Stasiun Ngabean Kini Lebih Identik Bus

Stasiun Ngabean Kini Lebih Dikenal Tempat Bus

Stasiun Ngabean merupakan bagian dari sejarah perkeretaapian di Yogyakarta. Melayani 2 lintas cabang sekaligus. Namun setelah non aktif justru lebih dikenal sebagai tempat bus.

Pendahuluan

Perkeretaapian di Yogyakarta pernah mengalami masa-masa keemasan. Jika sekarang kita lebih mengenalnya sebagai bagian dari lintas utama bagian selatan, atau Lintas Kereta Api Mataram. Dulu bahkan pernah punya jaringan kereta api.

Jadi selain lintas utama yang sampai sekarang masih beroperasi, terdapat sejumlah percabangan di sisi utara dan selatan. Bahkan di sisi selatan jalurnya membentang hingga Pundong dan Brosot.

Sayangnya semua kini tinggal kenangan masa lalu. Terutama lintas Pundong yang telah hilang dan terlupakan begitu saja. Satu-satunya peninggalan tersisa bahkan lebih identik dengan layanan bus. Baik BRT dalam kota maupun pariwisata.

Seperti apakah peninggalan sejarah Perkeretaapian Yogyakarta yang sekarang malah identik dengan jalur bus itu?

Stasiun Ngabean dan Percabangan ke Selatan

Perusahaan Swasta Kolonial Belanda, NISM (Nederlandsch Indische Stroomtram Maatschappij), telah menyelesaikan jalur kereta api dari Semarang hingga Lempuyangan tertanggal 1 Januari 1873.

Rencana untuk membangun percabangan ke selatan mulai dirintis tanggal 20 April 1893. Untuk lintas Yogyakarta – Srandakan – Brosot – Sewugalur (belakangan lebih dikenal jalur KA Yogyakarta Palbapang). Dimulai dari Stasiun Lempuyangan.

Sebagai tahap awal dibangun jalur dari Lempuyangan ke Srandakan via Stasiun Ngabean pada tanggal 21 Mei 1895. Dua tahun setelah perencanaan awal oleh NISM. Seperti lintas dari Semarang, percabangan ke selatan ini menggunakan standard gaunge 1.435 mm.

Stasiun Ngabean Titik Sentral Selatan

Stasiun Ngabean sebenarnya bukanlah stasiun besar. Didirikan pada tahun 1895 posisinya ada di sisi barat benteng Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Meskipun demikian dari sini jalur kereta api bercabang lagi ke arah timur yakni Pasar Gede hingga Pundong.

Jalur Kereta Api Yogyakarta Brosot selesai dibangun pada 1 April 1916 setelah menyelesaikan dua tahap lagi yakni segmen Srandakan – Brosot (2 km) setahun sebelumnya dan Brosot – Sewugalur 1 Desember 1915.

Nah sedikit info, segmen Srandakan – Brosot ini menyeberangi Sungai Progo dimana Brosot bersama Sewugalur masuk wilayah administratif Kabupaten Kulonprogo.

Stasiun Ngabean dan Segmen Pasar Gede Pundong

Jalur Kereta Api dari Stasiun Ngabean ke Pundong via Pasar Gede mulai direncanakan 28 Oktober 1913 dan resmi beroperasi 15 Oktober 1918. Pembangunannya dalam 2 tahap yakni segmen Ngabean – Pasar Gede (15 Desember 1917) dan Pasar Gede – Pundong.

Pembangunan lintas cabang tersebut tak lepas dari faktor ekonomi di wilayah Kotagede. Juga keberadaan sejumlah Pabrik Gula di kawasan Plered, Wonokromo, hingga Pundong Kabupaten Bantul.

Dengan adanya dua jalur kereta api dengan gaunge 1.435 mm tersebut menjadikan perkeretaapian di Yogyakarta mencapai masa-masa keemasan sejak 1917 hingga kedatangan Jepang di tahun 1942.

Penutupan Jalur NISM hingga Tersisa Yogykarta – Palbapang.

Pemerintah Militer Jepang kemudian membongkar jalur kereta api peninggalan NISM. Khususnya Ngabean – Pundong dan Palbapang – Sewugalur. Jalur tersebut dipindahkan untuk kebutuhan kampanye Perang Asia Timur Raya.

Hingga tinggal menyisakan segmen Yogyakarta – Palbapang dengan mengganti gaunge-nya menjadi 1.067 mm. Disamakan dengan jalur kereta api lainnya dan menggunakan standard Jepang waktu itu.

Dengan demikian sejumlah sarana peninggalan NISM terutama lokomotif jadi terbengkalai. Hingga akhirnya layanan penumpang ditutup tahun 1973 dan hanya sisakan angkutan tetes tebu dari Pabrik Gula Madukismo hingga pertengahan 1980-an.

Stasiun Ngabean Jadi Parkiran Bus Wisata dan Halte Transjogja

Stasiun Ngabean sendiri berhenti beroperasi secara total pertengahan tahun 1980-an. Bersamaan dengan berakhirnya angkutan tetes tebu. Sejak saat itu hingga sekarang justru lebih identik dengan transportasi bus.

Kawasan sekitar bekas stasiun kini berubah jadi Parkiran Bus Wisata. Khususnya untuk tujuan Kraton dan Malioboro yang letaknya tak jauh dari situ. Selain itu juga jadi salah satu pemberhentian Transjogja.

Bangunan stasiun sendiri masih berdiri kokoh. Kini menjadi depo bus wisata kawasan Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Sebuah bus kecil untuk kebutuhan pariwisata di kawasan Kraton.

Soal reaktivasi nampaknya hal itu akan sangat sulit terwujud. Nggak ada rencana ke sana. Bahkan dari Pemprov sendiri sepertinya akan lebih memaksimalkan Bus Rapid Transit (BRT) Transjogja. Terlebih dengan adanya rute menuju Palbapang.

Kesimpulan

Stasiun Ngabean merupakan bagian dari sejarah dan saksi masa-masa keemasan perkeretaapian Yogyakarta pada periode 1917 hingga 1942. Jadi titik sentral jalur kereta api lintas selatan menuju Sewugalur dan Pasar Gede hingga Pundong.

Sayangnya sejak kedatangan militer Jepang justru mengalami kemunduran. Ditandai pembongkaran lintas Palbapang – Sewugalur dan Ngabean – Pundong. Sisanya dirubah menjadi 1.067 mm mengikuti standard Jepang.

Sejak dihentikannya angkutan tetes tebu pertengahan 1980-an, jalur kereta api Yogyakarta – Palbapang ditutup total. Ngabean sendiri lebih identik dengan parkiran bus wisata hingga halte Transjogja. Sangat kecil reaktivasi mengingat Pemprov juga maksimalkan Transjogja.

Galeri Foto Stasiun Ngabean

Epilog