antara tragedi cicalengka dan ratu jaya 1993 tiga kesamaan

Antara Tragedi Cicalengka dan Ratu Jaya 1993 (Tiga Kesamaan)

Ada tiga kesamaan antara Tragedi Cicalengka tanggal 5 Januari 2024 kemarin dengan PLH Ratu Jaya 1993. Berdasarkan kesaksian dari masing-masing penumpang.

Pendahuluan

Perkeretaapian Indonesia mengalami duka di awal tahun. Dua kereta bertabrakan adu banteng di petak Haurpugur – Cicalengka pada pagi hari 5 Januari 2024. Insiden ini mengakibatkan 4 orang meninggal dunia. Semuanya adalah pegawai PT.KAI.

Bagaimana itu bisa terjadi sementara terakhir kali ada insiden adu banteng 25 Desember 2001 di Stasiun Ketanggungan Brebes. Spekluasi banyak beredar demikian pula kesaksian penumpang kereta.

Kronologisnya gimana masih menunggu investigasi KNKT. Tapi soal kesaksian penumpang dan beberapa situasi kondisi apa yang terjadi kemarin seperti mengulang lagi PLH Ratu Jaya 1993.

Sekilas PLH Ratu Jaya 1993

Sebelumnya kita udah bahas Flashback PLH Ratu Jaya 1993. Kecelakaan KRL di lintas Jakarta-Bogor ini seolah terlupakan begitu aja. Kalah pamor sama Tragedi Bintaro 1987. Padahal nggak kalah mengerikan dibanding kecelakaan terbesar di Indonesia itu.

PLH Ratu Jaya 1993 terjadi ketika KRL Ekonomi Rheostatik dari Bogor diberangkatkan oleh PPKA Stasiun Citayam. Padahal normalnya kereta itu menunggu KRL Ekonomi lainnya dari Jakarta. Tapi entah bagaimana dua kereta malah diberangkatkan dalam waktu bersamaan.

Lintas Bogor Depok waktu itu masih single track. Sehingga ada aktivitas persilangan antar kereta di beberapa stasiun. Dua kereta tadi melaju tanpa sadar keduanya sedang bergerak menuju maut. Ketika masuk tikungan Ratu Jaya, kedua masinis baru sadar dan tabrakan pun tak bisa dihindari.

Akibat tabrakan dua KRL Ekonomi Rheostatik ini 20 korban meninggal dunia termasuk masinis kedua kereta. Sedangkan 100-an lainnya mengalami luka-luka. PLH Ratu Jaya 1993 pun tercatat sebagai salah satu kecelakaan tragis yang pernah terjadi di Indonesia.

Kesaksian Korban PLH Ratu Jaya 1993

Walaupun seolah terlupakan begitu aja seiring banyaknya perbaikan di lintas Jakarta-Bogor, namanya kesaksian korban PLH Ratu Jaya 1993 tentu nggak bisa dilupakan begitu aja.

Salah satunya adalah kesaksian dari Muhammad Isa yang waktu itu menumpang kereta dari Bogor. Berikut kesaksiannya sebagaimana dikutip dari Facebook Chief Editor’s Club:

KRL Berangkat Jam 07.05 dari Stasiun Bogor

Saya dulu masih tingkat 2 kuliah di Depok saat mau mid semester. Kejadiannya tanggal 2 November 1993 kurang lebih pkl.07.30.

Naik KRL dari Bogor Pkl.07.05, tidak seperti biasanya saya dapet duduk di gerbong satu tepat dibelakang kabin masinis, bangku untuk 2 orang dipakai oleh bertiga bersama 2 teman saya plus puluhan teman saya yang berdiri.Salah satu teman iseng mengatakan “Woi Sa, hati-hati lu didepan tabrakan,!”.

Dalam perjalanan,entah kenapa kita ngobrol tentang tabrakan KA Bintaro dan tidak seperti biasanya KRL tersebut larinya cukup kenceng (biasanya langsam) kira-kira 80 km/jam lah.

Tidak Ada Silang dan Kecepatan Tinggi

Sampai di Stasiun Citayam, biasanya itu KRL silang dulu atau nunggu sampai KRL dari Depok datang, namun saat itu tidak ada silang dan KRL melaju kembali dengan kecepatan tinggi.

Begitu mau masuk Ratujaya (sebelumnya kan ada tikungan), tiba-tiba pintu kabin masinis terbuka dan berhamburan orang.Saya pikir diusirin polsuska,eh orang terakhir teriak “KERETA DIDEPAN…KERETA DIDEPAN!!!””.

Spontanlah pegangan tiang dan counting down, karena gak bisa kemana-mana lagi sehubungan depan udah pantat orang.Saat tumbukannya saya udah gak inget apa-apa lagi.

Terbelah Dua dan Bogie Terlepas

Saya hanya ingat setelah tabrakan, loncat dari KRL dan masuk parit (setahu saya parit ada disebelah kiri arah Jakarta) dan kaget begitu melihat KRL ada 2 warna dan salah satunya “berdiri” (kebelah dua,seperti attachment) dimana 2 bogienya terlepas kurang lebih 3 meteran dari rel dan gerbong 1 & 2 rusak parah (KRL dari depok KL382XXX) sedangkan gerbong 3 dst keliatannya sih masih utuh.

