Trip Kereta Purwosari Wonogiri Gunakan Rangkaian Darurat

Trip Kereta Purwosari Wonogiri Rangkaian Darurat

Pertama kali trip kereta Purwosari Wonogiri naik KA Batara Kresna. Uniknya di hari itu menggunakan rangkaian darurat. Bukan railbus yang biasanya. Berarti lebih nyaman dong ya? Gimana juga sensasinya?

Pendahuluan

Pengalaman pertama ngelintas di jalur cabang peninggalan NISM (Nederlandsch Indische Spoorweg Maatschappij). Punya keunikan tersendiri khususnya di segmen Purwosari – Solo Kota yang berada di tengah Jalan Slamet Riyadi.

Perjalanan dari Stasiun Purwosari di Kota Solo menuju Stasiun Wonogiri ini memang hanya sekedar joyride. Memanfaatkan waktu traveling Tour de Java yang telah tertunda lama karena Pandemi Covid-19.

Pastinya perjalanan tersebut akan menggunakan KA Batara Kresna. Satu-satunya rangkaian kereta api reguler yang beroperasi di jalur tersebut. Apalagi bentuknya railbus. Cukup menggoda untuk menjajalnya.

Seperti apakah sensasi rail traveling dengan KA Batara Kresna? Apakah Railbus nya nyaman dan cocok di perjalanan tersebut?  

Ternyata Oh Ternyata

Singkat cerita telah menunggu jadwal keberangkatan KA Batara Kresna di Stasiun Purwosari. Di jadwal sih kalo nggak ada perubahan jam 10.00 WIB. Nggak lama kemudian announcer meminta calon penumpang untuk bersiap di jalur 1.

Alangkah terkejut ternyata kereta yang datang bukanlah Railbus. Melainkan rangkaian KRD buatan PT. INKA Madiun jenis ME 204. Biasanya digunakan untuk dinas KA BIAS (Bandara Internasional Adi Soemarmo)

Jelas banget ini adalah rangkaian darurat. Memang nggak heran sih perjalanan kereta perintis ke Wonogiri kerap menggunakan itu. Pasalnya unit Railbus udah identik banget namanya rusakan.

Trip Kereta Api Purwosari Wonogiri naik ME 204

Alih-alih Railbus sebagaimana diharapkan, trip Kereta Api Purwosari Wonogiri kali ini malah menggunakan KRD ME 204. Nggak apa sih, secara keretanya juga bagus dan nyaman. Secara juga dipake buat ke Bandara. Bahkan dilengkapi fasilitas toilet.

Nggak masalah keretanya mau Railbus atau ME 204. Karena yang dikejar di sini ialah pengalaman dan sensasi perjalanan dari Solo ke Wonogiri dengan si ular besi. Gimana rasanya melintas di tengah jalan raya utama Kota Solo.

Trip Kereta Api Purwosari Wonogiri Berangkat Jam 10.00

Waktu sudah menunjukkan jam 10.00 WIB. KA Batara Kresna diberangkatkan dari Stasiun Purwosari. Penumpangnya bisa dibilang nggak begitu rame. Tapi juga nggak bisa dibilang sepi. Normal aja gitu. Padahal perjalanan di hari Minggu.

13 Menit di Tengah Jalan Slamet Riyadi

Momen trip kereta api Purwosari Wonogiri terbilang cukup unik. Melintas di tengah Jalan Slamet Riyadi yang cukup padat lalu lintas. Dimana ini juga merupakan sisi unik Kota Solo. Terdapat lintasan kereta api aktif dan reguler di tengah jalan layaknya jalur tram.

Jam 10.02 KA Batara Kresna yang menggunakan ME 204 mulai masuk kawasan Slamet Riyadi. Kereta berjalan dengan taspat 20 km/jam. Sekalipun relnya telah menggunakan tipe R 54 seperti di Lintas Kereta Api Mataram dan lintas utama lain pada umumnya.

Melintas di tengah jalan KA Batara Kresna banyak membunyikan Semboyan 21 (klakson). Jam 10.13 WIB kereta telah mencapai Bundaran Slamet Riyadi nggak jauh dari Benteng Vastenberg.

Di Gedung Juang lintasan unik inipun berakhir. KA Batara Kresna persiapan masuk di Stasiun Solo Kota. Dimana waktu telah menunjukkan jam 10.15 WIB. Berarti satu segmen aja ditempuh kurang lebih 13 menit dengan laju maksimum 20 km/jam.

Trip Kereta Purwosari Wonogiri : Stasiun Solo Kota

10.17 WIB KA Batara Kresna tiba di Stasiun Solo Kota. Di sini terlihat aktivitas turun naik penumpang. Itu artinya ada juga lho yang naik kereta ini tapi cuma sepetak doang dari Purwosari ke stasiun yang punya nama lain Sangkrah ini.

Pemberhentian di stasiun ke-4 yang masih berada di wilayah kota ini 2 menit. Boleh dibilang itu standard nya lokalan. Pada jam 10.19 WIB KA Batara Kresna melanjutkan perjalanan.

