Jangan Misuh! (Kemenkeu Ambil Saham Whoosh)

Jangan Misuh Lagi Ya (Kemenkeu Ambil Saham Whoosh)

Target September nanti, Kemenkeu ambil saham Whoosh punya BUMN di KCIC (60%). Dalam rangka beresin utangnya yang besar. Jelas ini kabar bagus buat BUMN, utamanya KAI, yang nantinya nggak perlu lagi nanggung utang trilyunan. Bukan hanya itu, rencana perpanjangan rute juga udah disiapin.

Pendahuluan

Meski kinerjanya bagus dan semakin banyak menarik peminat, masalah utang Whoosh ternyata masih terus membayangi. Sebagus apapun okupansinya ternyata itu masih belum cukup menutupi gorengan utang yang sesekali muncul ke permukaan.

Terakhir ini aja misalnya, ada satu media besar punya bos besar pemilik retail besar yang mengangkat lagi isu ini. Di tengah capaian positif moda transportasi modern berbasis rel itu. Nah nggak lama berselang kabar baik pun datang. Kali ini dari Menteri Keuangan yang udah mantap mau mengambilalih pengelolaan Whoosh ke depannya.

Selama ini, utang Whoosh yang membengkak akibat cost Overrun memang ditanggung oleh gabungan 4 BUMN pemilik 60% saham di KCIC. Sementara pihak Tiongkok yang punya 40% menanggung lebih sedikit. Nah porsi besar itu ternyata bikin BUMN megap-megap.

Bahkan Laba KAI sebagai pimpinan konsorsium tertekan bolak balik cuma buat bayar utang itu. Bahkan mungkin baru bunganya aja, belum termasuk pokok pinjaman. Untungnya pemerintah nggak lepas tangan. Datanglah menteri keuangan ngasih solusi supaya 60% saham KCIC itu di take over.

Dari Jepang ke Tiongkok

Proyek Kereta Cepat Jakarta Bandung (KCJB) sebenarnya udah direncanain sejak 2012. Waktu itu rencananya mau kerjasama sama Jepang. Dari pihak mereka udah sempat buat studi kelayakan. Nah di 2014 pemerintahan berganti dan proyek ini tetap lanjut. Awalnya masih bareng Jepang.

Tapi dalam perjalanan terjadi dinamika ketika Tiongkok masuk. Dimana mereka janjiin sesuatu yang nggak bisa dipenuhi oleh Jepang, Alih teknologi. Meski biaya investasinya lebih tinggi dari Jepang.

Biaya tinggi itu karena dari Tiongkok bisa tanpa jaminan pemerintah alias Business To Business (B to B). Sementara Jepang maunya ada jaminan pemerintah. Lantas dipilihlah Tiongkok untuk garap proyek besar ini dan mulailah proses pengerjaan. Targetnya KCJB mulai beroperasi 2021.

Nggak Mulus Gegara Pembebasan Lahan dan Pandemi Covid-19

Sayang pengerjaan proyek nggak berjalan mulus. Pembebasan lahan berlarut-larut ditambah tahun 2021 ada Pandemi Covid-19 yang bikin pengerjaan sempat terhenti. Walaupun akhirnya dilanjutin lagi. Alhasil pengerjaan pun jadi molor. Sehingga muncul Cost Overrun atau pembengkakan biaya.

Nggak Sesuai Rencana Awal (Termasuk Pake APBN)

Target operasi 2021 nggak tercapai. Otomatis BUMN yang tergabung dalam Pilar Sinergi BUMN Indonesia yang punya saham 60% di KCIC mulai menanggung kerugian. Masalahnya PT. KAI aja waktu itu mengalami kerugian akibat kebijakan larangan perjalanan jarak jauh. Dampak Pandemi Covid-19.

