KA Bandung Ciwidey 2 : Rel Jadi Perumahan di Rancagoong

·

KA Bandung Ciwidey 2 Rel Jadi Perumahan di Segmen Rancagoong

KA Bandung Ciwidey 2, ketika memasuki masa kemerdekaan, jalur bersejarah ini terus mengalami kemerosotan. Apalagi setelah marak angkutan jalan raya yang dianggap lebih efisien. Puncaknya terjadi PLH Cukanghaur dan berujung non-aktif di awal 1980-an. Banyak lintasan berubah jadi perumahan, kaya di Rancagoong.

Pendahuluan

Setelah berhasil menghubungkan Bandung dan Soreang1, jalur rel kereta pun lanjut sampe ke Ciwidey. Di sinilah lintasan ekstrem mulai. Jalur kereta api dari Soreang ke Ciwidey mulai dibangun 1922 dan selesai 1924. Di sini lintasannya cukup ekstrem dan melewati beberapa jembatan yang sampe sekarang masih bisa kita saksikan.

Sayangnya masa-masa keemasan si ular besi di Bandung Selatan ini mengalami kemerosotan setelah Indonesia merdeka di 17 Agustus 1945. Terutama memasuki dekade 1970-an. Waktu itu mulai marak angkutan jalan raya kaya angkot atau truk dan dianggap lebih efisien daripada kereta.

Adapun jalur kereta terutama lintas Ciwidey kaya nggak dapat perhatian. Sampe kejadianlah PLH Cukanghaur di tahun 1971 yang membuat jalur ini akhirnya beneran non aktif di awal dekade 1980-an. Setelahnya terjadi alih fungsi lintasan kereta jadi kawasan pemukiman dan bisnis.

Banyak perumahan dan bangunan permanen berdiri di atas rel. Salah satunya di Segmen Rancagoong, antara Halte Cibangkong dan Jalan Terusan Martanegara. Inilah yang bikin reaktivasi jadi banyak PR. Terutama kalo tetap pengen pake lintasan eksisting yang dibangun 1919 sampe 1924.

Apalagi sekarang ada tuntutan jalur kereta harus langsung double track. Khususnya di segmen urban Bandung-Soreang. Jelas di sini reaktivasi bukanlah hal sederhana. Meski lahannya masih punya PT. KAI.

KA Bandung Ciwidey 2 : Akhirnya Sampe Ciwidey

Tahun 1922, Staats Spoorwegen (SS) berhasil selesaikan segmen Bandung-Soreang. Ini adalah tahap pertama si ular besi menapakkan rodanya di Bandung Selatan. Segmen Soreang ini lintasannya datar. Nah Segmen Rancagoong yang lagi kita bahas di KA Bandung Ciwidey 2 adalah bagian dari Segmen Soreang.

Balik lagi ke sini, target awal Staats Spoorwegen (SS) adalah menghubungkan Kota Bandung dan produsen hasil bumi kaya Teh, Kopi, dan Kina. Di antara daerah penghasil itu adalah Ciwidey, sebuah kawasan terpencil di pegunungan Bandung Selatan.

Singkatnya Staats Spoorwegen (SS) melanjutkan pembangunan sampe tembus Ciwidey. Beda sama Lintas Soreang yang landai, segmen kedua ini adalah jalur pegunungan ekstrem.

Di lintas ekstrem ini ada tiga jembatan besar dan ikonik, antaralain: Jembatan Sadu di Soreang, Jembatan Rancagoong yang sering muncul di YouTube dan dilewatin sama pengendara motor, dan Jembatan Cikabuyutan (Cisondari). Pada tahun 1924, akhirnya si ular besi tembus ke Ciwidey.

Pasang Surut Jalur KA Bandung Ciwidey 2

Mulai beroperasi 1924, jalur KA Bandung Ciwidey banyak mengangkut hasil perkebunan kaya kopi, teh, kina ke Kota Bandung hingga akhirnya diekspor ke luar negeri via Batavia. Selain hasil perkebunan, kereta yang beroperasi di sini juga mengangkut kayu.

Selain hasil bumi baik perkebunan atau kayu, KA Bandung Ciwidey 2 juga melayani angkutan penumpang. Utamanya para pedagang yang akan menjual dagangannya di Kota Bandung. Masa kejayaan jalur ini di era kolonial Belanda sampe awal dekade 1940-an.

