01 KA Ekspres Siang Djaja dan Jayabaya Kompromikan Sejarah

KA Ekspres Siang Djaja dan Jayabaya

KA Ekspres Siang Djaja dan Jayabaya tentang bagaimana mengkompromi operasional perdana, siapa meneruskan siapa, dan semisalnya. Nggak ada hitam putih. Disinilah tuntutan berpikir kritis dan menghargai setiap perbedaan.

Pendahuluan

Kadang namanya sejarah itu pasti punya banyak versi. Tak terkecuali sejarah si ular besi. Terutama bila ada satu kereta yang ternyata punya sejarah panjang bahkan sampai banyak peranakannya.

Namun sayangnya karena kerap muncul perbedaan tafsir seringkali satu sama lain sama-sama membenarkan pendapatnya sendiri. Lebih dari itu kerap menjadi drama gegara beda versi sejarah tersebut.

Sama juga di sini. Ketika menyusun konten tentang Gaya Baru Malam Selatan muncullah berbagai sejarah terutama para pendahulunya. Juga kereta yang lahir dari “rahim” kereta gedongan tersebut.

Nah disini kemudian muncul berbagai perbedaan tentang awal mula dinas maupun penerusnya. Sehingga berujung pada revisi konten tertentu. Sebagai akibat harus mengkompromikan versi yang beda itu.

Hal Menarik dari Pembahasan Sejarah.

Namun disinilah letak sisi menarik dari sebuah pembahasan sejarah. Adanya perbedaan versi itu tadi membuatnya seolah nggak ada hitam putih. Sebaliknya justru hal tersebut membuka ruang untuk lebih berpikir kritis dan tuntutan agar bisa menghargai setiap perbedaan.

KA Ekspres Siang Djaja

Oke kita langsung aja ya, KA Ekspres Siang Djaja ini sejatinya bukanlah satu rangkaian kereta api. Sebab KA Ekspres Siang merupakan kereta tersendiri. Begitu juga KA Djaja. Keduanya digabung jadi KA Ekspres Siang Djaja.

Yang coba dirunut ialah asal muasal dua kereta legendaris yang sama-sama telah pensiun itu. Lalu kereta manakah yang menjadi penerus keduanya. Untuk KA Ekspres Siang tentu nggak bisa lepas dari Eendaagsche Express.

Kereta ekspres kebanggaan Staats Spoorwegen (SS) itu dinas dalam kurun waktu 13 tahun (1929-1942). Kemudian mengalami vakum gegara Perang Dunia ke-2 dan lanjut ke masa-masa Perang Kemerdekaan (1947-1949).

Layanan tersebut baru bisa beroperasi lagi di tahun 1950. Itupun melalui jalur utara. Mengingat lintas selatan belum bisa dilalui karena rusaknya jembatan Kali Progo. Barulah pada 17 Juni 1951 layanan via selatan bisa dibuka lagi.

Dari Eendaagsche ke Ekspres Siang

Awalnya layanan ini masih menggunakan nama Eendaagsche Express. Namun seiring waktu dirubah jadi Ekspres Siang. Sesuai dengan waktu keberangkatan yakni siang hari. Juga dari segi terjemahan Bahasa Belanda ke Indonesia.

Beda dengan edisi sebelumnya, KA Ekspres Siang punya 3 rute yakni Gambir-Surabaya Pasar Turi PP, Gambir – Surabaya Kota PP, dan Bandung – Surabaya Kota PP. Pola perjalanannya pun unik bila dilihat dari kacamata sekarang.

Dua kereta berangkat dari Stasiun Gambir kemudian dipecah di Stasiun Cirebon. Nah di Stasiun Kroya digabung lagi dengan kereta dari Bandung. Begitupun sebaliknya.

Ekspres Gaja Baru (EGB)

28 September 1964, PNKA meluncurkan KA Gaja Baru. Disebut juga Ekspres Gaja Baru. Ini sebagai pengembangan lebih lanjut dari KA Ekspres Siang. Sebab menggunakan rangkaian kereta dengan sistem baru pula.

Tahun 1965 terdapat dua kereta di koridor sama yakni KA Ekspres Siang dan Ekspres Gaja Baru. Namun pada tahun itupula perkeretaapian Indonesia mengalami masa-masa sulit dampak dari panasnya situasi politik.

