Trip KA Wijayakusuma Banyuwangi Jember vs KA Pandanwangi: Mana Lebih Cepat dan Nyaman?

·

Trip KA Wijayakusuma Banyuwangi Jember vs Pandnawangi _ Mana Lebih Cepat dan Nyaman

Tujuan akhir ke Surabaya Gubeng, tapi di etape pertama Trip KA Wijayakusuma Banyuwangi Jember seolah mengulang lagi Fun Trip Pandanwangi dua hari sebelumnya. Jadi aja serupa tapi tak sama, pemandangan juga masih sama. Sekarang tinggal mana yang lebih cepat dan nyaman dari dua kereta tersebut?

Pendahuluan

Setelah nyelesein segala aktivitas di Banyuwangi, sekarang waktunya balik kanan ke Surabaya. Atas pertimbangan jadwal yang enak, KA Wijayakusuma pun dipilih untuk mengantar balik ke Surabaya. Tapi ada sedikit fenomena, terutama di etape pertama kereta itu, yakni di segmen Banyuwangi Jember.

Pasalnya dua hari sebelumnya sempat ngelakuin Fun Trip KA Pandanwangi Banyuwangi Jember. Sebagai bagian dari aktivitas di Banyuwangi sejak tanggal 10 Agustus 2025.

Di Fun Trip itu nampak banget KA Pandanwangi adalah anomali nya kereta komuter lokal. Nggak kaya lazimnya lokalan, Pandanwangi cuma berhenti di beberapa stasiun. Itu yang jadiinnya lebih ke kereta Rapid ketimbang Lokal.

Tapi pada perjalanan itu juga kita dapetin si anomali lagi turun kelas ke Semi Rapid. Karena ada BLB di beberapa stasiun lagi seperti: Sumberwadung, Glenmore, Garahan, Sempolan, dan Ledokombo.

Fun Trip juga diisi dengan backriding Gunung Gumitir. Nah di perjalanan naik KA Wijayakusuma ini juga kita bakalan lewatin lagi kawasan itu. Meski nggak lagi backriding tentunya. Ya, masih serupa tapi nggak sama. Pemandangan juga masih sama. Kira-kira nih, dimana ya letak bedanya?

Sekilas Tentang KA Wijayakusuma dan Pandanwangi

Sebelum lanjut, ada baiknya kita kenalan dulu sama dua kereta yang bisa jadi alternatif perjalanan dari Banyuwangi ke Jember dan sebaliknya. Pertama, KA Wijayakusuma. Sebenarnya kereta ini melayani rute Ketapang Cilacap PP. Awal dinas di rute Yogyakarta Cilacap PP, tapi karena faktor okupansi, diperluas ke Ketapang.

Perluasan rute tersebut menjadikannya salah satu kereta dengan rute terjauh di Indonesia. Kereta ini punya layanan kereta eksekutif dan ekonomi premium. Kedua, KA Pandanwangi. Belum diketahui pasti kapan kereta ini pertama kali dinas. Tapi satu yang pasti pernah ada Pandanwangi juga di rute Semarang Solo PP.

KA Pandanwangi ini sejatinya adalah kereta Rapid. Karena disebut kereta lokal pun nggak pas karena hanya berhenti di beberapa stasiun aja. Dari jumlah stasiun pemberhentian, KA Pandanwangi ini lebih banyak berhenti daripada Wijayakusuma.

Trip KA Wijayakusuma Banyuwangi Jember : “Koreksi” Fun Trip Sebelumnya

Nah sekarang saatnya ke pembahasan utama, Trip KA Wijayakusuma Banyuwangi Jember. Seperti udah dijelasin di pembuka, ini adalah bagian dari trip ke Stasiun Surabaya Gubeng. Etape pertama mengambil koridor Banyuwangi Jember yang udah dijelajahi dua hari sebelumnya lewat Fun Trip KA Pandanwangi.

Cuma kalo kamu udah nonton videonya, kamu bakal temuin beberapa perbedaan. Meskipun sejatinya pemandangan masih sama. Jadi bisa dibilang, etape pertama menuju Stasiun Jember ini adalah koreksi Fun Trip sebelumnya.