Nah supaya nggak makin terbebani, akhirnya pemerintah pun turun tangan buat nalangin Cost Overrun itu pake APBN. Di sini udah nggak sesuai rencana ya, karena ujung-ujungnya “bongkar celengan” juga. Tambah lagi proyek Kota Raya Walini yang satu paket ikutan batal gegara Pandemi juga.

Padahal properti di Kota Raya Walini itu bakal dijadiin Revenue Stream KCIC selain pemasukan dari tiket. Stasiun Walini nggak jadi dibangun dan akhirnya pindah ke Padalarang. Oke sekali lagi semua nggak sesuai rencana awal. Meski Kereta Cepat Jakarta Bandung (KCJB) akhirnya beroperasi 1 Oktober 2023 dan dinamai Whoosh.

Minat Tinggi Tapi Dihantui Utang Besar

Sejak awal beroperasi, minat masyarakat menggunakan Whoosh cukup tinggi. Bahkan di musim-musim liburan seringkali keretanya penuh. Sayangnya karena cost overrun itu tadi, utang besar terus menghantui keberhasilan Whoosh. Meski okopansi tinggi, KCIC tetap mencatat kerugian akibat utang itu.

PT. KAI sebagai pimpinan konsorsium harus menanggung porsi paling besar. Makanya meski mencatat pemasukan tinggi tapi keuntungannya terus tertekan akibat tanggungan Utang Whoosh itu.

Kemenkeu Ambil Saham Whoosh, Bagian Rekonstruksi Utang

Untungnya pemerintah nggak tinggal diam melihat gabungan BUMN harus nanggung rugi akibat utang besar. Proses rekonstruksi utang pun mulai dikerjakan. Salah satu langkahnya, Kementerian Keuangan (Kemenkeu) akan mengambil 60% saham BUMN di KCIC. Dimana nantinya kepemilikan Whoosh akan beralih ke pemerintah lewat Kementerian Keuangan.

Pengambil alihan saham gabungan BUMN di PT. PSBI itu sebagai salah satu langkah buat rekonstruksi utang. Biar gimanapun juga gabungan BUMN itu, terutama KAI, nggak bisa selamanya menanggung utang besar yang bisa ngefek ke operasional perusahaan.

Nggak Langsung APBN Tapi Pake SMV

Nah, setelah Kemenkeu Ambil Saham Whoosh, otomatis itu kan nggak lagi dibawah BUMN. Berarti utangnya dibayar pake APBN dong? Nggak gitu, Kemenkeu sendiri punya lembaga yang namanya Special Mission Vehicle (SMV). Nah SMV itu nantinya yang nge-handle Whoosh, termasuk utang besarnya. Jadi nggak langsung pake APBN.

Target September 2026 Kemenkeu Ambil Saham Whoosh

Lagi dan lagi utang Whoosh jadi gorengan media. Padahal Whoosh baru aja mencatat kinerja positif di masa liburan sekolah. Peminatnya semakin nambah. Namun ditengah euforia itu, muncul isu laporan keuangan KAI yang labanya masih tertekan akibat utang Whoosh. Makanya isu utang itu jadi gorengan lagi. Walaupun sekarang nggak semasif dulu.

Target September Akan Dikelola SMV Kementerian Keuangan

Nah nggak lama setelahnya, Pak Menteri bilang udah sepakat sama Danantara buat take over 60% saham BUMN di KCIC. Targetnya September 2026 ini Kemenkeu mengambil alih kepemilikan saham itu sebagai langkah buat penyelesaian utang. Beliau juga bilang, pasca take over Whoosh akan berada di bawah SMV-nya Kementerian Keuangan. Bukan dibawah KAI lagi.

Jadi setelah take over, KAI dan BUMN lainnya yang gabung di PSBI nggak perlu pusing lagi nanggung utang Whoosh.

Kemenkeu Ambil Saham Whoosh: Ada Rencana Perpanjangan ke Jawa Timur

Bukan soal penyelesaian utang aja. Kementerian Keuangan juga udah punya rencana buat memperpanjang Whoosh ke Jawa Timur. Hal ini sebetulnya udah pernah didorong sama pihak Tiongkok yang punya porsi saham 40% di KCIC.

