Kereta Lokal Garut Tasik. Ini sempat jadi isu liar sebelum happening nya KA Sangkuriang Kemarin. Memang sih ada beberapa stasiun di Kabupaten Garut dan Tasikmalaya yang nggak punya layanan penumpang. Tapi kira-kira mungkin nggak ya?
Before We Go
Oke sebelum lanjut, izin kasih info dulu ya. Mulai 22 Juni 2026, website ini akan lebih fokus nge-share perjalanan kereta komuter, lokalan, dan perintis. Tambah tarif khusus KA Jarak Jauh. Sedangkan untuk KA Jarak Jauh lainnya dan Whoosh, Trip Report-nya di share di halaman baru yaitu warungmugen.id
Pendahuluan
Kabupaten Garut dan Tasikmalaya punya stasiun yang melayani perjalanan KA Jarak Jauh. Tercatat di Kabupaten Garut ada Stasiun Garut Kota, Cibatu, dan Leles. Sementara itu selain Stasiun Tasikmalaya tentunya, ada Rajapolah yang baru-baru ini layani perjalanan Kereta Api Serayu. Itu di sisi Kabupaten Tasikmalaya.
Cuma ada beberapa stasiun lagi yang sebenarnya ada potensi tapi belum dibuka buat layanan penumpang. Jadi selama ini walaupun KA Jarak Jauh berhenti disitu nggak lebih buat persilangan dan susulan. Nggak naik turunin penumpang. Wah sayang banget ya.
Nah supaya stasiun-stasiun itu hidup, ada yang ngusulin buat operasikan kereta lokal. Apakah usulan itu memungkinkan?
Kereta Lokal Garut Tasik : Stasiun Tanpa Layanan Penumpang
Baik Kabupaten Garut maupun Tasikmalaya, ada banyak stasiun yang harusnya bisa layani penumpang malah nggak ada sama sekali. Kita mulai dari sisi Kabupaten Garut dulu ya. Kalo untuk segmen Leles-Garut Kota sih udah aman ya. Meski nggak layani KA Jarak Jauh, minimal masih layani Commuter Line Garut.
Sayangnya di petak Cibatu-Cipeundeuy ada dua stasiun yakni Warung Bandrek dan Bumiwaluya yang tanpa layanan penumpang. Memang sih KA Lodaya 77 berhenti di Stasiun Bumiwaluya, tapi sebatas persilangan. Nggak untuk layanan penumpang.
Gimana dengan Kabupaten Tasikmalaya? Wah ini lebih parah lagi. Cuma dua aja yang ada layanan penumpangnya: Rajapolah dan Tasikmalaya. Padahal sebelum nyeberang Jembatan Cirahong yang viral itu ada Ciawi, Indihiang, Awipari, dan Manonjaya. Selain dua yang udah disebut di awal.

Nah supaya kamu nggak susah memahami, berikut daftar stasiun yang belum ada layanan penumpangnya.
| No | Stasiun | Letak | Keterangan |
| 1 | Warungbandrek | Kabupaten Garut | |
| 2 | Bumiwaluya | Kabupaten Garut | Hanya untuk persilangan |
| 3 | Cirahayu | Kabupaten Tasikmalaya | Hanya untuk pengamatan dan persilangan kereta |
| 4 | Ciawi | Kabupaten Tasikmalaya | |
| 5 | Indihiang | Kabupaten Tasikmalaya | |
| 6 | Awipari | Kabupaten Tasikmalaya | Hanya untuk persilangan |
| 7 | Manonjaya | Kabupaten Tasikmalaya |
Pernah Ada Wacana Kereta Lokal Garut Tasik
Keberadaan stasiun-stasiun yang harusnya bisa layani penumpang itu pernah munculkan wacana Kereta Lokal Garut Tasik. Jauh sebelum KA Sangkuriang happening.
Tahun 2019 pernah ada Kereta Api Galunggung tapi nggak berhenti di stasiun-stasiun tersebut. Boleh jadi hal inilah yang bikin kereta itu mengalami penurunan okupansi yang signifikan setelah tarifnya normal.
Nggak hanya itu, relasinya pun nanggung banget. Mentok di Kiaracondong. Nggak nyampe Stasiun Bandung. Padahal bisa jadi warga Tasik itu pengennya langsung ke Pusat Kota Bandung. Sedangkan Kiaracondong masih jauh meski di Kota Bandung.
Dua Faktor Penentu Utama
Ide adanya Kereta Lokal Garut Tasik sebenarnya positif. Tapi itu bukan hal gampang. Apalagi nggak sedikit yang masih kena paparan virus Pangandaran Seribu. Pengen fasilitas komersial tapi harga murah banget.
Kalo tarif keretanya nggak pake subsidi, bisa jadi harganya setara KA BIAS. Nah kereta bandara terjauh itu sendiri meski nggak pake subsidi tetap diminati warga Solo, Ngawi, Magetan, dan Madiun. Tapi itu jelas nggak bisa disamain sama segmen Timur Daop 2 Bandung.
Masyarakat di 4 wilayah itu belum pernah kepapar virus modelan Pangandaran Seribu. Di Solo aja misalnya, kereta paling murah itu Batara Kresna di 4 ribu rupiah. Meskipun ada yang semurah itu, mereka tetap minati KA BIAS buat bepergian ke Madiun.
Ada dua faktor penentu bisa atau nggak nya ide ini direalisasikan. Pertama, ketersediaan sarana. Saat ini sarana ekonomi 106 pax banyak udah berkurang. Karena usianya yang semakin tua. Mungkin kalo ada kereta PSO yang jadi komersial dan ganti sarana, bisa aja ada harapan.
Kedua jelas PSO. Ini nggak bisa ditawar. Kalo mau wujudin ide ini, PSO KA Jarak Jauh seperti Cikuray, Serayu, Kahuripan, hingga Kutojaya Selatan harus dicabut. Supaya dananya bisa dialokasikan untuk ide lokalan Priangan Timur itu.
Masalahnya, siapkah kamu kalo kereta-kereta andalanmu itu pake tarif komersial? Wong Pasundan New Generation tarifnya melonjak aja kamu marah-marah?! Oh iya, market juga menentukan ya. Kira-kira masyarakat sekitar berminat nggak kalo ada kereta lokal? Itu juga jadi pertimbangan. Jangan sampe udah jalan malah zonk.
Kesimpulan
Soal bisa atau nggaknya ide Kereta Lokal Garut Tasik itu terealisasi itu jawabannya bisa iya bisa nggak. Iya kalo dua syarat yakni dukungan sarana dan alokasi PSO-nya tersedia. Pastinya bakal banyak yang harus dikorbanin. Tapi kalo keduanya nggak terpenuhi, jawabannya jelas sulit bahkan nggak bisa terwujud.
Selain dua faktor penentu itu, minat masyarakat sekitar untuk naik kereta lokal juga menentukan. Jangan sampe udah jalan nanti malah jadi “kereta hantu”.


Leave a Reply