Tahun 1942-1945, Jepang menguasai Indonesia dan nggak banyak catatan tentang perkeretaapian di Bandung Selatan. Kecuali pembongkaran dan penutupan lintas Dayeuhkolot-Majalaya yang jadi bagian dari Jalur KA Bandung Ciwidey 2.

Pasca kemerdekaan Indonesia 1945, secara perlahan dunia persepuran di Bandung Selatan mengalami kemunduran. Terutama memasuki dekade 1970-an begitu marak angkutan jalan raya yang dianggap lebih efisien karena bisa door to door. Sementara kereta api cenderung kurang perhatian.

Alhasil moda transportasi yang punya keunggulan mutlak bebas macet ini harus kalah saing sama jalan raya. Sehingga frekuensinya pun terus berkurang.

Puncaknya pada 1972 terjadi PLH Cukanghaur yang menimpa kereta pengangkut kayu gelonggongan. Kecelakaan yang menewaskan 3 orang, salah satunya Kepala Stasiun Ciwidey yang ikut dalam perjalanan. Tahun 1982, Jalur bersejarah ini ditutup total.

Problem ternyata nggak berhenti sampe penutupan. Setelahnya banyak bangunan berdiri di atas jalur rel kereta. Terutama di sisi Kota Bandung.

Tentang Segmen Rancagoong (Bukan Jembatan Rancagoong)

Sebelum kita lanjut lebih jauh, ada baiknya kenalan dulu sama Segmen Rancagoong. Oh iya, jadi kan sempat disebut ya kalo Rancagoong itu adalah salah satu jembatan di Lintas Soreang Ciwidey. Tapi ini bukan jembatan, melainkan kawasan perumahan di Kelurahan Gumuruh, Kecamatan Batununggal, Kota Bandung.

Terletak di sekitaran Jalan Terusan Martanegara, ada sebuah kompleks perumahan yang namanya Rancagoong. Dimana sebagian bangunan berada di bekas jalur KA Bandung Ciwidey. Jadi segmen Rancagoong di sini mengacu pada kawasan perumahan.

Sebagian Sempat Beroperasi Terbatas untuk Kavaleri

Posisi Segmen Rancagoong ini antara Halte Cibangkong yang nggak jauh dari Trans Studio Mall sampe Jalan Terusan Martanegara. Di sini sebenarnya juga ada percabangan ke Kavaleri. Sebagian segmen ini sebenarnya masih beroperasi terbatas pasca penutupan Jalur KA Bandung Ciwidey tahun 1981.

Operasional terbatas itu untuk kepentingan TNI di Kavaleri Brigif. Terutama angkutan peralatan militer. Namun sekitar tahun 2000-an awal, jalur ini ditutup total. Karena udah nggak ada lagi pengangkutan peralatan TNI.

Rel Menghilang di Jalan Gatot Subroto

Setelah ditutup total karena nggak ada lagi angkutan Kavaleri, pelan tapi pasti rel menghilang dari Jalan Gatot Subroto. Padalahal sebelumnya masih terlihat. Bahkan seolah kaya PJL lain pada umumnya. Cuma nggak pake palang pintu aja. Karena itu tadi beroperasi terbatas buat keperluan Kavaleri.

Namun kini semuanya udah hilang. Ketutupan aspal yang semakin dipertebal. Apalagi ada Trans Studio Mall (sebelumnya Bandung Supermall). Tambah lagi ada Trans Luxury dan Hotel Ibis di situ. Tanda-tanda bekas PJL udah hilang tak bersisa.

Reaktivasi Bukan Perkara Mudah (Bisa Jadi Harus Relokasi)

Nah, setelah Segmen Rancagoong Non Aktif total di awal dekade 2000-an, pertumbuhan rumah penduduk di atas jalur rel kereta atau sekitarannya makin nggak terkendali.

Jalur KA Bandung Ciwidey 2 : Kondisi Segmen Rancagoong Kini

Petak antara Halte Cibangkong Lor dan Cibangkong aja itu ada Kompleks Madrasah yang percis di atas rel kereta. Jadi satu bagian sama Masjid Besar. Geser ke Segmen Rancagoong, itu juga ada PAUD yang pekarangannya percis di atas rel kereta.

