jalur kereta jogja ambarawa banjir lahar dan reaktivasi

Jalur Kereta Jogja Ambarawa : Banjir Lahar Merapi dan Reaktivasi

Jalur Kereta Jogja Ambarawa punya dua keunikan yakni Tram dan Rel Gerigi. Non aktif karena banjir lahar Merapi di Kali Krasak. Sisakan jalur kereta wisata. Menanti untuk direaktivasi meski bukan perkara mudah.  

Prologue

Tentunya konten ini masih berkaitan dengan pembahasan sebelumnya tentang Stasiun Ambarawa (Willem I) dan Stasiun Tuntang. Keduanya kini seperti jadi satu kompeks yakni Museum Kereta Api Ambarawa yang mulai dibuka 1976. Namun nggak banyak yang tau bahwa jalur kereta wisata itu sejatinya nyambung sampai ke Jogja.

Terutama bagi generasi sekarang yang nggak banyak tau tentang sejarah si ular besi. Pastinya akan bingung kemana lanjutannya jalur kereta wisata dari Ambarawa ke Tuntang dan sebaliknya. Paling mentok dari Stasiun Tuntang itu masih lanjut lagi ke Kedungjati. Itupun karena sempat ada wacana reaktivasi 2014.

Namun gimana kabarnya tentang segmen yang arah Jogja? Benarkah itu memang nyambung sama jalur kereta wisata yang melewati Rawapening itu? Yuk kita simak pembahasan berikut

Jalur Kereta Jogja Ambarawa : Pasca Tersambung Priangan dan Cilacap

Di sini nggak akan bisa lepas dari keberadaan Stasiun Tugu Jogja sebagai titik awal. Stasiun ini mulai dibangun 1878 seiring dengan pembangunan Jalur kereta Api Yogyakarta Cilacap. Tahun 1894 telah terbentuk konektivitas antara Yogyakarta dengan Priangan dan Cilacap. Dimana jalur KA dari Garut ke Cilacap tersambung dengan segmen Jogja di Kasugihan.

Stasiun Tugu Jogja sendiri dioperasikan oleh Staats Spoorwegen (SS) dengan spoor 1.067 mm. Meskipun begitu turut melayani kereta yang dioperasikan NISM. Termasuk standard gaunge 1.435 mm. Di awal beroperasi stasiun ini adalah terminus Lintas barat atau dikenal dengan nama Westerlijnen.

4 tahun setelah terbentuk Westerlijnen dari Priangan hingga Yogyakarta, NISM membangun percabangan menuju Ambarawa via Magelang. Kali ini pihak NISM menyesuaikan dengan lebar spoor Staats Spoorwegen (SS) yakni 1.067 mm.

Jalur Kereta Jogja Ambarawa : Dibangun Dalam 3 Tahap

NISM membangun jalur ini dalam 3 tahap mulai tahun 1898. Sebagai tahap awal dibangun lintas dari Jogja menuju Magelang Kota sepanjang 45 km. Kemudian lanjut tahap berikutnya ke Secang (9 km) pada tahun 1903. Nggak menunggu lama lintas ini telah mencapai Stasiun Ambarawa pada tahun 1905.

Jalur Kereta Jogja Ambarawa : Segmen Magelang Untuk Tram.

Uniknya di segmen Magelang jalur kereta api dibangun sangat dekat dengan jalan raya. Itu karena pihak NISM memang mengoperasikan segmen itu sebagai jalur Tram dengan menggunakan kereta ringan. Hal yang sama bisa kita lihat dari sisi Jogja, dimana rel berdampingan dengan Jalan Raya Magelang sekarang.

Jalur Kereta Jogja Ambarawa : Rel Gerigi Gemawang Jambu

Ternyata untuk bisa nyambung ke Stasiun Ambarawa bukan perkara mudah karena harus melewati pegunungan. Sementara di sisi lain NISM nggak cukup dana untuk membangun terowongan. Sehingga dipilihlah opsi menggunakan rel gerigi untuk menyiasati hal tersebut.

Segmen yang menggunakan rel gerigi ini dimulai dari Stasiun Gemawang dan berakhir di Stasiun Jambu melewati Bedono. Untuk melewatnya dibutuhkan lokomotif dengan spesifikasi khusus.

Angkutan Militer, Penumpang, hingga Hasil Bumi

Dibangunnya jalur Kereta Jogja Ambarawa sekali lagi nggak lepas dari kepentingan mobilitas militer. Ternyata di Magelang pun terdapat tangsi militer seperti halnya Ambarawa. Selain itu juga untuk angkutan penumpang umum. Ditambah hasil bumi.

Nyambung ke Stasiun Tuntang Sejak Pendudukan Jepang

Sebetulnya terminus dari jalur ini ialah Stasiun Ambarawa (Willem I). Walaupun setelahnya masih ada lagi tapi itu menggunakan standard gaunge 1.435 mm sampe di Kedungjati. Pada masa pendudukan Jepang semua rel diseragamkan ke 1.067 mm. Sejak itulah ada konektivitas langsung dengan Stasiun Tuntang sampai ke Kedungjati.