Berangkat dari Stasiun Banyuwangi Kota

Sama kaya Fun Trip KA Pandanwangi, perjalan ini juga mulainya dari Stasiun Banyuwangi Kota. Stasiun yang dulunya bernama Karangasem ini merupakan titik masuk utama ke Kota Banyuwangi. Meski nggak bisa dibilang dekat banget, jarak ke pusat kota masih lebih dekat ketimbang dari Ketapang.

Stasiun ini melayani semua perjalanan KA Jarak Jauh dan Rapid. Termasuk KA Pandanwangi dan Wijayakusuma. Selain itu, kalo kamu perhatiin, stasiun Banyuwangi Kota ini juga sering ditongkrongin sama Turis Asing.

Biasanya mereka yang bakal atau baru aja berpetualang ke Kawah Ijen. Untuk ke sana memang dekatnya dari sini.

KA Wijayakusuma di Jalur 2 Stasiun Banyuwangi Kota

Setelah nunggu beberapa saat, KA Wijayakusuma masuk di Jalur 2 Stasiun Banyuwangi Kota. Berarti perjalanan akan dimulai dari sini. Nah, Fun Trip yang kemarin juga sama, KA Pandanwangi-nya berangkat dari Jalur 2 Stasiun Banyuwangi Kota.

Tapi ada sedikit beda lho sama Fun Trip itu. Kalo di Fun Trip KA Pandanwangi itu duduknya di kereta urutan belakang (nomor 2 dari belakang), sekarang di kereta nomor 4 di bagian depan. Kalo dilihat stamformasinya dari arah Ketapang ke Surabaya Gubeng, itu artinya kereta eksekutif nomor 4.

Nggak lama kemudian, KA Wijayakusuma berangkat dari Stasiun Banyuwangi Kota. Bersamaan itu juga ucapkan terima kasih untuk 4 hari yang sangat menyenangkan di Tanah Suku Osing. Semoga bisa balik lagi ya!

Jalur Kereta Pertama Buatan Indonesia (Di Pulau Jawa)

Trip KA Wijayakusuma Banyuwangi Jember kini memasuki Lintas Kabat Ketapang. Jalur kereta pertama buatan Indonesia yang ada di pulau Jawa. Nah ini sepertinya ngoreksi lagi nih. Lintas Kabat Ketapang kan dibangun 1984 dan beroperasi 1985. Meski yang pertama di Jawa tapi bukan pertama banget di Indonesia.

Karena masih ada Jalur Kereta Indarung – Bukit Putus yang beroperasi 1979 di Kota Padang, Sumatera Barat. Ini nih yang pertama banget buatan Indonesia. Jalur ini dibangun untuk angkutan semen dari Pabrik PT. Semen Padang di Indarung. Sebagai ganti dari lori gantung yang udah ada sejak era Kolonial Belanda.

Jadi kalo ukurannya nasional, Lintas Kabat Ketapang ini yang kedua buatan anak bangsa. Tapi untuk ukuran Pulau Jawa, ini jadi yang pertama. Bagian dari Jalur Kereta Api Ketapang.

Melintas Langsung Stasiun Kabat Baru (Sayang Banget Sih)

KA Wijayakusuma melintas langsung Stasiun Kabat Baru (Stasiun Kabat Banyuwangi) yang terletak nggak jauh dari Gudang Pusri. Meski disebut baru, stasiun ini udah lama non aktof dan kondisinya sangat memprihatinkan. Duh sayang banget sih, secara dekat ke Banyuwangi Park.

Ada Kabat Baru berarti ada Kabat Lama. Yup, Stasiun Lama peninggalan Staats Spoorwegen (SS) itu ada di sebelah barat Pabrik Pusri. Di sini juga ada rumah sinyal dan bekas percabangan ke Stasiun Banyuwangi Lama yang udah lama non aktif.

