stasiun tugu jogja pernah terminus dan transit utama

Stasiun Tugu Jogja : Pernah Terminus dan Transit Utama

Stasiun Tugu Jogja asalnya dioperasikan SS, tapi juga melayani kereta NISM. Pernah jadi terminus dan punya dua percabangan. Perbedaan lebar spoor menjadikannya tempat transit utama sampai tahun 1929 dan berakhir seiring kedatangan Jepang.

Prologue

Siapapun yang sering liburan ke Jogja pastilah familiar dengan stasiun yang satu ini. Punya keunikan tersendiri karena bangunan fisiknya merupakan stasiun pulau. Kenapa jadi seperti itu ternyata ada sejarahnya. Bahkan dulunya pernah melayani kereta dengan operator berbeda. Juga punya dua percabangan.

Stasiun Tugu Jogja : Dibangun Staats Spoorwegen (SS)

Awalnya stasiun yang jadi gerbang masuk utama ini dibangun dan dioperasikan oleh Staats Spoorwegen (SS) pada tahun 1887. Bersamaan dengan jalur kereta api Cilacap Yogyakarta. Guna melengkapi lintas barat (Westerlijnen).

Pembangunan jalur tersebut untuk menyambung dengan segmen Priangan dari Garut ke Cilacap. Dimana keduanya bertemu di Kasugihan nggak jauh dari Jembatan Sungai Serayu Cilacap. Sedangkan posisi Cilacap itu kurang lebih mirip dengan Stasiun KA Garut. Tersambungnya dua segmen itu terjadi di tahun 1894.

Terminus Kereta Staats Spoorwegen op Westerlijnen

Pada tahun tersebut Stasiun Tugu Jogja merupakan terminus bagi rangkaian kereta api SS untuk lintas barat atau Staats Spoorwegen op Westerlijnen. Itu karena untuk mencapai Surabaya harus menyeberangi dulu Lintas Kereta Api Mataram (Vortenslanden) milik NISM dengan spoor 1.435 mm.

Tiba di Stasiun Solo Balapan barulah bisa pindah lagi ke kereta api SS dimana kali ini ialah Staats Spoorwegen Op Oosterlijnen atau Lintas Timur. Perbedaan inilah yang dikemudian hari menjadikan stasiun terbesar di Yogyakarta ini berbentuk stasiun pulau.

Stasiun Tugu Jogja : Melayani Kereta NISM

Walaupun secara kepemilikan ada di Staats Spoorwegen (SS), stasiun ini juga melayani perjalanan kereta NISM. Layanan tersebut diadakan nggak lepas dari adanya percabangan ke selatan melalui Stasiun Ngabean. Ditambah lagi Jalur Kereta Jogja Ambarawa yang mengarah ke utara via Magelang.

Lebih dari itu adanya layanan NISM di sini juga karena perbedaan spoor. Seperti diketahui, Staats Spoorwegen (SS) mengoperasikan kereta untuk spoor 1.067 mm dimana stasiun ini menjadi terminus.

Adapun NISM di percabangan selatan dan Lintas Kereta Api Mataram (Vortenslanden) gunakan standard gaunge 1.435 mm. Uniknya lagi NISM juga punya lintasan dengan lebar spoor sama seperti punya SS yakni Jalur Kereta Jogja Ambarawa.

Khususnya di segmen Magelang diperuntukkan kereta ringan (Tram). Ditambah lagi adanya lintasan ekstrem yang harus menggunakan rel gerigi di Gemawang Jambu mau nggak mau mengharuskan NISM gunakan 1.067 mm. Mengingat standard gaunge cocoknya untuk lintas datar bukan pegunungan.

Stasiun Tugu Jogja : Beda Spoor Jadi Tempat Transit Utama

Adanya perbedaan spoor 1.067 dan 1.435 mm menjadikan stasiun ini sebagai tempat transit utama. Terutama untuk perpindahan kereta. Meski telah terbangun jalur kereta Trans Jawa, terdapat perbedaan spoor di sini yang membuat penumpang kereta SS harus transit dan pindah ke NISM untuk menyeberangi Lintas Kereta Api Mataram (Vortenslanden).

