Siapa sangka dibalik nama unik Stasiun Glenmore, ada jejak Eropa yang tertinggal. Namun sayang, sampe sekarang stasiun ini belum melayani angkutan penumpang. Padahal waktu KA Pandanwangi BLB di sini okupansinya cukup tinggi. Apa aja potensi stasiun ini yang bisa jadi alasan dibuka lagi?
Pendahuluan
Kabupaten Banyuwangi ternyata menyimpan sebuah keunikan. Salah satu kecamatan di sini punya nama unik, yaitu Glenmore. Beda banget kan? Nggak kaya nama kecamatan yang umum dipake di Pulau Jawa. Apalagi di Jawa Timur. Ternyata dibalik keunikan nama tersebut ada jejak eropa yang tertinggal di dalamnya.
Kecamatan ini punya satu stasiun kereta. Namun sayang stasiunnnya nggak ada layanan penumpang. Meski sempat dipake BLB KA Pandanwangi di bulan Agustus sampe September 2025 kemarin. Seperti apa potensi stasiun di kecamatan unik ini?
Stasiun Glenmore, Ngikutin Nama Kecamatannya.
Stasiun Glenmore, namanya yang begitu unik ternyata diambil dari nama kecamatan tempat stasuiun kelas 3 ini berada. Seperti yang lain di Lintas Kalisat-Banyuwangi, stasiun ini dibangun Staats Spoorwegen (SS) dan mulai beroperasi tahun 1903. Posisinya di sebelah barat Stasiun Kalibaru dan timur Sumberwadung.
Pembangunan stasiun di sini jelas nggak bisa dilepas dari kepentingan angkutan hasil bumi. Sejak era kolonial, di sini memang banyak perkebunan. Sampe pemerintah kolonial sendiri sempat mengundang investor untuk menanamkan modal di kecamatan ini pada tahun 1906.
Sejarah Singkat Kecamatan Glenmore
Nah sekarang kita coba bahas sejarah singkat kecamatan dimana Stasiun Glenmore berada. Jadi setelah pemerintah Belanda “nyebar” undangan itu, salah satu yang respon adalah Ros Taylor seorang pengusaha asal Inggris.

Beliau membeli tanah seluas 163.800 hektare di lereng Gunung Raung dari pemerintah Belanda pada tahun 1910. Nah di tanggal 2 November 1910, Ros Taylor memulai usaha perkebunannya dan membangun Glenmore Estate di Desa Margomulyo sekarang.
Nama Glenmore itu asalnya dari Bahasa Gaelik (asli Skotlandia) yakni “Great Glen” atau “Bukit Besar”. Merujuk pada dataran tinggi yang luas dan udara sejuk. Nah jadi seperti itu ya sejarah singkat kecamatan yang namanya ‘rada anomali’ untuk ukuran Jawa.
Tambang Uang Pemerintah Kolonial
Nggak hanya mengundang investor kaya Ros Taylor, Pemerintah Kolonial melalui Staats Spoorwegen (SS) juga bangun stasiun di sini. Karena banyak perkebunan, kecamatan ini jadi salah satu tambang uang pemerintah kolonial waktu itu. Jejak perkebunan peninggalan kolonial itu masih bisa dijumpai sampe sekarang.
Stasiun Glenmore Tanpa Layanan Penumpang, Meski Pernah BLB Pandanwangi
Sayang meski punya nilai sejarah dan potensi yang bagus, Stasiun Glenmore masih tanpa layanan penumpang. Meskipun begitu, waktu Jalan Raya Gunung Gumitir lagi perbaikan, stasiun ini sempat jadi salah satu tempat BLB KA Pandanwangi.

Nggak hanya itu, waktu BLB itu juga KA Pandanwangi mencatat traffic cukup tinggi dari Stasiun Glenmore. Bahkan waktu BLB nya selesai di akhir September 2025, banyak yang minta supaya pemberhentian di sini berlaku buat seterusnya. Pada akhirnya pola operasional KA Pandanwangi balik lagi seperti sediakala.
Alasan Kenapa Stasiun Glenmore Mesti Dibuka
Bukan cuma okupansi bagus selama dua bulan itu. Ternyata ada potensi wisata juga yang bisa jadi alasan Stasiun Glenmore dibuka untuk layanan penumpang. Satu yang jelas ialah wisata sejarah. Terutama tentang asal usul namanya yang berbau Eropa.
Glenmore Estate yang dirintis Ros Taylor tahun 1910 sendiri masih eksis sampe sekarang dan jadi PT. Perkebunan Glenmore. Di sini bisa gabungin agrowisata dan wisata sejarah.
Selain itu, ada lagi Air Terjun Kembar Legomoro, Umbul Bening, hingga acara kaya Glenmore Food Market di Hutan Pinus punya PT. Perkebunan Nusantara XII Perkebunan Kalikempit.
Jadi bukan sekedar euforia sesaat BLB KA Pandanwangi. Okelah penumpang paling banyak berasal dari sini, tapi kalo dijadiin stasiun pemberhentian KA Pandanwangi memang harus tunggu Gapeka baru dulu. Begitu juga untuk kereta lain yangf mungkin aja bisa nambahin Glenmore jadi salah satu stasiun pemberhentian.
Kesimpulan
Stasiun Glenmore namanya mengikuti kecamatan tempat stasiun berada yang ternyata punya ejak Eropa yang begitu kental. Terutama berkaitan dengan Glenmore Estate yang dirintis oleh Ros Taylor tahun 1910. Perkebunan itu masih eksis sampe sekarang dan jadi PT. Perkebunan Glenmore.
Meski punya jejak Eropa yang tertinggal, stasiun masih belum punya layanan penumpang. Padahal masih ada potensi wisata lain kaya Air Terjun Kembar Legomoro, Umbul Bening, sampe kegiatan kaya Glenmore Food Market.
Semoga aja ini bisa jadi pertimbangan di Gapeka baru nanti. Karena untuk nambah stasiun pemberhentian yang sama aja merubah pola perjalanan, baik KA Pandanwangi atau lainnya, mesti nunggu Gapeka baru.


Leave a Reply