Percabangan dan Lintas Cabang Apa Bedanya

Percabangan dan Lintas Cabang, Apa Bedanya?

Percabangan dan lintas cabang sepintas memang terlihat sama. Namun sejatinya merupakan dua hal yang berbeda. Serupa tapi tak sama. Di mana letak perbedaannya?

Beberapa istilah dalam dunia perkeretaapian seringkali membuat rancu. Sekilas terlihat sama namun memiliki makna yang berbeda. Terutama dalam urusan istilah-istilah teknis.

Percabangan dan Lintas Cabang Sering Dianggap Sama

Kita seringkali mendengar ada istilah Percabangan dan Lintas Cabang. Terdengar sama-sama “cabang” namun sejatinya bermakna beda. Nah dimana bedanya?

Percabangan tentu sangat familiar di telinga. Terlebih bila bicara soal jalur kereta api. Percabangan banyak sekali klasifikasinya. Mulai dari Percabangan lintas utama, dari lintas utama, hingga pada lintas cabang.

Nah untuk lebih jelasnya, yuk kita bahas satu per satu. Mohon maaf bila pembahasannya bakalan lumayan panjang. Tapi diusahain singkat dan padat.

Percabangan Lintas Utama

Percabangan itu asalnya dari Lintas Utama maupun Lintas Cabang. Pertama kita bicara lintas utama dulu. Karena kasusnya banyak banget. Percabangan pada lintas utama kebanyakan masih aktif meski ada juga yang non aktif

Krenceng – Anyer Kidul

Percabangan ini merupakan bagian dari lintas utama Duri-Tanah Abang-Anyer Kidul yang dibangun Staatspoorwegen tahun 1900. Bahkan ini yang pertama dibangun sebelum ada jalur ke Pelabuhan Merak.

Waktu itu aktivitas penyeberangan ke Pulau Sumatera kebetulan masih melalui Anyer Kidul. Namun kini percabangan tersebut hanya sampai Pelabuhan Cigading saja dan terbatas layanan KA Babarandek tujuan Stasiun Nambo.

Sementara jalur menuju Stasiun Anyer Kidul (ANK) telah non-aktif sejak tahun 1970-an. Alasannya masih sama dengan kebanyakan jalur non-aktif yakni faktor usia dan persaingan dengan angkutan jalan raya.

Jalur KA Cibatu Garut

Banyak yang menyebut bahwa ini adalah lintas cabang. Padahal sejatinya merupakan lintas utama. Bagian dari Jalur Kereta Cicalengka Garut yang dibangun oleh Staatspoorwegen (SS) tahun 1897 hingga 1899.

Ketika awal dibangun belum ada Stasiun Cibatu. Stasiun tersebut baru ada ketika pembangunan jalur kereta api dari Priangan ke Cilacap Jawa Tengah. Itupun akibat kendala teknis bila diteruskannya dari Garut Kota.

Karenanya pihak Staatspoorwegen (SS) kemudian menggesernya ke Cibatu dan menjadikan jalur KA Cibatu Garut sebagai percabangan buntu. Dimana Stasiun Garut berstatus sebagai Terminus. Sempat 40 tahun mati suri kini jalur KA Cibatu Garut telah beroperasi lagi.

Kasugihan – Cilacap

Sama juga dengan Jalur KA Cibatu-Garut, percabangan dari Kasugihan ke Stasiun Cilacap merupakan bagian dari lintas utama Yogyakarta-Cilacap yang juga dibangun Staatspoorwegen (SS) tahun 1897.

Ini juga banyak yang menyangka merupakan lintas cabang. Padahal jelas banget bukan. Dari sejarahnya aja udah jalur utama. Hanya saja karena nggak mungkin diteruskan dari Cilacap, dibuatlah simpangan di Kasugihan.

Jalur Kasugihan-Cilacap jadi percabangan buntu. Sementara itu dari Kasugihan nyambung dengan jalur kereta api dari Priangan (Cibatu). Saat ini telah resmi bernama Jalur Kereta Api Padalarang Kasugihan.

Percabangan dan Lintas Cabang : Dari Jalur Utama

Mungkin di sini mulai bisa sedikit membedakan Percabangan dan Lintas Cabang. Karena pada umumnya percabangan dari Lintas Utama otomatis statusnya menjadi lintas cabang. Juga dibangunnya belakangan.

Di sini ada banyak banget contohnya. Sayangnya kebanyakan berstatus non-aktif. Karena umumnya percabangan dari Lintas Utama ini selain dibangun belakangan juga merupakan percabangan buntu. Ada sih yang nyambung lagi ke lintas utama.

Citayam – Nambo

Boleh dibilang ini adalah jalur kereta api paling muda yang dibangun di Indonesia dan 100% karya anak bangsa. Disaat mayoritas merupakan warisan pemerintah kolonial Belanda. Namun sempat pula mati suri hampir 8 tahun lamanya (2006 hingga 2014).

Percabangan ini juga yang paling sibuk dengan layanan KRL Commuter Line dan kereta barang seperti KA Semen tujuan Kalimas dan KA Babarandek rute Cigading Banten.

Jalur KA Purwosari Wonogiri

Satu diantara sedikit percabangan buntu dari lintas utama peninggalan Belanda yang masih ada hingga kini. Juga masih punya layanan penumpang dalam wujud KA Batara Kresna.

Sejatinya lintas cabang ini sampai ke Baturetno. Namun sayangnya pembangunan Bendungan Gajah Mungkur harus mengorbankan jalur ini hingga terpotong di Wonogiri.

