stasiun ambarawa (willem I) berubah gegara bencana

Stasiun Ambarawa (Willem I) : Berubah Gegara Bencana Alam

Stasiun Ambarawa (Willem I) bagian dari percabangan jalur pertama di Indonesia. Dibangun tahun 1873 untuk kepentingan militer dan angkutan hasil bumi. Berubah jadi museum gegara bencana alam. Banjir lahar Gunung Merapi di Kali Krasak.

Prologue

Masih eksis tapi nggak ada layanan komersial kecuali untuk pariwisata. Itupun sebagai wahana museum kereta api. Padahal ini merupakan salah satu stasiun kereta api legendaris dan punya sejarah panjang di Indonesia.

Adalah bencana Gunung Merapi yang merubah fungsinya. Tahun 1976 terjadi banjir lahar dingin di Kali Krasak yang memutus Jembatan Tempel di atasnya. Sebelum itu juga udah ada bencana banjir di Tempuran dan mengakibatkan jembatan kereta api di sana rusak parah. Disamping karena adanya persaingan dari jalan raya juga.

Stasiun Ambarawa (Willem I) : Percabangan Jalur Utama

Tahun 1867 adalah sejarah baru bagi perkembangan transportasi di Nusantara. Disitulah untuk pertama kalinya moda transportasi kereta api beroperasi. Menghubungkan Kota Semarang dan Tanggung, kemudian sampai ke Kedungjati di Kabupaten Grobogan.

Hingga 1872 si ular besi telah mencapai Yogyakarta dan membentuk Lintas Kereta Api Mataram yang masih eksis hingga kini. Nah setahun kemudian, NISM selaku operator membangun percabangan dari Kedungjati ke satu wilayah yang merupakan basis militer.

Di dekat basis militer itulah berdiri Stasiun Ambarawa. Waktu itu pihak NISM menamainya dengan nama Willem I. Diambil dari Raja Belanda waktu itu. Jalur dari Semarang ke Lintas Kereta Api Mataram (Vortenslanden) termasuk percabangan lintas utama ke Ambarawa via Tuntang seluruhnya menggunakan lebar spoor 1.435 mm (standard gaunge).

Stasiun Ambarawa : Dibangun 1873 Untuk Mobilitas Militer

Stasiun Ambarawa (Willem I) dibangun pada tahun 1873 bersamaan dengan percabangan dari Kedungjati tersebut. Tujuan awal untuk memudahkan mobilitas militer ke Semarang, Solo, dan Yogyakarta. Pertama kali beroperasi merupakan stasiun ujung (terminus). Khususnya untuk standard gaunge 1.435 mm.

Stasiun Ambarawa : Dari Yogyakarta dan Magelang

Tahun 1898-1905, NISM membangun jalur kereta api dari Yogyakarta ke Ambarawa via Magelang. Uniknya segmen ini menggunakan lebar spoor berbeda yakni 1.067 mm yang lebih sempit. Sesuai dengan peruntukan jalut yakni kereta ringan (tram). Karenanya jangan heran bila banyak dokumentasi lama Magelang ada rel bersebelahan dengan jalan raya.

Pembangunan itu sendiri sejatinya dalam 3 tahap yakni Yogyakarta – Magelang Kota, kemudian ke Secang, dan terakhir segmen Ambarawa. Nah lagi-lagi posisi terminus nggak berubah. Meskipun kali ini menggunakan spoor 1.067 mm.

Stasiun Ambarawa : Layani Dua Spoor Berbeda

Sama seperti sebelumnya, jalur baru via Magelang dibangun nggak lepas dari kepentingan militer. Secara di Magelang pun terdapat tangsi militer. Tapi dengan tambahan angkutan hasil bumi.

Nah untuk stasiunnya sendiri kini layani dua spoor berbeda. Segmen Kedungjati via Tuntang menggunakan standard gaunge 1.435 mm. Seperti jalur utama NISM pada umumnya di daerah Joglosemar.

Sedangkan segmen Yogyakarta via Magelang gunakan 1.067 mm. Ini juga nggak lepas dari Stasiun Yogyakarta yang telah selesai dan jadi terminus kereta api milik Staats Spoorwegen (SS) dari arah barat.

Stasiun Ambarawa : Pemisahan Ruang Tunggu

Seperti lazimnya era Kolonial Belanda yang menerapkan kebijakan kastanisasi, stasiun inipun menerapkan hal yang sama. Khususnya dalam hal pemakaian fasilitas ruang tunggu. Penumpang Eropa mendapatkan fasilitas ruang tunggu mewah semisal lounge di zaman sekarang.