Trip Kereta Api Purwosari Wonogiri : Jembatan Bengawan Solo 1

Ternyata laju KA Batara Kresna selepas Stasiun Solo Kota nggak lebih kencang daripada di Jalan Slamet Riyadi. Memang sih nggak 20 km/jam. Hanya bagi orang yang udah sering berkereta api tergolong masih sedikit dibawah kecepatan normal.

Hingga akhirnya 10.24 WIB melintas di atas Sungai Bengawan Solo. Ini baru jembatan pertama di atas sungai terpanjang di Pulau Jawa ini. Karena masih ada yang kedua setelahnya. Makanya disebut jembatan ke-1 dari arah Kota Solo.

Trip Kereta Api Purwosari Wonogiri : View Persawahan

Segmen kedua antara Solo Kota hingga Sukoharjo kita mulai disuguhi view persawahan dan pedesaan. Kerasa banget nih berkereta api di tengah suasana pedesaan. Walaupun nggak bisa dibilang 100% asri. Tak hanya itu, kereta juga melaju agak mepet dengan rumah penduduk.  

Stasiun Sukoharjo

Perjalanan dari Solo Kota telah ditempuh selama kurang lebih 28 menit. Kini telah memasuki pemberhentian ketiga yakni Stasiun Sukoharjo (10.52). Di sini KA Batara Kresna berhentinya sedikit lebih lama dan diberangkatkan lagi jam 10.56 WIB. Aktivitas naik turun penumpang ada.

Stasiun Pasar Nguter

Selanjutnya KA Batara Kresna bergerak menuju Wonogiri. Dimana tersisa satu lagi stasiun pemberhentian yakni Pasar Nguter. Sepanjang perjalanan sepetak masih disuguhi view pedesaan. Dengan menempuh waktu 24 menit, kereta tiba di Stasiun Pasar Nguter jam 11.16 WIB.

Di sini KA Batara Kresna berhenti normal selama 2 menit. Udah itu diberangkatkan lagi ke tujuan akhir yakni Stasiun Wonogiri. Nah ada sedikit catatan nih ya, sebenarnya Pasar Nguter ini udah masuk Kabupaten Wonogiri.

Trip Kereta Purwosari Wonogiri : Jembatan Bengawan Solo 2

Seperti udah disinggung tadi, perjalanan akan dua kali menyeberangi Sungai Bengawan Solo. Nah selepas Stasiun Pasar Nguter ini KA Batara Kresna kembali menyeberanginya. Berarti ini adalah jembatan ke-2.

Menembus Hutan Gunung Buthak

Sungai Bengawan Solo telah diseberangi. Kini kereta perintis Wonogiri, nama lain Batara Kresna, memasuki kawasan hutan Gunung Buthak. Nah di sini kita benar berada di tengah hutan. Walaupun masih ada sinar matahari. Jadi nggak benar-benar gelap gitu.

Pemandangan Kota Wonogiri dan Gunung Gandul

Keluar dari hutan, mulailah kita disuguhi pemandangan kota. Dimana kita telah memasuki kawasan Kota Wonogiri. Berarti tinggal sebentar lagi perjalanan akan tiba di destinasi akhir. Gunung Gandhul juga nampak dari kejauhan.

Memang sejatinya, secara geografis Kabupaten Wonogiri dikelilingi oleh beberapa gunung. Meskipun bukan gunung berapi, apalagi yang aktif. Jadi nggak heran bila akan menemukan suguhan view pegunungan juga. Memang nggak sebanyak dan seekstrem di Daop 2 atau jalur kantong.

Trip Kereta Purwosari Wonogiri : Tiba di Tujuan Akhir

Perjalanan telah ditempuh selama hampir 2 jam. Sejak meninggalkan Stasiun Purwosari. Waktu telah menunjukkan jam 11.50 WIB. Dimana KA Batara Kresna tiba di tujuan akhir Stasiun Wonogiri.

Cukup berkesan perjalanan pertama ke Wonogiri naik kereta api. Merasakan gimana melaju di tengah jalan raya ramai. Juga di tengah sawah, perkampungan pemduduk, hingga hutan Gunung Buthak. Dan tentunya dua kali menyeberangi Sungai Bengawan Solo.

Kesimpulan

Trip Kereta Purwosari Wonogiri dengan KA Batara Kresna kali ini menempuh waktu sekitar 1 jam 50 menit. Bila diperhatikan hampir 2 jam. Mulai dari Stasiun Purwosari hingga Wonogiri.

Dalam perjalanan singgah di 3 stasiun yakni Solo Kota, Sukoharjo, dan Pasar Nguter. Selama hampir 2 jam juga mulai dari melintas di Jalan Slamet Riyadi, disuguhi persawahan, kampung penduduk, hutan, perkotaan, dan tentu saja dua kali menyeberangi Sungai Bengawan Solo. Disinilah sensasinya.

Sangat berkesan meski disayangkan KA Batara Kresna dinas gunakan rangkaian darurat. KRD ME 204 buatan PT. INKA Madiun yang biasa buat kereta bandara. Aslinya Batara Kresna itu Railbus.

Galeri Foto

Masih Lanjut Ya

InSyaaAlloh trip report KA Batara Kresna akan lanjut. Dengan judul Kereta dari Wonogiri ke Solo. Ditunggu aja ya … Stay tune ….