Lagi medsos rame sama wacana “rasionalisasi” kereta di Lintas Pantura. Isunya Argo Semarangan bakal dijadiin satu semua dan tanpa embel-embel argo lagi. Banyak yang mempertanyakan apalagi ada gap antar sarana yang lumayan gede. Apakah ini akan jadi akhir kisah kereta argo?
Pendahuluan
Masih segar dalam ingatan kita semua ketika Argo Bromo Anggrek mengalami rasionalisasi nama jadi Kereta Anggrek. Nggak sedikit yang menyayangkan itu. Pasalanya kereta itu udah terlanjur jadi standard tertinggi perkeretaapian Indonesia.
Apalagi di Jalur Kereta Pantura, nama Argo Bromo Anggrek udah terlanjur melekat sama image kereta paling mewah di sana. Apalagi dengan cuma berhenti di dua stasiun Pantura yakni Cirebon Kejaksan dan Semarang Tawang.
Sayangnya itu hanya tinggal kisah masa lalu aja. Sekarang namanya udah ganti jadi Anggrek, meski layanan masih tetap sama.
Nggak sedikit juga yang mengaitkan penyederhanaan nama ini sama Tragedi Bekasi Timur, dan sejumlah insiden lain yang melibatkan si Raja Pantura ini, kaya Tragedi Petarukan Pemalang misalnya yang memang libatkan kereta ini.
Nah apa yang dialami sama Argo Bromo Anggrek yang jadi Anggrek ini kabarnya bakal terulang lagi. Kabarnya akan dialami oleh kereta Argo Semarangan. Bahkan kelihatannya itu masih akan terus berlanjut. Akankah ini jadi Akhir Kisah Kereta Argo?
Sejarah Kereta Argo di Indonesia
Sebelum lebih dalam, ada baiknya kita bahas dulu sejarah Kereta Argo di Indonesia. Selama ini yang kita tau dan udah tertanam di mindset turun-temurun adalah Argo adalah layanan tertinggi dalam perkeretaapian Indonesia. Dari segi kecepatan waktu tempuh dan kenyamanan.
Namun semua itu mulai berubah sejak era Ignasius Jonan. Sejak itu antara Argo dan Satwa biasa kaya nggak ada beda sama sekali. Pembeda yang masih terlihat cuma di sisi kecepatan waktu tempuh.
Kereta Argo sendiri mulai ada di tahun 1995. Waktu itu Pemerintah Indonesia lewat Perumka meluncurkan KA Argo Bromo (JS950) dan KA Argo Gede (JB250) pada 17 Juli 1995. Peluncuran dua kereta itu buat mempercepat waktu tempuh antara Jakarta Surabaya dan Jakarta Bandung.
Baik Argo Bromo maupun Argo Gede benar-benar beda sama kereta lainnya dalam segala hal. Termasuk kenyamanan tentunya. Sarana yang dipake adalah yang terbaru buatan PT. INKA Madiun. Udah pake pintu geser otomatis. Udah itu dapat layanan snack gratis. Bahkan di Argo Bromo ada makan gratisnya juga.
Dua kereta ini adalah pelopor kemunculan kereta-kereta argo lainnya. Nggak lama setelahnya ada Argo Lawu (1996). Di tahun 1997 Perumka meluncurkan Argo Bromo Anggrek dengan sarana K1 97 yang disebut-sebut paling canggih di masanya.
Setelahnya menyusul Argo Dwipangga, Argo Wilis, hingga duo Semarangan yakni Argo Muria dan Argo Sindoro. Semua kereta Argo ini berangkat dari Stasiun Gambir Jakarta, kecuali Argo Wilis dari Stasiun Bandung dan jadi satu-satunya yang beroperasi di luar Daop 1 Jakarta.
Menggunakan Nama Gunung, Kecuali Argo Dwipangga dan Argo Jati
Semua kereta Argo yang beroperasi di Indonesia menggunakan Nama Gunung. Kalo ditelusur lagi secara bahasa Argo berarti Gunung. Itulah yang jadi dasar penamaan. Meskipun kadang nggak sesuai sama destinasinya.
Generasi pertamanya aja itu nggak lewatin gunung yang bersangkutan. Gunung Bromo terletak di 4 Kabupaten, tapi nggak satupun wilayah Surabaya Raya. Sama juga Gunung Gede yang ada di Kabupaten Bogor dan Sukabumi, tapi keretanya nggak lewat dua daerah itu.
Paling sesuai jelas Argo Lawu, berasal dari Gunung Lawu yang salah satu wilayahnya adalah Kabupaten Karanganyar di aglomerasi Solo Raya. Juga Argo Wilis yang paling nggak keretanya memang melewati wilayah dimana gunung itu berada, yakni Kabupaten Madiun.
