KA Jayabaya Sejarah Panjang dan Serba Pertama

KA Jayabaya Sejarah Panjang dan Serba Pertama

Sejatinya bukan barang baru, KA Jayabaya rute Jakarta Pasar Senen – Malang PP punya sejarah panjang. Disamping itu pula jadi serba pertama ketika hadir lagi di tahun 2014. Apa aja yang jadi serba pertama?

Pendahuluan

Salah satu kereta api yang boleh dibilang sangat legendaris. Usianya bahkan lebih tua dari KA Bima (1967) dan Sang Legenda Priangan Barat, Kereta Api Parahyangan (1971). Menghubungkan dua kota metropolitan di Pulau Jawa.

Namun sang Legenda harus purnatugas di tahun 2006 lantaran okupasi minim. Apalagi udah banyak saingan penghubung dua kota utama tadi. Barulah di tahun 2014 terlahir kembali dengan segala pembaruan.

Pembaruan yang membuat The Legend is Back itu jadi serba pertama dalam segala hal. Hal-hal apa aja yang menjadikannya serba pertama? Yuk kita bahas

KA Jayabaya Kapan Pertama Beroperasi?

Nggak banyak literatur yang membahas tentang kereta ini. Namun menariknya ada dua versi berbeda tentang kelahiran kereta legendaris ini.

Versi Pertama Oase di Padang Pasir

Versi pertama di tanggal 16 Januari 1961. Bila memang demikian, Kehadirannya bagai oase di tengah padang pasir. Semua juga tau dekade 1960-an adalah masa-masa Temaram. Khususnya di transportasi umum berbasis rel.

Pelayanan kereta api yang ketika itu dioperasikan oleh PNKA (Perusahaan Negara Kereta Api) sebagai kelanjutan dari Djawatan Kereta Api (DKA) tengah berada di titik nadir. Sejalan dengan kondisi perekonomian Indonesia yang terpuruk.

Versi Kedua dari Kereta Lebaran

Sementara versi kedua menyebut KA Jayabaya baru ada di tahun 1980-an. Dimana pada awalnya merupakan KA Gaya Baru Malam Selatan Utama dengan layanan kereta bisnis (K2). Hanya beroperasi di masa angkutan lebaran. Artinya ya Kereta Lebaran.

Kemudian operasionalnya diregulerkan. Namanya pun diganti jadi Jayabaya. Nah bila mengikut versi ini berarti yang duluan ada itu via selatan. Setelah itu diluncurkan kembarannya yang lewat utara.

Apapun Versinya Ada Utara dan Selatan

Sang Legenda melayani rute Jakarta – Surabaya. Berangkat dari Stasiun Gambir Jakarta Pusat dengan layanan kereta bisnis (K2). Namun apapun versinya kala itu KA Jayabaya ada yang lewat utara dan selatan

KA Jayabaya Utara

Melayani rute dari Stasiun Gambir ke Stasiun Surabaya Pasar Turi. Melewati kota-kota utama di utara Pulau Jawa. Sebut aja mulai dari Cirebon, Tegal, Pekalongan, Semarang, Cepu, dan Bojonegoro.

KA Jayabaya Selatan

Ibarat saudara kembar, satunya lagi melintas di jalur selatan. Dari Stasiun Gambir ke Surabaya Gubeng. Namun nggak lewat Bandung ya seperti KA Argo Wilis cs di Gapeka 2019. Memang ada tapi nanti akan dibahas belakangan.

Untuk kereta yang lewat selatan atau Jayabaya Selatan, rutenya kaya gini: Jakarta/Gambir, Cirebon, Purwokerto, Kroya, Kutoarjo, Jogja, Solo, Madiun, Kertosono, Jombang, Mojokerto. Perjalanan berakhir di Stasiun Surabaya Gubeng

Dihentikan 2006 Gegara Okupansi Minim

Sayangnya KA Jayabaya edisi lama harus mengakhiri masa operasionalnya di tahun 2006. Okupansi minim jadi alasan PT. KAI untuk menghentikannya. Iya sih secara banyak juga pemain di rute Jakarta – Surabaya.

Di utara aja ada KA Gumarang campuran eksekutif dan bisnis. Ketika Jayabaya Utara masih ada kereta ini jelas pesaing ketat. Sehingga penumpangnya banyak terakomodasi KA Gumarang.

Untuk koridor selatan meski nggak sekeras utara, boleh jadi lebih disebabkan durasi perjalanan yang panjang. Sehingga akan lebih efisien jika mengoptimalkan rangkaian kereta seperti Gaya Baru Malam Selatan (waktu itu masih ekonomi reguler).  

KA Jayabaya Reborn: Downgrade Sih Tapi Serba Pertama

Tanggal 18 Oktober 2014 PT.KAI menghadirkan lagi KA Jayabaya. Tentunya berbeda dengan edisi lama, versi reborn ini mengalami perubahan dalam berbagai hal.