Stasiun Rogojampi dan Tragedi Sungai Logonto 1981

KA Wijayakusuma tiba dan berhenti di Stasiun Rogojampi. Lumayan sih yang naik di sini. Nggak lama kemudian berangkat lagi. Trip KA Wijayakusuma Banyuwangi Jember pun melintas Jembatan Sungai Logonto.

Nah inilah saksi bisu Tragedi Sungai Lugonto tahun 1981. Waktu itu pernah ada PLH di sini. Tanggal 28 Juni 1981, Kereta Api Mutiara Timur melaju kencang dari arah barat menuju Stasiun Banyuwangi Lama. Bersiap memasuki Stasiun Rogojampi.

TKP Tragedi Sungai Lugonto Tahun 1981

Sayang ketika hendak menyeberangi jembatan, dua gandar dari salah satu kereta anjlok dan terseret 300 meter. Satu kereta kelas 2 dengan nomor BW 9004 menabrak pangkal jembatan dan terjun ke Sungai Logonto. Sementara kereta-kereta lainnya mengalami anjlok. Lokomotif BB 30329 dan CW 9453 tetap di rel.

Tragedi Sungai Lugonto memakan korban 11 penumpang meninggal dunia dan puluhan lainnya luka-luka. Balik lagi ke trip, dua hari sebelumnya di KA Pandanwangi juga berhenti di Rogojampi dan meneyberangi jembatan ini.

Melintas Langsung Stasiun Temuguruh dan Berhenti Kalisetail.

KA Wijayakusuma melintas langsung Stasiun Temuguruh. Nah di sini mulai beda nih sama KA Pandanwangi sebelumnya. Waktu Fun Trip berhenti di sini. Bahkan pas perjalanan balik ke Stasiun Banyuwangi Kota sempat silangan sama KA Blambangan Ekspres yang juga berhenti di sini. Tapi sekarang skip dulu ya.

Selepas Temuguruh, KA Wijayakusuma berhenti di Stasiun Kalisetail. Stasiun yang jadi pintu masuk Banyuwangi Selatan. Ini sama kaya Pandanwangi yang juga berhenti di stasiun yang namanya berasal dari Sungai Kalisetail ini.

Melintas Langsung Sumberwadung dan Glenmore

Nggak terasa udah nyampe aja di Sumberwadung. Jadi ingat dua hari sebelumnya KA Pandanwangi singgah di sini. Walaupun tau sebenarnya itu cuma BLB sampe akhir September. Tapi di Trip KA Wijayakusuma Banyuwangi Jember kali ini melintas langsung ya.

Sama juga di Stasiun Glenmore yang sebelumnya jadi tempat BLB KA Pandanwangi. Pada perjalanan kali ini juga di skip. Oh ya, kalo KA Pandanwangi dalam kondisi normal, itu melintas langsung juga di dua stasiun ini. Tapi karena lagi ada perbaikan Jalan Raya Gunung Gumitir, jadi aja di BLB in di sini sampe akhir September 2025.

Stasiun Kalibaru, Siap-Siap Gunung Gumitir Lagi

Trip KA Wijayakusuma tiba dan berhenti di Stasiun Kalibaru. Stasiun paling barat di Kabupaten Banyuwangi. Sekaligus jadi akses utama pendaki berpengalaman yang hendak melakukan pendakian ke Gunung Raung yang terkenal ekstrem.

Nah kalo udah liat Stasiun Kalibaru nih, itu artinya siap-siap “mendaki” Gunung Gumitir lagi. Menikmati pemandangan eksotis dengan dua terowongan bersejarah dan 7 bentang jembatan di antara kedua terowongan itu. Singkat cerita, KA Wijayakusuma berangkat lagi dari Stasiun Kalibaru.

Oh iya, tambahan lagi, KA Wijayakusuma nggak lagi nyilang atau susul kereta lain. Kaya waktu Pandanwangi yang sekalian bersilang sama KA Probowangi.

Kembali ke Gunung Gumitir (Mode Normal)

Akhirnya kita kembali nih ke Gunung Gumitir. Pemandangannya masih sama kaya sebelumnya. Juga Terowongan Mrawan dan Garahan pun tetap sama. Nggak ada yang berubah. Bedanya cuma sekarang pake mode normal. Nggak lagi backriding.