Masih di atas rel juga berdiri sebuah masjid. Meski nggak sebesar yang ada di petak Cibangkong Lor-Cibangkong. Mulai masuk ke Perumahan Rancagoong, banyak berdiri bangunan permanen di rel kereta api yang udah non aktif sejak 1981 itu.

Jejeran Perumahan di Rancagoong dekat Terusan Martanegara (Di Atas Rel)

Kondisi Jalur Rel KA Bandung Ciwidey 2 di petak dari ex-Halte Cibangkong ke Terusan Martanegara di Perumahan Rancagoong, Kelurahan Gumuruh, Kecamatan Batununggal Kota Bandung. Sebenarnya segmen ini pernah semi aktif sampe tahun 2000-an untuk keperluan angkutan kavaleri TNI. Setelah semuanya non-aktif, rel makin nggak keurus dan pertumbuhan pemukiman makin nggak terkendali.

Pertumbuhan pemukiman di sepanjang jalur rel KA Bandung Ciwidey 2 yakni Segmen Rancagoong Kota Bandung bikin pemandangan kaya gini jadi satu hal biasa. Nggak cuma rel ada di pekarangan rumah, masjid atau PAUD, tapi juga tembus pintu belakang rumah. Kalo lihat gambar di samping, itu artinya besi rel ada tepat di bawah lantai rumah. Rel nya aja sampe nyentuh pintu belakang kaya gitu.

Rel Masuk ke Pintu Belakang Rumah

Wacana Reaktivasi Setiap Tahun Politik

Nah, sejak 2009 kita mengenal namanya sistem pemilihan kepala daerah (Pilkada) langsung. Setiap kali ada kontestasi Politik kaya gitu, wacana reaktivasi jalur kereta api non-aktif selalu muncul. Nggak terkecuali Jalur KA Bandung Ciwidey 2.

Masih segar dalam ingatan Pasca Pilkada 2019, waktu Gubernur terpilih lempar wacana akan reaktivasi jalur kereta non aktif di wilayah Jawa Barat. Namun itu baru terealisasi di Jalur KA Cibatu Garut. Sedangkan lainnya belum karena baru setahun menjabat udah keburu Pandemi Covid-19 yang berlangsung 2 tahun.

Masa jabatan selesai di 2024, lagi-lagi wargi Jabar dapat Gubernur baru. Sekali lagi wacana reaktivasi Jalur KA Bandung Ciwidey 2 muncul. Masalahnya belum ada tanda-tanda ke sana. Sehingga reaktivasi seolah cuma jadi wacana setiap tahun politik.

Tanah KAI Tapi Nggak Semudah Itu

Jalur rel KA Bandung Ciwidey 2 termasuk di Segmen Rancagoong sejatinya masih tanah KAI. Walaupun begitu bukan berarti reaktivasi bakal segampang balikin telapak tangan.

Masalahnya daerah bantaran di kanan dan kiri itu belum tentu masih wilayah Tanah KAI tersebut. Bisa jadi udah beda urusan lagi. Jadi kalo tadi misalnya ada pekarangan PAUD di jalur rel kereta itu memang jelas tanah KAI. Tapi bangunan PAUD nya kan diluar area rel.

Sama juga case kompleks madrasah. Iya, madrasahnya ada di atas rel yang tanah KAI. Tapi itu nggak bisa dipisahkan dari masjid yang posisinya di luar tanah KAI. Dua kasus inilah yang bikin reaktivasi jadi bukan persoalan sederhana dan banyak PR disitu. Apalagi kalo pengen langsung Double Track sampe Soreang. Itu bakal lebih berat lagi.

Jalur KA Bandung Ciwidey 2 : LRT Jadi Solusi

Untuk relnya yang masih single track sebetulya bisa disiasati dengan merubah bentuk keretanya dari kereta konvensional ke LRT. Apalagi LRT pada umumnya dibangun elevated atau melayang. Bekas rel-nya bisa dipake buat tiang pancang jalur elevated-nya. Nggak hanya itu, LRT bisa langsung Double Track.

Sekilas LRT Bandung Raya

Sama dengan Reaktivasi, pembangunan LRT Bandung Raya sebetulnya udah wacana lama. Mulai muncul waktu Kereta Cepat Jakarta Bandung (KCJB) akan dibangun sekitar tahun 2017.