Untuk KRL yang saya tumpangi adalah KRL stainless Nippon Sharyo tahun 86 (KL3-86XXX) dimana yang saya liat semua sambungan jadi satu dengan gerbong yang lain.

Ada untungnya juga sarat penumpang sehingga saya masih ada sampai sekarang. Untuk korban ada yang dilarikan ke RS. Bhakti Yudha Depok (termasuk saya), ada yg ke RS. Fatmawati dan ke RS. Cipto.

Kejadian Lucu dan Menjengkelkan

Kejadian sekali-kalinya seumur hidup kepala dijahit tanpa dibius. Ada kejadian yang buat lucu atau malah menjengkelkan.

Saat dirumah sakit setelah ditanya macam-macam oleh seorang Ibu setengah baya, lalu saya tanya balik “Emang Ibu mau cari siapa,?”, dengan santainya si Ibu itu menjawab “Ah enggak,Ibu sih penduduk sini ,seneng aja liat kayak ginian”. Ya Allah, rasanya pengen nonjok tapi gak bisa ngapa-ngapain.

Bagaimana Dengan Tragedi Cicalengka?

Itu tadi adalah kronologis PLH Ratu Jaya 1993 berdasarkan kesaksian seorang penumpang. Nah sekarang bagaimana dengan Tragedi Cicalengka yang baru aja terjadi kemarin?

Bila dilihat dari kesaksian penumpang Kereta Commuter Line Bandung Raya 350 kemarin, itu ada kesamaan dengan kejadian di tahun 1993. Seperti apa kesaksiannya? Dikutip dari Kompas.Com, berikut adalah kesaksian Dudi Purwadi, penumpang Kereta Commuter Line Bandung Raya 350 (Kompas):

Sudah Disuruh Jalan

Kejadianya sekitar setengah enam (O5.30 WIB). Jadi kereta Surabaya belum masik ke stasiun, tapi (keretanya) sudah disuruh jalan. Padahal biasanya prioritas tiap jam segitu kereta Surabaya dulu,

Kereta Tabrakan (Tragedi Cicalengka Terjadi -red)

Saya kena besi, kena benturan. Suaranya bukan keras lagi, keras banget. Terus pas kejadian anak saya enggak tahu. Dia malah bilang gini, yah ini kenapa. Saya jawab ini kereta tabrakan dek. Ini kereta tabrakan.

Saya turun di gerbong melalui pintu kiri karena gerbong yang depan saya udah masuk ke sawah. Jadi udah gak bisa lewat. Jadi saya nyeberang ke area sawah yang sebelah kanan

Tergencet dan Terjepit

Pas saya lihat masinisnya masih kegencet. Saya lewat jalan melewati kereta Turangga. Tapi saya lihat di kereta Turangga juga ada yang kejepit. Jadi saya berdua sama anak saya. Alhamdulillah selamat,

Tragedi Cicalengka (Seolah) Pengulangan Ratu Jaya 1993

Dari dua kesaksian diatas bisa dibilang bahwa Tragedi Cicalengka yakni kecelakaan adu banteng antara Commuter Line Bandung Raya (KA 350) dan KA Turangga (65) seolah mengulangi lagi PLH Ratu Jaya 1993.

Khususnya ketika kereta yang satu seharusnya menunggu kedatangan kereta dari arah berlawanan untuk bergantian melintas di jalur single track. Namun yang terjadi malah diberangkatkan.

Gegara tragedi Cicalengka itu juga banyak spekulasi bermunculan seperti adanya miskomunikasi petugas PPKA Haurpugur yang memberangkatkan KA 350 padahal KA 65 belum melintas. Nah tentang spekulasi atau apalah itu harap bersabar ya menunggu investigasi KNKT.

3 Kesamaan Tragedi Cicalengka dan Ratu Jaya

Sambil menunggu investigasi KNKT dimana kita bisa mengetahui kronologis pastinya kenapa bisa terjadi adu banteng di Tragedi Cicalengka kemarin, lebih dulu kita analisa kesamaannya dengan PLH Ratu Jaya 1993. Ada tiga kesamaan antara keduanya yakni:

Terjadi di Single Track

Tanggal 2 November 1993 lintas Bogor Depok masih single track. Sama seperti Haurpugur-Cicalengka sekarang. Sehingga mau nggak mau haruskan adanya aktivitas persilangan.

Normalnya Ada Persilangan

Tahun 1993 kereta dari Bogor menuju Depok biasanya menunggu kereta dari Jakarta di Stasiun Citayam. Adapun dalam Tragedi Cicalengka kemarin, normalnya KA 350 menunggu KA 65 di Stasiun Haurpugur.

Salah Satu Kereta Terangkat

Nah ini juga kesamaan Tragedi Cicalengka dan PLH Ratu Jaya 1993. Dimana ada salah satu kereta yang terangkat hingga menindih kereta lainnya. Namun di Cicalengka kereta paling depan terangkat dan kabin masinis lokomotif CC 201 “vintage” hancur.

Sedangkan di Ratu Jaya kereta terdepat terangkat dalam kondisi terlipat dan menindih kereta di belakangnya. Ini karena KRL Ekonomi Rheostatik nggak pake lokomotif.

Galeri Foto