Sama juga kereta dari Stasiun Ambarawa dan Secang (Magelang) yang juga harus lakukan ritual transit dan berpindah kereta akibat perbedaan spoor itu. Meskipun secara operator masih sama, NISM.

Waktu itu kereta dari Stasiun Ambarawa dan Secang ke Semarang nggak mengambil jalur lewat Stasiun Tuntang. Melainkan ambil jalur ke Yogyakarta. Bisa jadi karena nantinya harus pindah posisi lokomotif setibanya di Kedungjati sebelum lanjut Semarang

Sedangkan bila melalui Yogyakarta cukup transit dan berpindah kereta aja bisa langsung menuju Semarang. Tak ada kewajiban transit lagi di Kedungjati untuk sekedar memindah posisi lokomotif.

Stasiun Tugu Jogja : Akhir Tempat Transit Utama

Ritual Transit seperti ini berlangsung hingga 1929. Memang di tahun 1899 NISM sempat menambah satu batang rel di Lintas Kereta Api Mataram untuk mengakomodasi kereta SS. Namun kapasitasnya sangat terbatas. Karena itu dibuatlah rel dengan gaunge 1.067 pada tahun 1929.

Nah ini boleh dibilang double track pertama yang dibangun di Indonesia. Spoor 1.067 berdampingan dengan existing 1.435 mm. Kondisi ini pula yang menjadikannya stasiun pulau seperti sekarang. Bangunan utama berada di tengah antara dua rel.

Dengan adanya jalur baru ini fungsi stasiun sebagai tempat transit utama mulai berkurang. Boleh juga dikatakan berakhir. Tapi baru benar-benar demikian di masa pendudukan Jepang.

Kekaisaran Jepang merombak semua rel kereta api yang ada di tanah air. Merubah semuanya ke spoor 1.067 mm. Bahkan untuk Lintas Kereta Api Mataram (Vortenslanden), jalur pertama sejak 1872 dibongkar habis. Nasib yang sama juga dialami lintas cabang seperti Jalur kereta Api Yogyakarta Kotagede.

Menjadi Gerbang Masuk Utama Yogyakarta dan Sekitarnya

Walaupun sebagai tempat transit utama telah berakhir sejak masa pendudukan Jepang, Stasiun Tugu Jogja lantas menjadi pintu masuk utama ke Yogyakarta dan sekitar. Kalopun masih berfungsi sebagai transit, itu tak lepas dari adanya percabangan ke selatan dan utara hingga awal dekade 1970-an.

Tahun 1976 sebagai dampak banjir lahar Gunung Merapi yang memutus jembatan Tempel di Kali Krasak, jalur kereta Jogja Ambarawa ditutup. Dengan hanya menyisakan segmen Bedono ke Stasiun Tuntang sebagai bagian dari Museum Kereta Api Ambarawa.

Begitupun yang mengarah ke Palbapang via Stasiun Ngabean. Bedanya kalo yang ini lebih disebabkan persaingan dengan angkutan jalan raya. Juga berakhirnya angkutan tetes tebu di awal tahun 1980-an.

Dengan adanya penutupan dua percabangan ini praktis menjadikan Stasiun Tugu Jogja bukan hanya akses utama ke Yogyakarta. Tapi juga untuk kota di sekitarnya. Termasuk Bantul dan Magelang yang asalnya tersambung rel kereta api.

Kesimpulan

Stasiun Tugu Jogja dioperasikan Staats Spoorwegen (SS) sejak 1887. Meski begitu tetap melayani perjalanan kereta NISM. Pernah jadi terminus perjalanan kereta api SS lintas barat (Westerlijnen).

Bahkan menjadi titik transit utama perpindahan dari SS ke NISM dan sesama NISM karena adanya perbedaan spoor. Khususnya untuk menyeberangi Lintas Kereta Api Mataram (Vortenslanden) dengan spoor 1.435 mm.

Ritual transit dan perpindahan kereta baru berkurang di 1929 sekaligus menjadikannya stasiun pulau, dan benar-benar berakhir seiring kedatangan Jepang. Penutupan percabangan ke Palbapang dan Jalur Kereta Jogja Ambarawa menjadikan stasiun ini sebagai pintu masuk utama bukan hanya Yogyakarta tapi juga kota-kota di sekitarnya.

Galeri Foto