Malang Kota Lama – Jagalan

Percabangan di jalur kantong Surabaya – Malang – Blitar – Kertosono. Termasuk dibangun di era Kolonial. Kini meskipun masih aktif sebatas melayani KA Pertamina tujuan Surabaya Gubeng.

Bandung – Ciwidey

Percabangan paling legendaris penghubung Kota Bandung dengan Bandung Selatan. Awal pembangunan untuk angkutan hasil bumi dan transportasi penumpang menuju Kota Bandung.

Infrastruktur kian uzur dan minim perawatan mengakibatkan kecelakaan fatal di Cukanghaur yang memakan 3 korban meninggal dunia. Salah satunya Kepala Stasiun Ciwidey. Sejak itu nggak ada lagi kereta api ke Ciwidey.

Jalur KA Bandung Ciwidey pun non-aktif. Telah banyak diokupasi untuk dibangun rumah semipermanent hingga permanen. Bahkan Transmart Buah Batu pun berada tepat di jalur tersebut.

Percabangan di Lintas Cabang

Nah untuk kasus yang satu ini nyaris nggak satupun masih aktif. Lebih buruk lagi ada yang udah ditutup sejak tahun 1940-an. Lebih tepatnya ketika pemerintah militer Jepang menguasai Indonesia.

Kalo dijabarin satu-satu mah banyak banget. Nggak bakal ketampung. Jadi yang dibahas sebagiannya aja ya

Cibangkong Lor – Karees

Sebetulnya jalur ini nyambung dengan lintas cabang Cikudapateuh-Ciwidey di Halte Cibangkong Lor dan masih aktif hingga 1975. Dulu banyak digunakan untuk kereta Pertamina seperti di Jagalan Malang.

Namun sejak depot pindah ke Padalarang dan distribusi BBM menggunakan jalur pipa, pengangkutan menggunakan kereta ketel berhenti. Otomatis ikut menghentikan operasional percabangan yang aslinya jalur KA Kiaracondong Karees.

Garut – Cikajang

Merupakan percabangan dari jalur utama Cicalengka Garut (Jalur KA Cibatu Garut). Jalur ini terbilang fenomenal karena terminusnya, Stasiun Cikajang, merupakan tertinggi di Indonesia.

Stasiun Cikajang berada di celah antara Gunung Cikuray di sisi timur dan Papandayan di barat. Lintas cabang ini telah non aktif sejak awal 1980-an. Lebih dulu sebelum Jalur KA Cibatu Garut dinonaktifkan 1983.

Kini setelah Jalur KA Cibatu Garut beroperasi secara reguler, lintas ini menunggu untuk direaktivasi. Namun kendalanya pada segmen yang melewati wilayah Kota Garut hingga Kamojang. Dimana lahan bekas rel telah banyak terokupasi.

Banjarsari – Purbalingga

Bagian dari jalur KA Purwokerto Wonosobo, dimana jalur bercabang lagi di Stasiun Banjarsari menuju Kota Purbalingga. Sejak 1975 ex-jalur Serajoe Dal Stroomtram Maatschappij (SDSM) berstatus non-aktif.

Tentunya ikut berimbas pada percabangan menuju Stasiun Purbalingga. Sejak 2014 telah banyak wacana reaktivasi. Namun hingga kini belum jelas kelanjutannya. Dari Purwokerto ke Purbalingga kini dilayani Transjateng (Bus Rapid Transit/BRT).

Ngabean – Pundong

Jarang ada yang tau bahwa jalan raya di depan Plengkung Nirbaya (Alun Alun Kidul) Jogja dulunya pernah ada rel kereta api. Itu adalah jalur percabangan dari Stasiun Ngabean ke Stasiun Pundong di Kabupaten Bantul.

Menarik bukan? Karena selama ini yang banyak diketahui itu percabangan dari Stasiun Yogyakarta ke Stasiun Palbapang Bantul. Balik lagi ke Ngabean-Pundong, sama-sama ke Bantul tapi bedanya yang ini lewat Kotagede.

Jalur ini dibangun oleh Nederlandsch Indische Stroomtram Maatschappij (NISM) tahun 1913 dan dioperasikan 1917. Sayangnya jalur ini ditutup pada masa penjajahan Jepang. (NB: Nanti akan dibahas tersendiri InSyaaAlloh)

Kesimpulan

Nah dari contoh kasus di atas udah ketauan kan bedanya percabangan dan lintas cabang? Percabangan dari jalur utama itu nggak harus jadi lintas cabang. Karena ada kasus jalur utama yang bercabang. Seperti Anyer Kidul, Garut, dan Cilacap.

Adapun percabangan yang dibangun belakangan dari lintas utama itu biasanya menjadi lintas cabang dan rata-rata berupa jalur buntu. Contohnya jalur Citayam Nambo dan Purwosari Wonogiri.

Terakhir percabangan di lintas cabang. Jadi dari jalur utama dibangun percabangan. Kemudian di tengah-tengahnya atau di akhir ada percabangan lagi. Contoh: Garut Cikajang, Banjarsari Purbalingga, dan Ngabean Pundong.

Catatan

Sebetulnya masih banyak contoh kasus yang terjadi di Indonesia selain dibahas di atas. Tentunya nggak bisa dibahas semuanya karena akan sangat panjang. Jadi dipilih beberapa saja.

Untuk kedepan mungkin bisa aja percabangan dan lintas cabang yang belum dibahas disini akan ada pembahasannya tersendiri. Sama juga yang sempat disinggung akan dibahas lebih detil lagi inSyaaAlloh.

Galeri Foto