Kemenkeu Juga Siapkan Rencana Perpanjangan ke Jawa Timur

Bisa jadi nanti SMV nya nggak cuma satu. Ada yang handle utang, ada yang handle soal perpanjangan rute ke Surabaya sampe Tapal Kuda, dan lainnya. Intinya ini jadi kabar baik lainnya. Jujur aja, rute Whoosh yang sekarang ini cuannya kurang banget. Makanya didorong buat perpanjangan ke Jawa Timur buat naikin cuan.

Siapa tau juga nggak hanya perpanjangan ke Jawa Timur. KCIC nanti juga bisa lebih leluasa lagi membangun aset baru yang bisa nambah pemasukan disamping dari tiket sebagai sumber pemasukan utama. Harus diakui aset KCIC yang ada sekarang masih kurang. Bahkan belum ngimbangi kewajibannya.

Kesimpulan

Target bulan September 2026 nanti, Kementerian Keuangan (kemenkeu) Ambil Saham Whoosh. Pengambil alihan 60% sahama BUMN di KCIC ini sebagai bagian dari restrukturisasi utang besar yang masih terus menghantui kesuksesan Whoosh saat ini.

Meskipun begitu bukan berarti nanti akan libatin APBN langsung. Ada Special Mission Vehicle (SMV) yang akan jadi pengelola Whoosh. Nggak cuma itu, Kemenkeu sendiri udah punya rencana buat perpanjangan ke Jawa Timur.

Siapa tau dengan take over ini juga KCIC bisa nambah dan kembangin aset nya sendiri sebagai sumber pemasukan tambahan.

Masih Misuh Apa Nggak? Tunggu Tanggal Main!

Utang Whoosh yang sering jadi gorengan media besar banyak dijadiin senjata sama mereka yang sedari awal nggak mau ada kereta cepat. Dianggap nggak perlu ada di Indonesia. Mereka anggap lebih urgen reaktivasi dan membangun jaringan kereta di luar pulau Jawa.

Biasanya mereka yang nggak suka ini antara lima golongan:

  • Golongan Tua yang berpikiran kolot.
  • Golongan yang disebut Pak Presiden sebagai Londo Ireng, yaitu mereka yang suka meromantisasi era kolonial bahkan ngarep dijajah Belanda lagi. Nggak pengen Indonesia jadi negara maju dalam hal teknologi dan peradaban. Lebih dari itu, golongan ini juga pengennya kita dibantu lagi sama IMF.
  • Golongan oposisi. Sejak awal pembangunan, kelompok ini memang paling lantang menyuarakan penolakannya. Begitupula sekarang ketika Whoosh udah ada. Gorengan utang Whoosh di media besar seperti jadi bahan bakar buat mereka.
  • Pecinta barang bekas Jepang. Begitu tau proyek Kereta Cepat pindah dari Jepang ke Tiongkok, mereka ini mengecam keras. Mereka menolak fakta bahwa teknologi kerea cepat Jepang alias Shinkansen kini udah tertinggal dari Fuxing-nya Tiongkok. Apalagi yang dijanjiin Jepang dulu itu Seri E6 lebih tua dari CR 400 AF. Di mata mereka, rongsokan dari Jepang masih lebih bagus daripada produk baru Tiongkok.
  • Sinofobia. Wah ini mah sebenarnya udah kehitung rasis lho.

Nah kalo di media sosial ada yang ngeluhin ada yang kurang di KAI, satu dari empat golongan ini langsung show off. Seketika itu nyalahin Whoosh.

Makanya itu, kita liat aja September nanti begitu Kemenkeu Ambil Saham Whoosh. Apakah mereka masih memprovokasi kalo misalkan ada keluhan di layanan KAI? Kita tunggu aja.

Comments

Leave a Reply