Rekativasi KA Bandung Ciwidey jadi isu hangat tiap tahun politik datang. Meskipun sejatinya masih tanah KAI, lahan yang sebelumnya jalur kereta udah berubah jadi jejeran bangunan beton. Bukan cuma perumahan, tapi bangunan komersial kaya Transmart.
Pendahuluan
Sebagai destinasi wisata, akses transportasi ke Ciwidey masih terbatas banget. Karena itu, tiap musim liburan tiba jalanan kesana hampir selalu macet. Ketiadaan akses transportasi umum proper inilah yang bikin orang akhirnya bawa kendaraan pribadi buat ke sana. Hasilnya kemacetan panjang harus kita hadapi.
Padahal dulu pernah ada jalur KA Bandung Ciwidey. Sayang sejak 1981 jalur peninggalan Belanda itu udah non aktif. Alasan kurang perawatan dan persaingan sama angkutan jalan raya yang dianggap lebih praktis. Sejatinya penutupan itu sifatnya sementara, namun yang terjadi malah alih fungsi lahan jalur rel secara masif.
Walaupun begitu, Reaktivasi selalu jadi wacana yang muncul tiap masuk Tahun Politik. Calon Kepala Daerah hampir selalu menjanjikan hal itu. Masih segar apa yang kita dengar di 2019 dan baru berhasil mereaktivasi satu jalur non-aktif. Masuk 2024 kepala daerahnya ganti dan wacana itu muncul lagi.
Lahan bekas rel sejatinya masih milik PT. KAI (Negara). Namun mengembalikan seperti fungsi asalnya nggak segampang membalik telapak tangan. Apalagi kondisi beda banget sama yang udah pernah sebelumnya. Lantas apa aja yang jadi halangan?
Reaktivasi KA Bandung Ciwidey Sebenarnya Wacana Lama
Jalur KA Bandung Ciwidey mulai beroperasi penuh 17 Juni 1924. Staats Spoorwegen (SS), perusahaan kereta api punya Pemerintah Kolonial Belanda membangun jaringan kereta api di Bandung Selatan untuk memudahkan angkutan hasil bumi. Disamping itu juga untuk angkutan penumpang.
Namun masa-masa keemasan itu meredup seiring perjalanan waktu. Terutama setelah Kemerdekaan Indonesia. Apalagi memasuki dekade 1970-an mulai muncul angkutan jalan raya untuk mobilitas orang dan hasil bumi yang dianggap lebih efisien. Sementara kereta api semakin uzur tanpa ada perbaikan dan peremajaan.
Dampaknya terjadi pada tahun 1972 di Cukanghaur. Sebuah rangkaian kereta pengangkut kayu dan belerang yang ditarik Lokomotif Uap berusia tua mengalami anjlok dan terguling karena kelebihan muatan. Kecelakaan ini memakan korban 3 orang. Salah satunya Kepala Stasiun Ciwidey yang ikut dalam perjalanan.
Pasca Tragedi Cukanghaur nggak ada sama sekali perbaikan apalagi peningkatan aspek keselamatan. Sampe akhirnya jalur ini tutup pada tahun 1981. Memasuki dekade 1990-an, sempat ada rencana untuk reaktivasi. Apalagi ada segmen yang masih status semi-aktif di Kota Bandung untuk angkutan Kavaleri TNI.
Namun angkutan kavaleri itu berakhir di 2003. Jalur makin nggak keurus, rel makin lama makin hilang dan berganti jejeran bangunan beton di atasnya. Jadi dengerin wacana reaktivasi sebenarnya udah dari dulu. Sayang belum sempat reaktivasi keburu Krisis Ekonomi 1998. Okupansi lahan jadi semakin masif.
Tumbuh Tenggelam Wacana Reaktivasi KA Bandung Ciwidey
Tentu masih segar dalam ingatan kita waktu Gubernur Jawa Barat Terpilih di 2019 mewacanakan reaktivasi 4 jalur kereta non aktif, salah satunya adalah Jalur KA Bandung Ciwidey ini. Tentu disambut antusias yang luar biasa. Apalagi di waktu bersamaan lagi dikerjain yang jalur KA Cibatu Garut.
Namun masuk 2020 situasi dunia berubah total karena Pandemi Covid-19. Semua energi tersedot ke sana dan fokus dialihkan buat pemulihan ekonomi. Alhasil cuma Jalur KA Cibatu Garut itu yang berhasil diselesaikan dan beroperasi Maret 2022. Sedangkan untuk KA Bandung Ciwidey lagi-lagi harus tenggelam.
Di tahun politik berikutnya yakni 2024, kepilih lagi Gubernur Jawa Barat yang baru dan sekali lagi munculkan wacana Reaktivasi KA Bandung Ciwidey. Sayang hingga detik ini belum ada pergerakan apapun.
Bangunan Komersial Jadi Penghalang (Salah Satunya Transmart)
Menghidupkan lagi jalur legendaris Bandung Selatan ini jelas bukan perkara gampang. Situasi di lapangan beda sama Jalur KA Cibatu Garut. Banyaknya bangunan beton rumah penduduk berdiri di atas jalur rel kereta. Nggak hanya itu, masjid besar pun banyak berdiri di sini. Bahkan sampe ke madrasah.
Proses reaktivasi semakun susah karena bukan cuma pemukiman penduduk, tempat ibadah, atau sekolahan aja, bangunan komersial pun banyak berdiri di jalur itu. Salah satu yang jelas kelihatan adalah Transmart Buah Batu.