Meski hampir semua pake nama gunung, ada dua pengecualian:
- Argo Dwipangga yang paralel sama Argo Lawu cuma beda jam operasional. Argo Dwipangga sendiri merupakan peningkatan dari KA Dwipangga sebelumnya.
- Argo Jati di rute Gambir-Cirebon PP. Memang ada Gunung Jati tapi bukan nama gunung melainkan tokoh. Satu dari Sembilan Wali penyebar Agama Islam di Jawa (Walisongo), Sunan Gunung Jati.
Jadi di sini selain berarti gunung, argo bisa disebut sebagai kasta tertinggi perkeretaapian Indonesia.
Anomali Argo Parahyangan dan Argo Cheribon
Memasuki pertengahan dekade 2000-an, pemerintah meresmikan Tol Cipularang yang disebut bakal mempersingkat waktu tempuh Jakarta Bandung. Keberadaan tol itu perlahan menggerus market KA Parahyangan yang belum ada peningkatan sama sekali.
Walaupun begitu Argo Gede masih bertahan malah lebih rame daripada Sang Legenda. Karena nggak sanggup nanggung rugi terus-menerus, PT. KAI akhirnya menghentikan operasional KA Parahyangan tanggal 27 April 2010 dan menggabungkan layanannya ke KA Argo Gede, termasuk menambah kereta bisnis di jam tertentu.

Di sini lahirlah KA Argo Parahyangan sebagai rebranding dan kelanjutan dari JB250. Sekaligus menjadikan kereta argo pertama yang anomali karena layanan keretanya yang campuran Eksekutif Argo dan Bisnis. Meskipun cuma di jam tertentu.
Tahun 2016, rangkaian kereta bisnis nya diganti ke Ekonomi New Image yang baru. Jadi tambah anomali lagi kan? Setahun kemudian muncul Argo Parahyangan Premium dengan layanan Full Ekonomi Premium K3 17. Wah makin jadi inimah! Sampe muncul meme “Argo Kok Ekonomi?” Meski pernah ada Argopuro dan “Argo Peuyeum” tetap aja anomali.
Anomali Argo Parahyangan juga menular ke Daop 3 Cirebon lewat fenomena merger 3 kereta: Argo Jati, Cirebon Ekspres, dan Tegal Bahari jadi satu layanan yakni Argo Cheribon. Campuran eksekutif dan ekonomi New Image. Nama Cheribon juga cukup kontroversial waktu itu. Dua Argo Anomali ini beroperasi sampe akhir Gapeka 2023.
Nggak Ada Beda sama Satwa Kecuali Waktu Tempuh
Anomali pada KA Argo Parahyangan terjadi pada saat kereta argo itu sendiri udah nggak ada beda lagi sama Satwa. Pembeda yang masih kelihatan cuma di waktu tempuh. Dimana kereta argo masih punya keunggulan waktu tempuh yang lebih cepat karena berhenti di stasiun tertentu aja.
Si Fakultatif Bernama Argo Anjasmoro
Saat semua kereta argo udah pake sarana Stainless Steel New Generation (SSNG), terselip satu yang masih pake Stainless Steel Generasi ke-1 (SSG1) yakni KA Argo Anjasmoro. Nah, anomali lagi nih. Apalagi status kereta ini yang fakultatif dan cuma dinas di waktu tertentu. Kok ada argo fakultatif ya?
Whoosh Jadi Akhir Kisah Kereta Argo di Priangan Barat
Tanggal 1 Oktober 2023, Kereta Cepat Whoosh resmi beroperasi dan menandai era baru dalam dunia perkeretaapian Indonesia. Sebuah inovasi baru dalam teknologi transportasi umum berbasis rel. Dua kota Jakarta Bandung serasa jauh lebih dekat, cuma ditempuh kurang dari 2 jam (30-45 menit). Kehadiran Whoosh jelas jadi pukulan telak buat KA Argo Parahyangan. Menjadi tanda akan berakhirnya era kereta argo di wilayah Priangan Barat.

Benar aja, pada awal Gapeka 2025, KA Argo Parahyangan pensiun setelah beroperasi hampir dua dekade (dihitung sama JB250 Argo Gede di 17 Juli 1995).
Meski di saat yang sama, Sang Legenda KA Parahyangan balik lagi setelah sempat pensiun. Namun udah nggak kaya dulu lagi. KA Parahyangan edisi comeback nggak lebih dari kereta aglomerasi tarif meteran kaya Banyubiru, Joglosemarkerto dan Kamandaka di Daop 4 Semarang. Berakhir sudah cerita kereta argo yang mengarungi jalur pegunungan eksotis di Priangan Barat.