Nggak jelas gimana kelanjutan Ekspres Siang maupun Ekspres Gaja Baru. Sebuah sumber menyebut hanya sisa satu Ekspres Siang rute Jakarta – Surabaya. Sampai akhirnya muncul KA Djaja tahun 1967.

Muncul KA Ekspres Siang Djaja

Beda dengan Ekspres Siang maupun Ekspres Gaja Baru, KA Djaja tak menyertakan rute Bandung. Jadi hanya fokus pada Jakarta – Surabaya. Masing-masing via utara dan selatan.

Namun ritual putus nyambung masih terjadi di sini. Bahkan pernah terjadi juga penggabungan dengan KA Ekspres Siang Bandung. Nah iniah yang memunculkan istilah KA Ekspres Siang Djaja.

Nama KA Ekspres Siang Djaja terutama untuk segmen Surabaya Kota – Kroya. Jadi selepas Kroya, KA Ekspres Siang melanjutkan perjalanan ke Bandung. Sedangkan KA Djaja menuju Jakarta.

Ritual ini nampaknya nggak berlangsung lama. Terlebih KA Djaja sendiri operasionalnya dihentikan di tahun 1971. Hal tersebut mengakibatkan vakumnya koridor selatan KA Jakarta Surabaya (via Purwokerto).

KA Ekspres Siang Djaja: Jayabaya Hingga Badrasurya

Dimanakah hal menarik dari uraian sejarah KA Ekspres Siang Djaja ini? Tentunya sisa satu KA Ekspres Siang Jakarta – Surabaya dan keberadaan KA Ekspres Siang Bandung yang digabung dengan salah satu KA Djaja.

Lebih dari itu sebetulnya nyerempet juga ke asal muasal kereta lainnya. Taruhlah ada dua yakni KA Jayabaya dan KA Badrasurya.

Kelahiran KA Jayabaya 1961

Sebuah sumber menyebut bahwa KA Jayabaya mengawali dinasnya pada 16 Januari 1961. Sementara KA Ekspres Siang Bandung tetap eksis hingga memasuki awal dekade 1980-an.

Barulah pada tahun 1985 namanya berubah menjadi KA Badrasurya dengan layanan kereta bisnis dan ekonomi. Beroperasi hingga tahun 2002 dan digantikan KA Pasundan hingga sekarang.

Jayabaya di antara KA Ekspres Siang Djaja

Jika versi 16 Januari 1961 itu dipake, dimanakah keberadaan KA Jayabaya waktu itu? Sedangkan di tahun itu KA Ekspres Siang masih beroperasi. Apakah yang dimaksud memang KA Ekspres Siang rute Surabaya Kota – Gambir dan sebaliknya?

Begitupula di tahun 1967 ketika muncul KA Djaja. Ini lebih menarik lagi. Terlepas dari masih adanya ritual putus nyambung di Cirebon dan Kroya, melihat pola perjalanannya lebih mirip dengan KA Jayabaya. Kelak terdiri dari Jayabaya Utara dan Jayabaya Selatan.

Sayangnya umur KA Djaja nggak berlangsung lama dan harus pensiun dini di tahun 1971. Entah karena alasan apa. Otomatis juga mengakhiri gabungan KA Ekspres Siang Djaja. Dimana Ekspres Siang jurusan Bandung tetap eksis hingga jadi KA Badrasurya.

Jayabaya Lahir dari KA Gaya Baru Malam Selatan.

Menarik lagi pada dekade 1970-an muncul lagi Kereta Api Gaya Baru. Pertama KA Gaya Baru Malam Utara (1971) yang disebut berasal dari KA Kilat Malam. Dan pada 17 Februari 1975 giliran KA Gaya Baru Malam Selatan.

KA Gaya Baru Malam Selatan pun dianggap baru waktu itu. Padahal bila didahului Ekspres Gaja Baru (EGB) untuk koridor selatan Jakarta – Surabaya, bisa jadi itu adalah kebangkitan dari tidur panjang kurang lebih 10 tahun.

Terlepas dari keberadaan KA Djaja sendiri (1967-1971). Dari Gaya Baru Malam Selatan juga ternyata muncul KA Jayabaya. Diawali dengan KA Gaya Baru Malam Selatan Utama yang hanya dinas lebaran dengan layanan kereta bisnis (1980-an).

