stasiun mrt jakarta sarana vital operasional ratangga

Stasiun MRT Jakarta : Sarana Vital Operasional Ratangga

Stasiun MRT Jakarta merupakan sarana vital bagi pengoperasian Ratangga. Terdapat 13 stasiun di Fase 1, dimana 5 diantaranya adalah stasiun besar. Stasiun mana aja itu?

Gambaran Ringkas Stasiun Kereta

Dalam dunia perkeretaapian namanya tempat pemberhentian kereta api merupakan sarana yang harus ada. Mau apapun bentuknya dan siapapun operatornya. Tak terkecuali MRT Jakarta.

Sebagai sebuah perusahaan, MRT Jakarta telah dirintis sejak tahun 2012 yakni pada saat proses pembangunan Fase 1 dimulai. Sedangkan tahun 2019 mulai resmi jadi operator Ratangga, armada kereta asal Jepang yang digunakan.

Pemberhentian kereta api itu sendiri biasanya terdiri dari 3 jenis yakni Stopplast, Halte, dan Stasiun. Nah untuk MRT Jakarta sendiri terdapat 13 pemberhentian yang semuanya adalah Stasiun.

Berbicara tentang stasiun sebetulnya juga ada tipe-tipenya lagi. Mulai dari Kelas 3, 2 hingga kelas 1. Kira-kira masuk manakah ke-13 stasiun tersebut?

Stasiun MRT Jakarta Minimal Kelas 2

Berdasarkan survey langsung ke lapangan, kalo secara fisik sih Stasiun-nya Ratangga itu nggak ada tipe kelas 3. Apalagi sekedar Stopplast atau Halte. Paling banter ya Stasiun kelas 2. Dilihat dari fasilitas yang ada.

Untuk fasilitas penunjang paling standard seperti Toilet dan Musholla sih semuanya punya. Ditambah lagi ATM. Jadi kalo diliat dari sini minimal Stasiun MRT Jakarta itu masuk kelas 2.

Cuma ada lagi stasiun yang punya fasilitas gerai minimarket. Terhubung langsung ke Pusat Perbelanjaan hingga integrasi dengan transportasi umum lainnya. Baik seatap maupun nggak seatap.

Nah kalo udah punya fasilitas lengkap apalagi Dipo Kereta, Akses ke Pusat Perbelanjaan, dan Transit Oriented Development (TOD) otomatis jadi stasiun kelas 1. Artinya ya Stasiun Besar.

terdapat stasiun besar dan tod

Daftar 13 Stasiun MRT Jakarta

Adapun Ke-13 Stasiun yang melayani perjalanan Ratangga dibawah operator MRT Jakarta antaralain: Stasiun Lebak Bulus Grab, Stasiun Fatmawati Indomaret, Stasiun Cipete Raya, Stasiun Haji Nawi, Stasiun Blok A, dan Stasiun Blok M BCA.

Lanjut lagi Stasiun ASEAN (sebelumnya Sisingamangaraja), Stasiun Senayan, Stasiun Istora Mandiri, Stasiun Bendungan Hilir, Stasiun Setiabudi Astra, Stasiun Dukuh Atas BNI dan Stasiun Bundaran Hi

5 Stasiun Besar (Kelas 1) dan Alasannya

Dari 13 Stasiun MRT Jakarta ada 5 stasiun besar atau kelas 1. Ke-5 stasiun tersebut antaralain: Stasiun Lebak Bulus Grab, Stasiun Blok M BCA, Stasiun ASEAN, Stasiun Dukuh Atas BNI dan Stasiun Bundaran HI.

Alasan masuk stasiun besar kelas 1 karena stasiun-stasiun itu punya Dipo Kereta (Stasiun Lebak Bulus Grab) dan Transit Oriented Developent (TOD). Untuk TOD langsung: Stasiun Lebak Bulus Grab, Stasiun ASEAN, Stasiun Bundaran HI.

Integrasi Satu Atap

Ketiganya langsung terhubung dengan layanan Transjakarta dalam satu atap. Untuk Stasiun ASEAN terintegrasi Halte CSW di Koridor 13 Puri Beta – Tendean. Sedikit info inilah TOD terbesar di Indonesia saat ini.

Stasiun Lebak Bulus Grab terintegrasi satu atap dengan Halte Lebak Bulus (Koridor 8). Begitu juga Stasiun Bundaran HI dengan Halte Bundaran HI (Koridor 1). Untuk menuju Halte Transjakarta bisa masuk dari akses Stasiun MRT Jakarta.  

Tetap Terintegrasi Meski Tak Langsung

Adapun Stasiun Blok M BCA yang wacananya udah dari dekade 1990-an tetap terintegrasi meskipun nggak langsung (tak satu atap) seperti ketika stasiun tersebut.

Posisi Stasiun Blok M BCA juga dekat dengan Terminal Blok M dimana terdapat layanan Transjakarta BRT dan Non-BRT. Selain itu tentunya akses langsung ke pusat perbelanjaan Blok M Plaza.

Kesimpulan

Stasiun MRT Jakarta merupakan sarana vital bagi operasional Ratangga. Terdapat 13 stasiun, dimana mayoritasnya adalah kelas 2. Terdapat 5 stasiun kelas 1 yang menyediakan fasilitas TOD (Transit Oriented Development) atau integrasi antarmoda.