Mulai beroperasi tahun 1903, Jalur Kereta Kalisat Banyuwangi awalnya adalah lintas cabang. Namun seiring berjalannya waktu, terjadi dinamika yang merubah status menjadi jalur utama sampai sekarang. Terlebih ketika Jalur Kereta Api Kabat Ketapang mulai dioperasikan PJKA.
Pendahuluan
Wilayah Tapal Kuda memang udah ada jalur kereta api sejak 1897. Ketika si ular besi mulai menapaki wilayah Panarukan. Nampak jalurnya waktu itu paralel sama De Groote Posweg-nya Daendles. Sama-sama berakhir di Panarukan, alih-alih Banyuwangi.
Malah tanah suku Osing itu boleh dibilang masih terisolasi dan sangat minim akses transportasi. Padahal di sinilah titik ujung Pulau Jawa, yang memungkinkan akses peneyeberangan ke Pulau Bali.
Terlebih untuk mengangkut hasil bumi dari wilayah Tapal Kuda. Belum lagi potensi serupa dari kawasan Gunung Gumitir. Nah pemerintah kolonial lantas menyadari potensi ini. Pembangunan jalur kereta baru tembus Gunung Gumitir dan berakhir di Banyuwangi udah jadi kebutuhan.

Jalur Kereta Kalisat Banyuwangi : Awalnya Angkutan Hasil Bumi
Pada tahun 1902, Staats Spoorwegen (SS) mulai membangun jalur kereta dari Stasiun Kalisat melewati Gunung Gumitir sampai dengan Banyuwangi. Jalur ini merupakan lintas cabang dan tujuan pembangunan sama seperti jalur kereta di daerah lainnya, yakni angkutan hasil bumi. Disamping penumpang juga.
Stasiun Kalisat di Kabupaten Jember jadi titik awal pembangunan lintas cabang ini. Sehingga di sinilah titik percabangan rel menuju Panarukan dan Banyuwangi.

Jalur Kereta Kalisat Banyuwangi : Menembus Gunung Gumitir
Jalur baru ini ternyata harus menembus Gunung Gumitir. Terutama pada bagian yang diapit oleh dua buah pegunungan, yakni Pegunungan Ijen (utara) dan Besari (selatan). Pada segmen ini, Staats Spoorwegen (SS) membangun dua buah terowongan, yakni Garahan dan Mrawan.
Di antara kedua terowongan terdapat tujuh buah jembatan, dengan satu jembatan di atas perkebunan kopi merupakan yang terpanjang. Daerah diantara dua buah pegunungan ini merupakan titik tertinggi di Gunung Gumitir. Terowongan Mrawan sendiri merupakan yang paling panjang di sini, dengan panjang 690 meter.
Segmen yang boleh dibilang ekstrim ini baru berakhir di Stasiun Kalibaru, yang udah masuk Kabupaten Jember. Selanjutnya rel cenderung melandai sampai masuk Stasiun Kabat, kemudian mengarah ke pesisir dan berakhir di Pelabuhan Boom Banyuwangi. Dimana sebelumnya ada Stasiun Banyuwangi Lama.

Perubahan Status Pasca Kemerdekaan
Tahun 1903, jalur kereta Kalisat Banyuwangi mulai beroperasi sebagai Lintas Cabang. Status ini berlangsung sampai Kemerdekaan Indonesia. Setelah itu, terutama memasuki tahun 1960-an, perkeretaapian Indonesia secara umum mengalami banyak penurunan.
Bahkan sejak dekade 1970-an, telah banyak lintas cabang yang terpaksa non-aktif karena usia telah uzur dan kalah saing dengan angkutan jalan raya. Hal yang sama pun turut dirasakan Jalur Kereta Jember Panarukan yang sejak awal merupakan Lintas Utama.
Sebaliknya, karena terkait dengan akses penyeberangan ke Pulau Bali, Jalur Kereta Kalisat Banyuwangi yang mulanya Lintas Cabang malah semakin berkembang. Apalagi PJKA juga sempat mengoperasikan KM Blambangan untuk transportasi lanjutan Kereta Api Mutiara Timur ke Bali.
Dinamika ini akhirnya membawa pergeseran status. Jalur yang semula Lintas Cabang ini pun naik pangkat jadi Jalur Utama. Sebaliknya, jalur ke Panarukan turun kasta sampai akhirnya non-aktif di tahun 2004.

Semakin Mempertegas Posisi
Memasuki dekade 1980-an, terjadi pergeseran aktivitas penyeberangan dari Pelabuhan Boom Banyuwangi ke Ketapang, yang jauh dari Pusat Kota Banyuwangi. Pergeseran ini membawa dinamika baru. Terkait dengan konekitivitas antara kereta api dan penyeberangan.
Pemerintah, melalui PJKA, membangun jalur kereta api Ketapang yang baru pada tahun 1984. Menghubungkan Kabat dan Ketapang, dengan dua stasiun yakni Karangasem (Kini Stasiun Banyuwangi Kota) dan Argopuro. Ujung rel otomatis berubah jadi di Stasiun Ketapang yang waktu itu namanya Banyuwangi Baru.
Jalur baru ini mulai beroperasi tahun 1985, menggantikan trase lama di wilayah pesisir yang telah eksis sejak era Staats Spoorwegen (SS). Keberadaan jalur Kereta Api Ketapang ini seolah mempertegas posisi Jalur Kereta Kalisat Banyuwangi sebagai Jalur Utama di wilayah Tapal Kuda.
Meskipun berakhir di Ketapang, nama Jalur Kereta Kalisat Banyuwangi nggak otomatis berubah. Mengingat Ketapang juga masih masuk Kabupaten Banyuwangi, meski jauh dari Pusat Kota.
Kesimpulan
Dilatarbelakangi kepentingan untuk angkutan hasil bumi dan akses penyeberangan ke Pulau Bali, Staats Spoorwegen (SS) membangun Jalur kereta Kalisat Banyuwangi pada tahun 1902, kemudian beroperasi 1903. Menembus Gunung Gumitir dengan dua terowongan dan tujuh jembatan diantara keduanya.
Setelah Indonesia Merdeka, jalur ini mengalami dinamika perubahan status menjadi jalur utama. Dari semula yang hanya lintas cabang. Hal ini semakin dipertegas dengan Jalur Kereta Api Ketapang yang dibangun PJKA tahun 1984 dan beroperasi 1985.


Leave a Reply