Mulai dari layanan kelas hingga rute yang dilewatinya. Udah itu juga hanya ada satu perjalanan. Nggak seperti sebelumnya ada utara dan selatan. Meski demikian ada hal unik dari versi reborn ini.

KA Jayabaya Ekonomi Plus

Edisi reborn hadir dengan layanan KA ekonomi plus kemenhub. Kapasitas angkut 80 penumpang. Formasi tempat duduk 2-2 berhadap-hadapan. Secara fisik jelas downgrade.

Pasalnya edisi lawas layanan kereta bisnis (K2). Walaupun diklaim setara dan bisa menggantikan, tetap aja terhitung downgrade. KA ekonomi plus kemenhub nggak bisa disetarakan dengan kereta bisnis (K2)

Pertama Livery Selendang Pecut

Di 2014 ada hal unik dalam hal livery. PT.KAI merubah corak livery kereta menjadi selendang pecut. KA Jayabaya jadi yang pertama memakainya. Namun ada juga sisi unik yakni pintu biru layaknya kereta eksekutif.

Sedangkan kereta ekonomi semuanya berwarna orange. Barulah belakangan pintunya diganti jadi orange. Diseragamkan dengan ekonomi lainnya. Khususnya ketika ganti livery lagi.

Pertama Ada kereta Difabel

Meski mengalami downgrade ke kereta ekonomi plus kemenhub, KA Jayabaya punya kereta yang bisa mengakomodasi difabel. Meski sama-sama ekonomi plus, kapasitasnya hanya 64 penumpang. Seperti halnya kereta bisnis.

Cuma yang membedakan, K3 kemenhub untuk difabel ini formasi kursinya masih 2-2 berhadapan. Beda dengan bisnis yang bisa diatur sesuai dengan arah kereta. Bisa juga dibikin hadap-hadapan. Kereta ini adalah yang pertama punya gerbong difabel.

Layani rute Jakarta Pasar Senen – Malang PP via Utara

Jayabaya reborn rutenya pun dimodifikasi. Jika sebelumnya layani Surabaya-Malang, ketika kembali lagi 18 Oktober 2014 diperpanjang ke Stasiun Malang. Namun berbeda dengan kereta api jurusan Malang lainnya.

Kereta ini lewat jalur utara, dari Stasiun Jakarta Pasar Senen ke Stasiun Surabaya Pasar Turi, kemudian terus ke selatan lewat Sidoarjo, Bangil, dan Lawang hingga berakhir di Malang Kota Baru.

KA Jayabaya Pertama Melintas Shortcut

Jika sebelumnya dari Surabaya Pasar Turi ke Surabaya Gubeng harus manuver dulu via Stasiun Surabaya Kota. Pasalnya Surabaya Pasar Turi jadi terminus jalur utara via Semarang. Sedangkan Gubeng dari sisi selatan.

Nah di 2014 telah ada shortcut langsung hubungkan kedua stasiun utama di Kota Pahlawan. Karena full utara, KA Jayabaya adalah kereta pertama yang melintas di shortcut tersebut.

Pertama Tanpa Memutar Loko di Stasiun Surabaya Gubeng

Keuntungannya jelas nggak perlu lagi memutar lokomotif di Surabaya Gubeng. Seperti pernah dialami KA Mutiara Selatan dan KA Bima. Lazimnya jurusan Malang via Surabaya. Lagi-lagi KA Jayabaya jadi pertama tanpa putar loko di Surabaya.

Kesimpulan

KA Jayabaya sebetulnya punya sejarah panjang. Kelahirannya pun punya dua versi yakni 1961 dan 1980-an. Namun apapun versinya layanan kereta bisnis rute Jakarta-Surabaya. Terdiri dari 2 kereta masing-masing Jayabaya Utara ke Surabaya Pasar Turi dan Jayabaya Selatan ke Surabaya Gubeng.

Sempat berhenti sementara di tahun 2006. Hadir lagi mulai 18 Oktober 2014 dengan wajah baru dan rute baru. Perubahan layanan kelas dari kereta bisnis ke kereta ekonomi plus kemenhub. Rutenya dari Stasuin Jakarta Pasar Senen ke Malang via Utara.

Hal unik yang ada di edisi reborn adalah serba pertama dalam hal: Punya kereta difabel kapasitas 64 penumpang, Livery selendang pecut, Melintas shortcut Pasar Turi – Gubeng, dan Ke Malang tanpa putar loko di Stasiun Surabaya Gubeng.   

Masih Lanjut Ya

InSyaaAlloh pembahasan berlanjut di konten KA Jayabaya 2022 : Pergeseran dan Kereta Eksekutif

Galeri Foto KA Jayabaya