Jalur Kereta Jogja Ambarawa : Non Aktif Gegara Banjir Lahar Merapi

Tahun 1970-an menjadi titik nadir dari jalur unik ini. Persaingan dengan angkutan jalan raya memang satu keniscayaan. Bahkan kondisi kereta api waktu itu lebih lambat dengan usia yang kian uzur. Kondisi buruk ini diperparah terjadinya bencana alam yakni Banjir Lahar Gunung Merapi di Kali Krasak yang mengakibatkan putusnya Jembatan Tempel.

Sejak itu layanan kereta api dari Jogja ke Magelang hingga Ambarawa praktis terputus total. Termasuk dua yang cukup diandalkan yakni KA Borobudur dan Taruna Ekspres.

Kurangnya tenaga ahli juga memberi dampak besar dimana kerusakan itu seperti dibiarkan hingga mangkrak sampai sekarang. Tahun 1976 jadi akhir operasional lintas untuk komersial.

Terselamatkan Museum Kereta Api Ambarawa

Secara komersial boleh aja non aktif. Namun sebagian segmen ternyata masih bisa dioperasikan untuk kepentingan lain yakni Museum Kereta Api Ambarawa. Pertama dengan merubah peruntukan Stasiun Ambarawa dari angkutan kereta reguler jadi wisata museum.

Segmen tersebut mulai dari Stasiun Tuntang dan berakhir di Bedono via Stasiun Ambarawa. Ini juga menyelamatkan sebagian jalur rel gerigi. Khususnya dari Jambu ke Bedono. Nah segmen untuk kereta wisata ini sekarang jadi bagian dari Museum Kereta Api Ambarawa. Jadi kaya satu kompleks gitu.

Keberadaan Museum Kereta Api Ambarawa secara otomatis menyelamatkan sebagian asset perkeretaapian warisan Kolonial Belanda ini. Bukan hanya sebagian lintas, tapi juga sarana lokomotif uap ditempatkan di sini. Baik sebagai koleksi museum maupun dioperasikan secara terbatas untuk pariwisata.

Museum Kereta Api Ambarawa mulai dioperasikan pada tahun 1976 nggak lama setelah Jalur Kereta Jogja Magelang berstatus non-aktif atau tutup sementara. Hingga kini jadi destinasi wisata unggulan.

Dan Benar Nyambung ke Jogja

Dari uraian di atas praktis udah menjawab pertanyaan ya. Apakah jalur kereta wisata yang lewat Rawapening itu aslinya nyambung ke Jogja? Jawabannya iya, terlebih sejak masa pendudukan Jepang bisa langsung ke Stasiun Tuntang tanpa pindah kereta di Ambarawa.

Namun sayang sejak 1976 sambungan ke Jogja terputus akibat Banjir lahar Gunung Merapi yang merusak Jembatan Tempel sehingga nggak bisa dilewati Kereta Api. Sekarang tinggal sisakan jalur kereta wisata. Dimana perjalanan kereta wisata reguler akhir pekan dan libur nasional di rute Ambarawa Tuntang PP.

Jalur Kereta Api Jogja Ambarawa : Mungkinkah di Reaktivasi?

Banyak sekali wacana untuk reaktivasi atau menghidupkan lagi jalur kereta api unik yang satu ini. Telah bergulir sejak lama dan makin kencang di 2014. Terutama sejak mulai ada pembebasan lahan untuk hal tersebut di segmen Kedungjati – Tuntang.

Sayangnya harus terhenti karena mendahulukan Proyek Strategis Nasional (PSN) yang dianggap lebih mendesak seperti LRT Jabodebek, Sumatera Selatan, dan Kereta Cepat Jakarta Bandung (KCJB). Meski begitu wacana reaktivasi seperti nggak pernah redup dari waktu ke waktu.

Bila bicara mungkin atau tidak untuk hal tersebut memang tak ada yang mustahil di dunia ini. Hanya saja bukan perkara mudah. Terlebih segmen Magelang yang notabene bekas lintasan Tram akan sangat sulit. Begitu juga dari Stasiun Tugu Jogja ke Tempel.

Pilihan paling realistis ialah fokus saja pada segmen Kedungjati Tuntang. Sehingga nantinya kereta api dari Jogja masih bisa mengambil jalur arah Timur lewat Solo (Lintas Kereta Api Mataram) untuk mencapai Stasiun Ambarawa.  

Kesimpulan

Jalur Kereta Api Jogja Ambarawa memiliki keunikan yakni segmen Magelang untuk layanan Tram dan Gemawang Jambu dengan rel gerigi. Dibangun NISM 1898-1905 untuk angkutan militer, penumpang dan hasil bumi.

Pada masa pendudukan Jepang terjadi perubahan spoor ke 1.067 mm sehingga bisa langsung ke Stasiun Tuntang. Sayangnya semua berakhir di tahun 1976 akibat bencana banjir lahar Merapi yang memutus Jembatan Tempel. Walapun begitu sebagian asset bisa diselamatkan lewat pengoperasian Museum kereta Api Ambarawa di tahun yang sama.

Perihal reaktivasi jalur ini bukanlah hal mudah. Apalagi di segmen Magelang yang dulunya merupakan jalur Tram. Karenanya paling realistis ialah dengan fokus di Kedungjati – Tuntang sehingga nantinya dari Jogja bisa ambil arah timur via Solo untuk mencapai Stasiun Ambarawa.

Galeri Foto