Terowongan Mrawan

Terowongan Mrawan juga masih sama. Bedanya sekarang nggak lihat bagian depannya karena mode normal. Cuma sampingnya aja. Terus nggak lama setelah keluar dari Terowongan Mrawan, giliran Jembatan Mrawan yang terdiri dari 3 bentang dilewati KA Wijayakusuma.

Jembatan Mrawan, Titik Tertinggi Gunung Gumitir

Mulai dari Jembatan Mrawan 3 setelah Stasiun Mrawan. Jembatan ini membentang di atas jalan raya, sungai Mrawan, dan kompleks perkebunan kopi milik PT. Perkebunan Nusantara.

Setelahnya giliran Jembatan Mrawan 2 di atas pabrik milik PTPN yang dilewati. Jarak antara Jembatan 3 dan 2 nggak terlalu jauh. Keduanya bukan bentang ekstrem meski lumayan tinggi.

Trip KA Wijayakusuma Banyuwangi Jember Melintas Jembatan Mrawan 3

Nggak lama kemudian, Trip KA Wijayakusuma Banyuwangi Jember menyeberangi Jembatan Mrawan 1 yang memiliki bentang paling panjang. Jembatan ini tepat di atas perkebunan kopi. KA Wijayakusuma kini berada di titik tertinggi Gunung Gumitir. Celah yang diapit Pegunungan Ijen di utara dan Betiri di selatan.

Terowongan Garahan

Perjalanan masih melewati 4 bentang jembatan lagi yang ukurannya lebih kecil sampe akhirnya memasuki Terowongan Garahan. Oh iya, jalur kereta di Gunung Gumitir ini didominasi hutan dan perkebunan. Ini kelihatan banget saat ngambil mode normal.

Balik ke Terowongan Garahan, sebenarnya ini terowongan pendek tapi konturnya menikung. Udah gitu ukurannya kecil juga. Makanya waktu ujicoba rangkaian SSNG yang body nya besar hampir nyangkut di sini.

Keberadaan terowongan ini (dan Mrawan) jadi alasan kenapa Lintas Kabat-Ketapang sampe sekarang belum bisa dilewati rangkaian kereta Stainless Steel New Generation (SSNG). Jadi kereta yang bisa lewat sini maksimal Stainless Steel Generasi ke-1 (SSG1).

Akhir Jalur Gunung Gumitir di Stasiun Garahan

Perjalanan pun kini tiba di titik akhir Gunung Gumitir, yakni Stasiun Garahan. Beda dengan Fun Trip KA Pandanwangi yang lalu, KA Wijayakusuma melintas langsung di sini. Sebenarnya kalo nggak ada BLB, Pandanwangi juga skip Stasiun Garahan.

Trip KA Wijayakusuma Bablas Lagi Sempolan dan Ledokombo

KA Wijayakusuma bablas lagi di dua stasiun “kecil” yakni Stasiun Sempolan dan Ledokombo. Fun Trip kemarin, KA Pandanwangi juga berhenti di kedua stasiun ini. Sama kaya di Stasiun Garahan, pemberhentian di dua ini juga BLB sampe akhir September 2025.

Percabangan ke Panarukan (Dulunya Lintas Utama Lho!)

Nggak kerasa perjalanan kita udah mau nyampe di Stasiun Kalisat aja. Namun sebelum masuk stasiun itu, lebih dulu KA Wijayakusuma melintas langsung di JPL 01 di Jalan Raya Kalisat Sempolan. Sebenarnya kalo kebagian di jendela kanan, itu bakal lihat jembatan kereta. Itu adalah jembatan jalur kereta Kalisat Panarukan.

Titik Percabangan Jalur Kereta Kalisat Panarukan

Nggak jauh dari situ, perjalanan kita pun melewati titik percabangan antara lintas Kalisat Ketapang dan Jalur Kereta Kalisat Panarukan. Oh iya, sebagai tambahan info, Jalur Kereta Kalisat Panarukan ini lebih dulu dibangun yaitu pada tahun 1893 dan beroperasi 1897. Bahkan dulunya justru ini lintas utama.

