rangkaian Kereta Api Penataran Dhoho yang wara wiri Surabaya Kota – Blitar dari kedua sisi.

Ditambah lagi rangkaian KAJJ seperti KA Malabar, Kereta Api Matarmaja, Brawijaya, Gajayana hingga Kertanegara. Belum lagi kereta Parcel. Bahkan jika KA Malioboro Ekspres reguler lagi bertambah padatlah lalu lintas disitu

Karenanya keberadaan karya anak bangsa yang satu ini sangat vital. Terutama guna menunjang angkutan penumpang maupun barang berbasis rel. Menghubungkan kota-kota sepanjang jalur kantong mulai dari Kediri, Tulungagung, Blitar, hingga Malang.

Kesimpulan

Terowongan Kereta Api Karangkates mulai dibangun pada tahun 1969 bersamaan dengan penyelesaian Proyek Bendungan Ir. Sutami yang dimulai lagi 1967. Setelah sempat terhenti akibat situasi ekonomi dan politik kala itu.

Merupakan bagian dari lintas baru Sumberpucung di Jalur Blitar. Terdapat dua buah terowongan. Satu (Eka Bakti Karya) memiliki panjang 850 m atau terpanjang ke-2 saat ini dan kedua (Dwi Bakti Karya) 400 m.

Saat ini kondisi terowongan cukup padat dan keberadaannya sangat vital. Dengan Kereta Api Penataran Dhoho yang rutin wara-wiri dari Surabaya Kota ke Blitar dari kedua arah. Ditambah KAJJ dan Parcel.

Galeri Foto

Epilog