Duh Jadi 3 Versi, Mana nih yang Benar?

Nah setelah panjang lebar membahas gabungan KA Ekspres Siang Djaja dan KA Jayabaya ternyata muncul 3 versi kelahiran KA Jayabaya nih. Pertama tentu 16 Januari 1961 dan kedua dari KA Gaya Baru Malam Selatan Utama.

Adapun versi ketiganya adalah KA Djaja yang memiliki pola perjalanan sama dengan KA Jayabaya hingga 2006. Terdiri dari Jayabaya Utara dan Jayabaya Selatan. Terlepas masih adanya putus nyambung di Kroya dan Cirebon.

Tiga versi makin menarik aja nih. Masalahnya dari ketiganya manakah yang benar? Manakah yang bisa dijadikan pegangan?

KA Jayabaya 1961 Dikesampingkan Dulu

Oke kita kesampingkan dulu versi pertama 16 Januari 1961. Karena ini masih harus diteliti dan kaitan dengan KA Ekspres Siang yang akan dibahas lagi secara tersendiri.

Versi Didahului KA Djaja, Tapi Kok?

KA Djaja muncul di tahun 1967. Mengisi kekosongan KA Ekspres Gaja Baru (EGB), Uniknya satu perka digabung dengan KA Ekspres Siang Bandung sehingga melahirkan KA Ekspres Siang Djaja sebagai gabungan.

Nah setelah operasionalnya dihentikan 1971 terjadi kekosongan koridor selatan Jakarta-Surabaya via Purwokerto. Masalahnya yang kemudian mengisi kekosongan itu justru KA Gaya Baru Malam Selatan mulai 1975.

Anggap aja itu versi reborn dari Ekspres Gaja Baru (EGB) sebelumnya. Namun untuk menganggak KA Djaja sebagai pendahulu boleh dibilang nggak beralasan. Jadi KA Djaja nggak ada hubungan dengan KA Jayabaya.

Awalnya Kereta Lebaran (KA Gaya Baru Malam Selatan Utama)

Nah versi inilah yang mungkin paling benar dan bisa dijadikan pegangan. Di tahun 1980-an dalam rangka angkutan lebaran, PJKA meluncurkan KA Gaya Baru Malam Selatan Utama dengan layanan kereta bisnis (K2).

Dengan okupansi bagus, kereta ini kemudian diregulerkan dan namanya dirubah menjadi KA Jayabaya. Nggak lama diluncurkan juga yang lewat utara. Sama layanannya kereta bisnis (K2).

Nah yang lahir dari rahim Gaya Baru Malam Selatan adalah KA Jayabaya Selatan. Adapun via jalur utara jelas KA Jayabaya Utara. Sayangnya gegara persaingan yang bikin okupansi menyusut keduanya harus dihentikan tahun 2006.

Sempat vakum lama sampai akhirnya PT. KAI meluncurkan KA Jayabaya edisi reborn tahun 2014. Dengan rute dan pola baru yakni Jakarta Pasar Senen – Malang via Semarang dan Surabaya Pasar Turi.

Kesimpulan

Pembahasan KA Ekspres Siang Djaja dan Jayabaya ini bukanlah tentang profil atau gimana. Namun coba mengkompromikan masing-masing kereta dari sisi sejarahnya.

KA Ekspres Siang Djaja sejatinya merupakan dua kereta berbeda yang disatukan ketika berada di segmen Surabaya – Kroya. Meskipun hanya berumur pendek dengan acuan KA Djaja (1967-1971).

Dari sisi sejarahnya KA Ekspres Siang merupakan kelanjutan dari Eendaagsche Express. Kemudian dikembangkan ke Ekspres Gaja Baru (EGB). Sempat vakum lama hingga muncul KA Gaya Baru Malam Selatan (GBMS) tahun 1975. Selama vakum itulah KA Djaja sempat mengisi meski sebentar.

KA Djaja bukanlah pendahulu KA Jayabaya. Justru kereta ini muncul dari KA Gaya Baru Malam Selatan untuk masa angkutan lebaran yang diregulerkan. Beroperasi hingga 2006. Muncul lagi tahun 2014 dengan rute dan pola perjalanan baru.

Galeri Foto KA Ekspres Siang Djaja dan Jayabaya