Sadar atau nggak telah terjadi Syndrome Pangandaran Seribu Perak. Pengen fasilitas bagus tapi harganya murah. Tanpa sadar juga ini udah makan korban KA Baturraden Ekspres yang harus tutup operasi. Terlepas dari minimnya sarana. Jangan heran mereka ribut waktu Pasundan upgrade.
Pendahuluan
Namanya Promo itu jelas nggak ada yang salah. Biasanya Promo itu buat ngenalin produk yang baru aja launching. Promo bisa bervariasi. Mulai dari Buy 1 Get 1 sampe Potongan Harga dengan diskon tertentu. Tapi kadang ada aja Promo yang kelewat batas sampe seolah-olah merusak pasar.
Di dunia persepuran, promo tiket udah berlangsung lama. Biasanya banyak yang nyari tiket promo di momen kaya Travel Fair dan sejenis. Bisa juga karena ada momen tertentu kaya Ultah PT. KAI atau Kota tertentu yang jadi destinasi. Tapi pernah ada lho Promo yang sampe kelewatan dan susah diterima akal sehat.
Syndrome Pangandaran Seribu Perak : Awalnya Buat Pengenalan
Ini terjadi di awal tahun 2019. Waktu itu PT. KAI mengoperasikan KA Pangandaran dan Galunggung buat alternatif mobilitas dari Kota Bandung ke Priangan Timur. Cuma harga yang diterapin itu benar-benar nggak masuk di logika manapun.
Semurah-murah ongkos ke toilet juga kenanya 2 ribu rupiah. Nah, ini tiket kereta bisa sampe Seribu Rupiah! Bahkan dengan modal koin segitu aja udah bisa nikmati fasilitas Eksekutif atau setidaknya Premium di kereta Stainless Steel Generasi ke-1 yang waktu itu masih baru banget.
Memang harga semurah ini tujuannya buat pengenalan. Baik itu kereta nya sendiri maupun destinasinya yakni Kota-Kota di Priangan Timur. Apalagi Pemprov Jabar, yang ngasih subsidi besar, memang merencanakan untuk reaktivasi sejumlah lintas cabang non-aktif, yang sebagian kebetulan bersisian sama rute KA Pangandaran.
Syndrome Pangandaran Seribu Perak : Korban Pertama Justru Keretanya Sendiri
Namun harga kelewat murah itu juga menimbulkan konsekuensi lain. Sarana yang masih “kinyis-kinyis” itupun mengalami kerusakan setiap abis dinas Pangandaran. Mulai kerusakan paling ringan kaya gorden yang doll, meja kereta eksekutif yang patah, sampe pintu toilet jebol.
Perilaku penumpang seribu perak itu juga benar-benar absurd. Misalnya ngebiarin anaknya duduk di atas meja eksekutif, muntah sembarangan, nyampah, bahkan kencing di janitor. Belum lagi kebiasaan mereka yang berisik di atas kereta. Udah kaya arisan aja.
Begitu subsidi kelar dan PT. KAI menerapkan tarif normal, para penumpang nyeleneh itupun ikutan menghilang. Kondisi kereta berubah 180 derajat. Tadinya heboh mendadak jadi sunyi. Sampe suara cicak pun bisa kedengaran. Terutama di segmen Bandung-Banjar, okupansinya bener-bener terjun bebas!
Karena itu di Gapeka 2019, PT. KAI akhirnya cuma jalanin KA Pangandaran yang rutenya Gambir-Banjar PP. Di sini jelas bahwa korban pertama dari Promo Gila itu adalah keretanya sendiri. Mulai fasilitas bolak balik rusak, sampe okupansi yang terjun bebas.
KA Baturraden Ekspres Sampe Berhenti Dinas
Pasca Pandemi Covid-19, PT. KAI sempat mengoperasikan KA Baturraden Ekspres buat alternatif dari Bandung ke Banyumas, selain KA Serayu. Menghadirkan perjalanan yang lebih nyaman dengan campuran eksekutif dan bisnis. Tentu kereta ini juga menargetkan market dari Priangan TImur.
Namun apa yang terjadi, lagi-lagi okupansinya nggak sesuai dengan harapan. Terlepas dari keterbatasan dukungan sarana yang cuma satu rangkaian tanpa cadangan, sehingga harus pake pola perjalanan tektok. Meski buat kaum PJKA dari Purwokerto, jadwalnya masih lebih enak dari KA Serayu.
Di sini dampak dari Syndrome Pangandaran Seribu Perak, alias Pangandaran-19, alias P-19, terasa banget. Meski tarifnya masih terjangkau di kisaran 90 ribu, nampaknya itu belum cukup meluluhkan hati mereka yang udah ketagihan koin seribu bisa dapat fasilitas bagus.




Pasundan Upgrade Pun Ngamuk! (Padahal Mereka yang Nuntut)
Korban berikutnya adalah KA Pasundan waktu upgrade ke New Generation. Tarifnya naik hampir 2x lipat dari Rp 250.000,00 ke Rp 410.000,00. Begitu tau, mereka yang udah kejangkit Syndrome Pangandaran Seribu Perak pun ngamuk! Anehnya justru mereka sendiri yang nuntut upgrade sarana.
Meskipun PT. KAI akhirnya memberlakukan harga Promo Rp 330.000,00, Tiket KA Pasundan Normal Lagi ke Rp 410.000,00 setelah Lebaran 2026. Udah bisa ditebak apa yang terjadi. Protes lagi, koar-koar dan menyuarakan perilaku mendang-mending.
Kesimpulan
Dari kejadian ini bisa kita ambil kesimpulan bahwa Syndrome Pangandaran Seribu Perak lahir dari kebijakan Promo yang Tak Masuk Akal. Dari situ kemudian memunculkan sikap pengen fasilitas bagus tapi harga murah.
Korbannya mulai KA Pangandaran itu sendiri, Baturraden Ekspres, dan terakhir Pasundan yang terus-terusan mendapat umpatan.


Leave a Reply