Akhir Kisah Kereta Argo Anomali di Daop 3 Cirebon
Satu argo anomali nggak cukup, ternyata kisah Argo Cheribon yang anomali dan kontroversial pun harus berakhir di awal Gapeka 2025. Penggantinya juga kereta legendaris yakni KA Gunungjati yang pernah mengarungi jalur kereta Jakarta-Cirebon hingga Tegal di dekade 1970-1980an.
Paralel sama Gunungjati, ada KA Cakrabuana. Bedanya kalo Gunungjati ada satu perka yang extend ke Semarang, Cakrabuana extend-nya ke Purwokerto. Sementara itu KA Tegal Bahari udah hadir lagi sejak menjelang berakhirnya Pandemi Covid-19.
Rollingan Kereta Argo dan Satwa
Dengan sulitnya bedain argo dan satwa, ada satu kebijakan yang mempertegas hal tersebut. Lebih dari itu, nggak sedikit juga yang merasa bahwa ini udah mulai akhir kisah kereta argo. Fenomena rollingan sarana kereta Argo dan Satwa.
Tentunya kita melihat fenomena ini ada di KA Argo Semeru yang rolling sama KA Bima. Ada lagi KA Argo Wilis dan Turangga yang berbagi sarana satu sama lain. Apalagi sarana yang udah disharing dua kereta selatan itu masih juga dibawa dinas KA Parahyangan, sang legenda tanpa sarana sendiri.
Akhir Kisah Kereta Argo Bromo Anggrek di Bekasi Timur
Nggak ada momen paling nyesek selain Akhir Kisah Kereta Argo Bromo Anggrek. Pasalnya itu terjadi nggak lama setelah Tragedi Bekasi Timur. Dimana si Raja Pantura itu menumbur KRL Commuter Line dari arah belakang dan makan korban belasan orang.
Insiden maut yang melibatkan Argo Bromo Anggrek memang bukan kali itu aja. Tragedi Petarukan Pemalang, 2 Oktober 2010, yang disebut terbesar ketiga setelah Tragedi Bintaro 1987 dan Tragedi Ratujaya 1968 juga melibatkan kereta ini.
Sama kaya di Bekasi Timur, KA Argo Bromo Anggrek yang waktu itu masih pake sarana aslinya K1 97 menyundul KA Senja Utama Semarang yang sejatinya lagi berhenti nunggu susulan di Stasiun Petarukan. Itu baru insiden maut, belum anjlokan di Stasiun Manggarai yang juga terjadi di tahun yang sama.
Nggak lama setelah kejadian terakhir di Bekasi Timur, terjadi perubahan nama dari KA Argo Bromo Anggrek jadi KA Anggrek. Memang layanan dan waktu tempuh masih sama. Tapi nggak sedikit yang mengaitkan sama Tragedi Bekasi Timur dan sejumlah insiden lain. Dianggap buat tolak bala gitu.
Seperti udah disebut di awal, memang iya dari segi nama Bromo itu posisinya nggak di Surabaya. Keretanya juga nggak sampe Malang atau Tapal Kuda (Pasuruan atau Probolinggo). Jadi perubahan ke Anggrek nggak bisa disalahkan sepenuhnya.
Wacana Penyatuan Argo Semarangan
Akhir Kisah Kereta Argo sepertinya nggak akan berhenti sampe di Anggrek aja. Belum lama ini jagad media sosial sempat dihebohkan wacana akan adanya penyatuan tiga kereta argo Semarangan: Argo Merbabu, Argo Muria, dan Argo Sindoro.
Penyatuan ini sekilas kaya penyederhanaan gitu ya, supaya nggak terlalu tumpang tindih. Cuma masalahnya ada gap sarana antara ketiga kereta. Dimana KA Argo Muria dan Argo Sindoro saat ini udah pake Stainless Steel New Generation (SSNG). Sementara Argo Merbabu masih K1 16 atau K1 17.
Kalo beneran ini terjadi, berarti fix jadi Akhir Kisah Kereta Argo di Jalur Kereta Pantura. Setelah sebelumnya Argo Cheribon (walaupun anomali), Argo Bromo Anggrek, dan kini Trio Semarangan.
Countdown Di Jalur Selatan
Kalo wacana penyatuan Trio Semarangan ini bener terealisasi, artinya Kereta Argo tinggal sisa di Lintas Selatan. Saat ini tercatat ada 4 kereta argo di Lintas Selatan Jawa, berikut daftarnya:
| No | Nama KA | Relasi |
| 1 | Argo Dwipangga | Solo Balapan – Gambir PP |
| 2 | Argo Lawu | Solo Balapan – Gambir PP |
| 3 | Argo Semeru | Surabaya Gubeng – Gambir PP |
| 4 | Argo Wilis | Bandung – Surabaya Gubeng PP |
Itu dengan asumsi KA Taksaka belum diupgrade jadi Argo. Karena bersamaan wacana penyatuan Trio Semarangan itu, KA Taksaka diwacanakan bakal naik kelas jadi Argo. Ya, kita tunggu aja perkembangannya.