Trase KCJB itu awalnya malah ada pemberhentian di Walini, daerah Cikalong Wetan. Selain Halim, Karawang, dan Tegalluar. Karena Walini dan Tegalluar itu jauh ke pusat kota, dibuatlah LRT Bandung Raya buat mengintegrasikan KCJB.

Trasenya udah ada dan support ke Walini maupun Tegalluar. Sayang seiring waktu terjadilah Pandemi Covid-19. Trase KCJB pun mengalami perubahan. Stasiun Walini yang jadi satu sama Kota Raya Walini batal dibangun dan akhirnya pindah ke Stasiun Padalarang.

Akhirnya KCJB yang kemudian jadi Whoosh beroperasi mulai 1 Oktober 2023. Namun wacana LRT Bandung Raya seperti hilang ditelan bumi. Meskipun masih ada BRT dalam wujud Trans Metro Pasundan (TMP) yang sekarang jadi Metro Jabar Trans (MJT).

Segmen Rancagoong Masuk Masterplan LRT Bandung Raya

Balik lagi ke Masterplan LRT Bandung Raya, sebenarnya Segmen Rancagoong dan keseluruhan bekas Jalur KA Bandung Ciwidey 2 di wilayah Kota Bandung mulai dari sekitaran Laswi sampe ke Buah Batu itu udah masuk ke masterplan itu.

Bekas rel itu nantinya akan jadi bagian dari jalur LRT Bandung Raya. Tepatnya Koridor Kacapiring – Banjaran. Kalo dilihat itu jelas ngikutin bekas rel peninggalan Staats Spoorwegen (SS).

Masterplan LRT Bandung Raya Sebelum Pandemi

Peta Masterplan LRT Bandung Raya sebelum Pandemi Covid-192. Masih menempatkan Walini sebagai pemberhentian. LRT ini dibikin buat dukung operasional Kereta Cepat Jakarta Bandung (KCJB). Menariknya, koridor Kacapiring-Banjaran banyak memanfaatkan Jalur KA Bandung Ciwidey 2.

Relokasi Tetap Jadi PR Meski Dibikin LRT

Pengalihan dari kereta konvensional ke LRT memang bisa jadi solusi yang cukup realistis. Namun meskipun begitu, relokasi warga yang selama ini menempati kawasan jalur rel kereta tetap jadi PR. Meskipun kita juga tau tanahnya itu masih punya KAI.

Yang menempati jalur rel kereta itu bukan cuma warga aja. Seperti udah disebut sebelumnya, ada madrasah dan masjid yang posisinya percis diatas jalur kereta. Di sisi Bojongsoang malah ada Transmart juga.

Jadi sebelum reaktivasi, relokasi warga misalnya ke Rusunawa tetap harus dipikirkan. Nggak bijak juga kalo ngusir mereka begitu aja. Itu baru warga, gimana dengan tempat usaha? Itu juga harus dicari solusinya.

Kesimpulan

Jalur KA Bandung Ciwidey 2 di Segmen Rancagoong antara Cibangkong (depan TSM) dan Terusan Martanegara udah banyak berubah jadi perumahan. Sebagian segmen ini sempat beroperasi terbatas untuk angkutan kavaleri TNI sampe awal dekade 2000-an. Setelahnya tutup total.

Segmen ini sejatinya masuk dalam Masterplan LRT Bandung Raya koridor Kacapiring-Banjaran. Meskipun opsi bangun LRT cukup realistis, relokasi warga dan tempat usaha yang terdampak tetap jadi PR. Itu mesti clear dulu sebelum mulai pembangunan.

Foto-foto yang ada di postingan ini memang cuma ada dua biji. Nah kalo kamu penasaran sama kondisi jalur rel di Segmen Rancagoong ini, berikut adalah foto-foto asli selengkapnya:

Mau lihat lebih jelas? Langsung aja ke sini: Foto Asli Jalur KA Bandung Ciwidey 2 : Segmen Rancagoong (Cibangkong-Terusan Martanegara)


  1. Pembahasan lengkap ada di sini KA Bandung Ciwidey 1 : Ban Besi Masuk Soreang ↩︎
  2. Peta Masterplan ini sumbernya dari situs LRT Bandung, yang mana aslinya juga ada di Akun LinkedIn atas nama Muhammad Zulfan Zubaid. ↩︎

Comments

Leave a Reply