Sementara jalur kereta Kalisat Ketapang yang kita lewatin di Trip KA Wijayakusuma Banyuwangi Jember ini asalnya lintas cabang. Namun seiring waktu, jalur ini naik kelas jadi lintas utama di Daop 9 Jember.

Trip KA Wijayakusuma Banyuwangi Jember : Ternyata Skip di Stasiun Kalisat

Perjalanan kita pun akhirnya memasuki Stasiun Kalisat. Nggak disangka meskipun sebenarnya stasiun besar di segmen timur Kabupaten Jember, KA Wijayakusuma ternyata skip alias melintas langsung di sini.

Nah sekali lagi beda sama Fun Trip KA Pandanwangi yang berhenti di sini. Bahkan ketika Fun Trip itu juga sempat ngira bahwa percabangan ke Panarukan itu ada di stasiun ini. Tapi ternyata masih sekitar 1 km lagi, atau 500 meter sebelum PJL 01 Jalan Raya Kalisat Sempolan.

Wah Ternyata Masih Ada Stasiun Arjasa (Plus Jembatan Sungai Bedadung)

Akhir etape pertama yakni Stasiun Jember semakin dekat. Apalagi setelah Kalisat, cuma ada stasiun kecil tanpa layanan penumpang macam Kotok. Benar aja, KA Wijayakusuma nggak berhenti di sini. Tapi yang nggak disangka setelah Kotok itu masih ada Stasiun Arjasa, terakhir sebelum tiba di Jember.

Antara Stasiun Kotok dan Stasiun Arjasa, terdapat Jembatan Sungai Bedadung yang lagi upgrade. Sungai Bedadung ini yang melintas di bawah Jembatan Semanggi, salah satu icon wisata Jember.

Tiba di Stasiun Jember

Trip KA Wijayakusuma telah memasuki Kota Jember. Akhir etape pertama pun kini tinggal sejengkal lagi. Benar aja, nggak perlu menunggu terlalu lama, KA Wijayakusuma akhirnya tiba dan berhenti di Stasiun Jember. Beda sama sebelumnya, KA Wijayakusuma masuk Jalur 1 Stasiun Jember.

Di jalur 3, ada Kereta Api Mutiara Timur. Sang legenda lagi siap-siap mau berangkat lagi menuju Stasiun Ketapang. Benar aja, beberapa saat kemudian, sang legenda pun perlahan meninggalkan Stasiun Jember.

Seperti udah dijelasin sebelumnya, Trip KA Wijayakusuma Banyuwangi Jember ini bagian dari trip ke Stasiun Surabaya Gubeng. Jadi kita udah menempuh sepertiga dari keseluruhan perjalanan.

Lebih Cepat Mana ? (Perbandingan KA Wijayakusuma vs KA Pandanwangi)

Dilihat dari sisi stasiun pemberhentiannya, KA Wijayakusuma ini jelas lebih cepat dari KA Pandanwangi. Dalam kondisi normal, di segmen Stasiun Banyuwangi Kota ke Stasiun Jember, KA Pandanwangi juga berhenti di Stasiun Temuguruh dan Stasiun Kalisat. Sedangkan KA Wijayakusuma melintas langsung di keduanya.

Cuma di trip kali ini, kebetulan KA Pandanwangi nya lagi turun kelas sementara waktu jadi semi rapid. Dengan nambah berhenti di Stasiun Sumberwadung, Glenmore, Garahan, Sempolan dan Ledokombo.

Kalo soal banding-bandingin sih, sejujurnya ini nggak apple to apple. Karena dari segi kelas aja udah beda jauh. KA Wijayakusuma adalah KA Jarak Jauh dan status nya Limited Expres, dengan layanan eksekutif dan ekonomi premium. Adapun KA Pandanwangi adalah Rapid Lokal. Apalagi dari sisi harga itu jauh banget.

In this case, bandingan KA Wijayakusuma sama KA Pandanwangi cuma dari sisi kecepatan dan stasiun pemberhentiannya aja. Kesimpulan akhir udah ketebak ya, KA Wijayakusuma Lebih Cepat dari Pandanwangi!