Namun keberadaan kereta argo di lintas selatan juga dalam posisi hitung mundur alias countdown. Bisa jadi semua akan selesai setelah Whoosh diperpanjang ke Surabaya dan rencananya akan lewat jalur selatan. Kecuali kalo ada rerouting.
Rerouting Jadi Harapan Terakhir (Whoosh ke Surabaya)
Jangan lupa, perpanjangan Whoosh ke Surabaya dan Tapal Kuda akan mendorong reaktivasi jalur non aktif dan pembangunan jalur kereta baru. Berarti rute yang bersinggungan, khususnya kereta-kereta argo itu tadi bisa direroute ke jalur baru dan terintegrasi sama Whoosh.
Nggak bisa dibantah, keberadaan Whoosh sekarang udah menghapus Argo Parahyangan di Lintas Priangan Barat. Kita udah saksikan Akhir Kisah Kereta Argo di sana. Dengan adanya Komodo Merah itu otomatis keberadaan Argo yang disebut si paling cepat udah nggak lagi relevan.
Itupun bisa terjadi lagi jika nantinya Whoosh diperpanjang ke Surabaya hingga Tapal Kuda. Tanpa reaktivasi jalur non aktif atau pembangunan jalur baru, dan tanpa ada rerouting, kita hanya akan menyaksikan Akhir Kisah Kereta Argo di Indonesia.
Kesimpulan
Kita udah saksikan Akhir Kisah Kereta Argo di Priangan Barat ketika Whoosh mulai beroperasi 1 Oktober 2023 dan Argo Parahyangan pensiun di awal Gapeka 2025. Setelah itu, giliran Argo Bromo Anggrek yang harus sayonara dan rebranding jadi Anggrek.
Kini ada wacana Trio Semarangan mau digabung jadi satu layanan yang nggak lagi pake embel-embel argo. Kalo beneran terjadi berarti kita hanya akan melihat kereta argo di Lintas Selatan Jawa. Itupun belum sepeuhnya aman, karena masih terancam perpanjangan Whoosh ke Surabaya, dan Tapal Kuda.
Tanpa adanya terobosan, ketika Whoosh nanti udah sampe Surabaya, kita hanya akan menyaksikan Akhir Kisah Kereta Argo di Pulau Jawa.
Fenomena Argo Kok Ekonomi
Awal tahun 2017 karena demand tinggi di Lintas Priangan Barat, yakni Koridor Jakarta-Bandung, akibat macet parah di Tol Cipularang, PT. KAI meluncurkan KA Argo Parahyangan Premium. Sarananya pake kereta ekonomi Premium terbaru buatan tahun 2017 (K3 17). Nah disini muncul fenomena lucu karena sebagaimana lazimnya kereta argo yang full eksekutif, tapi ini malah full ekonomi premium.

Mulailah muncul meme “Argo Kok Ekonomi”. Idealnya kereta argo itu adalah kelas tersendiri. Kenyamanan di atas eksekutif. Perjalanan juga lebih cepat. Tapi ini malah kelas ekonomi (K3).
Sebenarnya, Argo Ekonomi itu pernah terjadi jauh sebelum kemunculan Argo Parahyangan Premium. Sebelum kereta argo mulai ada pada 1995, pernah ada kereta ekonomi namanya Argopuro. Melayani rute Jogja-Ketapang PP. Munculnya kereta argo membuat nama kereta ini berubah jadi Sri Tanjung, alasannya biar nggak rancu.
Selain itu ada lagi Argo Peuyeum di rute Padalarang-Cianjur PP. Nama ini memang bukan nama resmi, KA Lokal Cianjuran. Sebutan Argo Peuyeum asalnya dari banyaknya pedagang peuyeum yang menggunakan kereta tersebut. Jangan lupa ada Stasiun Cipeuyeum di lintas itu.
Namun bulan September 2012, KA Lokal Cianjuran berhenti beroperasi karena sarana yang udah uzur dan okupansi minim. Terutama setelah upgrade dari ekonomi ke bisnis dan penerapan tarif komersial. Jalur legendaris itu juga nggak kebagian alokasi PSO.
Barulah setelah itu muncul fenomena Argo Kok Ekonomi lewat Argo Parahyangan Premium. Pada 2 Januari 2019, KA Argo Parahyangan Premium rebranding jadi KA Pangandaran dengan menambah rangkaian kereta eksekutif SSG1. Seiring waktu sarana Premium nya pun ikut kebagian K3 SSG1.
KA Pangandaran sempat berhenti beroperasi saat Pandemi Covid-19 dan kembali dinas pada Januari 2024.


Leave a Reply