Bangunannya nggak menutupi rel, tapi parkiran Transmart itu tepat ada di jalur rel kereta. Sebelum Transmart, ada lagi Pasar Kordon yang nggak jauh dari ex-Halte Buah Batu. Belum lagi jejeran ruko yang ada di Bojongsoang atau Pabrik di Banjaran. Pokoknya PR nya banyak banget.
Titik Cerah LRT Bandung Raya (Ambyar Keduluan BRT)
Sebenarnya, reaktivasi KA Bandung Ciwidey ini sempat ada titik cerah lewat wacana LRT Bandung Raya. Moda transportasi perkotaan itu rencana awalnya buat dukung operasional Kereta Cepat Jakarta Bandung (KCJB). Waktu itu trase-nya masih Halim-Tegalluar via Walini.

Salah satu koridor LRT Bandung Raya-nya Kacapiring-Banjaran yang manfaatin jalur KA Bandung Ciwidey. Sayang Pandemi Covid-19 merubah segalanya. Trase KCJB nya sendiri berubah dari semula berhenti Walini jadi Padalarang yang lebih strategis. Mulai beroperasi 1 Oktober 2023 dan jadi Whoosh yang kita kenal.
Wacana LRT Bandung Raya pun seolah dilupakan begitu aja. Justru yang lagi proses eksekusi sekarang BRT Bandung Raya. Pake moda transportasi Bus. Lagi-lagi reaktivasi nya ambyar, walaupun cuma sepertiganya.
Reaktivasi KA Bandung Ciwidey Bisa Alih Trase
Kalo misalkan kamu bertanya, Apakah Reaktivasi KA Bandung Ciwidey Bisa atau Nggak? Jawabannya bisa aja. Tapi keberadaan bangunan komersial di sepanjang lintasan macam Transmart ini memang jadi hambatan besar. Itu baru satu Transmart, belum yang lain kaya Pabrik.
Konfliknya bukan sekedar konflik sosial sama warga terdampak, tapi juga masuk ranah konflik kepentingan ekonomi. Disinilah susahnya, meski lagi-lagi tanahnya punya KAI.
Meskipun begitu sebetulnya ada jalan keluar yang boleh jadi pertimbangan. Merubah trase jalur kereta nya. Nggak lagi ngikutin trase lama. Jalur kereta bisa diarahin lewat Stasiun Tegalluar Summarecon terus masuk Lintas Utama entah di Stasiun Cimekar atau Rancaekek.
Kalo mau ngikutin trase lama, dari Dayeuhkolot itu udah harus diarahin ke Tegalluar. Tapi kalo mau sekalian menghindari kawasan industri di Banjaran, opsi dibuat sejajar Tol bisa diambil.
Jalur keretanya Paralel Tol Padaleunyi dan Soroja sampe Soreang. Nah dari Soreang ke Ciwidey masih bisa pake jalur lama. Keretanya bisa LRT atau sekalian Semi-Cepat. Langsung Double Track dan Elektrifikasi. Secara terintegrasi sama Whoosh di Stasiun Tegalluar Summarecon.
Oh iya, kewajiban Double Track ini PR juga lho. Apalagi kalo keukeuh mau trase lama. Nggak cuma Transmart halangannya. Bangunan TSM di sekitar Cibangkong itu juga penghalangnya. Malah mepet banget sama jalur rel.
Kesimpulan
Jalur Rel KA Bandung Ciwidey betul masih milik PT. KAI. Masalahnya, halangan reaktivasi KA Bandung Ciwidey bukan cuma dari perumahan warga yang berdiri di atas rel. Tapi juga sejumlah bangunan komersial. Salah satunya Transmart. Apalagi kalo jalurnya mau dibikin Double Track akan mepet sama TSM dan Pabrik juga.
Makanya itu opsi relokasi bisa jadi pertimbangan. Misalnya dibikin paralel sama jalan tol untuk trase Bandung-Soreang nya. Barulah nanti yang ke Ciwidey masih bisa pake jalur lama. Bentuk keretanya LRT atau mau sekalian semi-HSR juga oke aja. Toh lewat Stasiun Tegalluar Summarecon jadi terintegrasi Whoosh.


Leave a Reply