Adapun Pribumi sebagai kasta ke-3 hanya mendapatkan ruang tunggu outdoor yang terpisah. Posisinya berada di emplasemen sebelah barat dekat dengan gudang. Hal seperti ini juga berlaku ketika naik kereta dimana orang Pribumi khususnya jelata hanya boleh naik gerbong kelas 3 yang diperuntukkan bagi mereka.

Mulai 1942 Bukan Lagi Terminus

Tahun 1942 terjadi pergantian dari Hindia Belanda ke era Kekaisaran Jepang. Secara umum berdampak pada dunia perkeretaapian di tanah air. Tak terkecuali di stasiun ini. Jepang akhirnya menyeragamkan jalur kereta api menggunakan spoor 1.067 semua. Tak terkecuali jalur utama ex-NISM termasuk Lintas Kereta Api Mataram (Vortenslanden) yang sebelumnya pakai 1.435 mm.

Nah sejak era Kekaisaran Jepang inilah stasiun bukan lagi terminus. Dari arah Magelang kini bisa langsung ke Tuntang hingga Kedungjati tanpa harus pindah kereta. Hal ini berlangsung hingga Indonesia Merdeka. Dimana stasiun beserta lintasnya masih beroperasi secara reguler layani angkutan penumpang

Gegara Bencana Alam Beralih Fungsi Jadi Museum

Boleh dibilang awal dekade 1970-an adalah titik nadir dari sang legenda. Memang boleh jadi juga itu karena dampak dari Tragedi G30S PKI sebelumnya. Banyak orang kereta api yang ditangkap atas keterlibatannya di SBKA yang terafiliasi PKI. Termasuk tenaga-tenaga ahli.

Ditambah lagi persaingan dari angkutan jalan raya. Waktu itu layanan kereta penumpang hanya berkecepatan 30 km/jam dengan lokomotif uap yang sudah sangat renta. Tentu nggak bisa bersaing dengan ban karet.

Puncak dari semua itu ialah tahun 1976 ketika terjadi bencana banjir lahar dingin Gunung Merapi di Kali Krasak. Akibatnya Jembatan Tempel mengalami kerusakan parah, terputus sebagian. Belum lagi sebelum itu Jembatan Tempuran di segmen Tuntang-Kedungjati udah tergerus banjir.

Kurangnya tenaga ahli yang kala itu lebih banyak dialokasikan di lintas utama membuat kerusakan itu seperti dibiarkan aja. Nggak ada pilihan lain kecuali penutupan. Nah demi menyelamatkan asset perkeretaapian Stasiun Ambarawa pun beralih fungsi jadi museum sejak tahun 1976.

Masih Aktif Meski Hanya Untuk Pariwisata

Stasiun Ambarawa hingga kini masih aktif meski hanya sebatas untuk kegiatan pariwisata. Secara umum fungsinya telah berubah menjadi museum kereta api Ambarawa. Untuk layanan kereta api terbatas wahana wisata saja. Terdiri dari kereta reguler tiap weekend dan libur nasional. Juga dengan sistem sewa, terutama untuk lokomotif uap.

Punya Dipo Lokomotif

Sebagaimana lazimnya sebuah stasiun besar, di sini juga terdapat fasilitas Dipo Lokomotif untuk menyimpan sarana lokomotif yang akan dipakai untuk menjalankan kereta wisata. Tentunya juga untuk perawatan. Apalagi nggak sedikit sarana terlebih lokomotif uap telah berusia seabad lebih. Bahkan pabrikan asalnya pun telah tutup.

Stasiun Ambarawa sendiri senadainya masih melayani angkutan penumpang reguler bisa dikatagorikan sebagai stasiun kelas 2. Terlebih dengan adanya fasilitas Dipo Lokomotif yang juga bisa difungsikan untuk menyimpan rangkaian kereta.

Kesimpulan

Stasiun Ambarawa (Willem I) dibangun NISM pada tahun 1873. Tujuan awal untuk memudahkan mobilitas militer ke Semarang, Solo hingga Yogyakarta. Pertama dibangun menggunakan spoor 1.435 mm. Namun kemudian juga mengakomodasi kereta api untuk spoor 1.067 mm di tahun 1905.

Kedatangan Jepang membuatnya hanya melayani spoor 1.067 mm dan bukan lagi sebagai terminus sebagaimana sebelumnya. Sebagai dampak dari bencana Gunung Merapi yang memutus Jembatan Tempel, stasiun pun beralih fungsi menjadi Museum sejak 1976 hingga sekarang. Masih aktif meski hanya sebatas untuk kegiatan pariwisata.

Galeri Foto