Mana Lebih Nyaman ?

Sebagaimana lazimnya ada harga ada kualitas, dengan tarif yang mahal dan kelas yang jauh di atas, tentu KA Wijayakusuma unggul jauh dalam hal kenyamanan. KA Pandanwangi menggunakan sarana ekonomi 106 penumpang. Kursinya tegak dan adu dengkul.

Memang sih jaraknya nggak jauh, tapi buat sebagian orang, kursi tegak dan adu dengkul itu nggak nyaman. Apalagi kebagian kursi mundur. Walaupun kalo ambil Ekonomi Premium nya Wijayakusuma masih ada risiko kebagian kursi mundur.

Paling nggak di situ kursinya masih bisa direbahin dan nggak adu dengkul. Kecuali kalo ngambil atau kebagian di tengah (kursi 10-11).

Beberapa “Koreksi” di Trip KA Wijayakusuma Banyuwangi Jember

Sebagai penutup, Trip ini adalah semacam “koreksi” dari Fun Trip KA Pandanwangi sebelumnya. Terlebih bila kamu tonton video-nya, itu banyak banget kekurangan di situ. Alhamdulillah, kekurangan itu udah tercover di Trip KA Wijayakusuma Banyuwangi Jember.

Berikut adalah beberapa spot yang nggak ada di Fun Trip KA Pandanwangi, lalu di koreksi dan dilengkapi di sini:

  1. Stasiun Kabat Banyuwangi (Kabat Baru), yang kondisinya ngenes padahal nggak jauh dari Banyuwangi Park.
  2. Kampus Politeknik Negeri Banyuwangi, sebelum tiba di Rogojampi.
  3. Spot antara Stasiun Kalisat dan Kalibaru, dimana terdapat Stasiun Sumberwadung dan Glenmore
  4. Spot antara Stasiun Garahan dan Stasiun Kalisat, dimana Sempolan dan Ledokombo-nya juga ke skip.
  5. Titik percabangan sama Jalur Kereta Kalisat Panarukan, ternyata 1 km dari Stasiun Kalisat
  6. Jembatan Sungai Bedadung, kalo nggak salah sempat kerekam tapi nggak dijelasin di Fun Trip KA Pandanwangi.
  7. Stasiun Arjasa, waktu Fun Trip dikiranya abis Kotok langsung Stasiun Jember. Padahal di petak antara keduanya masih ada Stasiun Arjasa. Juga Jembatan Sungai Bedadung sebelumnya.

Meski nggak bisa dicompare dari segi kelas, paling nggak Trip KA Wijayakusuma ini bisa melengkapi kekurangan dari Fun Trip sebelumnya.

Kesimpulan

Dari Trip KA Wijayakusuma Banyuwangi Jember dan Fun Trip KA Pandanwangi sebelumnya bisa kita ambil kesimpulan:

  1. KA Wijayakusuma dan Pandanwangi itu beda jenis. KA Wijayakusuma adalah KA Jarak Jauh dan Limited Express. Sementara KA Pandanwangi lebih ke Lokalan Rapid yang pemberhentiannya nggak banyak.
  2. Dari segi stasiun pemberhentian, KA Wijayakusuma lebih sedikit. Di sini aja udah kelihatan kereta ini lebih cepat waktu tempuhnya dibanding KA Pandanwangi.
  3. Soal kenyamanan juga susah dibandingkan. KA WIjayakusuma jauh lebih nyaman dari segi apapun. Jangankan eksekutif, ekonomi premium-nya pun masih lebih nyaman karena bisa direbahin dan nggak adu dengkul (kecuali nomor 10-11). Meski masih ada risiko kebagian kursi mundur.

Lanjut ke Perjalanan KA Wijayakusuma Jember Bangil

InSyaaAlloh karena trip ini tujuan akhirnya Stasiun Surabaya Gubeng, pembahasan masih akan lanjut. Next adalah Perjalanan KA Wijayakusuma Jember Bangil. Stay tune ya!

Comments

Leave a Reply