Jalur Kereta Api Ketapang : Dibangun di Zaman Orde Baru

Jalur Kereta Api Ketapang _ Dibangun di Zaman Orde Baru (Sebuah Pembuktian)

Jalur Kereta Api Ketapang dari Stasiun Kabat mulai dibangun 1984 dan beroperasi 1985. Bersamaan dengan Pelabuhan Ketapang. Jalur baru ini dibangun pada masa pemerintahan Orde Baru. Boleh jadi buat pembuktian masih perhatian ke kereta api.

Pendahuluan

Bagi pecinta kereta api, bisa jadi era Orde Baru itu jadi masa-masa kelam bagi dunia perkeretaapian. Karena banyak lintas cabang yang non aktif. Mayoritas akibat nggak bisa bersaing lagi sama angkutan jalan raya. Terlebih pembangunan jalan raya begitu masif waktu itu.

Pemerintahan Orde Baru disebut lebih mengutamakan car centrik. Sementara itu roda besi malah seperti diabaikan dan dianaktirikan. Meskipun terkesan car centric, nggak selamanya juga kereta api diabaikan. Toh pada masa itu juga tetap ada pembukaan jalur kereta api baru, salah satunya di Kabupaten Banyuwangi.

Pindahnya Aktivitas Penyeberangan ke Ketapang

Sebelum kita bahas lebih lanjut, ada baiknya lebih dulu membahas apa yang jadi latar belakang Orde Baru (lewat PJKA) membangun Jalur Kereta Api Ketapang. Jadi gini, sejak era kolonial Belanda, aktivitas penyeberangan Jawa Bali berlangsung di Pelabuhan Boom Banyuwangi.

Sejak itu juga udah ada semacam integrasi antarmoda kereta api dan kapal penyeberangan. Dalam hal ini, Kereta Api Mutiara Timur terintegrasi KM Blambangan yang juga dioperasikan oleh PJKA.

Penumpang KA Mutiara Timur tiba di Stasiun Banyuwangi Lama, kemudian lanjut naik shuttle ke pelabuhan Boom dan lanjut KM Blambangan ke Bali. Pelabuhan yang dekat ke Pusat Kota itu juga sebenarnya udah ada jaringan rel kereta api dan telah lama jadi rel ujung timur Pulau Jawa.

Namun seiring peningkatan aktivitas, Pelabuhan Boom Banyuwangi nggak lagi bisa menampung lonjakan. Sehingga aktivitas pelabuhan, termasuk penyeberangan harus pindah ke lokasi baru, Ketapang, yang posisinya jauh dari Pusat Kota.

Perpindahan aktivitas penyeberangan dari Pelabuhan Boom ke Ketapang ternyata berdampak ke kereta api. Sehingga nggak mungkin lagi andalkan Stasiun Banyuwangi Lama. Singkat cerita jalur kereta api warisan Staats Spoorwegen (SS) harus direlokasi untuk mengakomodasi aktivitas Pelabuhan Ketapang.

Jalur Kereta Api Ketapang Dibangun 1984 dan Beroperasi 1985

Pemerintah, lewat PJKA, mulai membangun Jalur Kereta Api Ketapang yang baru pada tahun 1984. Jalur ini membentang dari Kabat sampai ke Pelabuhan Ketapang.

Beda sama peninggalan SS di pesisir, jalur baru ini posisinya lebih ke area pegunungan. Stasiun Kabat jadi titik awal pembangunan jalur baru yang berakhir di Pelabuhan Ketapang. Jalur eksisting ke Stasiun Banyuwangi Lama juga dari stasiun itu. Pada tahun 1985, jalur baru inipun beroperasi.

Seolah Bukti Orde Baru Tetap Perhatikan Kereta Api

Jalur Kereta Api Ketapang Melewati Dua Stasiun

Ketika baru beroperasi pada 7 September 1985, jalur baru ini dinamakan Kabat – Banyuwangi Baru. Melewati dua stasiun yakni Karangasem dan Argopuro. Lantas gimana nasib jalur eksisting ke Stasiun Banyuwangi Lama?

Masih tetap beroperasi. Tapi hanya melayani angkutan barang sampai dengan tahun 1986. Setelahnya, semua aktivitas perkeretaapian pindah ke jalur baru dan Stasiun Banyuwangi Baru. Otomatis jalur eksisting di non aktifkan.

Sisa-sisa jalur peninggalan Staats Spoorwegen (SS) itu masih bisa ditemui sampai sekarang. Terutama di Karangrejo, sekitar Stasiun Banyuwangi Lama. Meski nggak ada lagi bekas rel, selain bangunan stasiun dan rumah dinas yang masih berdiri, bekas Dipo Lokomotif juga masih ada. Meski kondisinya mengenaskan.

Bahkan jejak-jejak rel sampai sekitar Pantai Boom Banyuwangi pun masih ditemukan. Hal ini dibuktikan dengan plang asset KAI. Jalur lama ini memang nggak berakhir di Stasiun Banyuwangi Lama. Tapi di area Pantai Boom Banyuwangi yang sekarang udah full untuk pariwisata.

Stasiun Banyuwangi Kota Bagian Dari Jalur Kereta Api Ketapang

Seolah Jadi Pembuktian Pemerintahan Orde Baru

Pembangunan jalur kereta api Ketapang tahun 1984-1985 seolah jadi semacam pembuktian Pemerintahan Orde Baru yang masih memperhatikan moda transportasi kereta api. Terutama menjawab tudingan sejumlah pihak bahwa pemerintahan ini anti sepur.

Memang fakta yang nggak bisa dibantah lagi kalo banyak lintas cabang non aktif itu terjadi di era Orde Baru. Di sisi lain pembangunan jalan raya begitu masif. Meskipun begitu, pada masa itu juga banyak dilakukan peningkatan terhadap lintas utama.

Jalur Kereta Api Ketapang adalah satu dari dua yang dibangun pada masa Orde Baru. Jalur lainnya adalah Citayam Nambo.

Meskipun banyak menutup jalur kereta api terutama lintas cabang, di masa Orde Baru juga pernah ada reaktivasi di Lintas Sidoarjo – Tarik via Tulangan. Jalur yang sempat tutup tahun 1972 akhirnya hidup lagi 16 Oktober 1980.

Perubahan Nama Stasiun di Gapeka 2019

Gapeka 2019 menjadi dinamika baru bagi jalur kereta api peninggalan Orde Baru ini. Terjadi perubahan nama pada dua stasiun. Pertama adalah Karangasem yang berubah nama jadi Stasiun Banyuwangi Kota.

Perubahan nama yang dilatar belakangi kedekatan ke pusat pemerintahan Kabupaten Banyuwangi. Selain itu juga untuk memudahkan wisatawan yang berkunjung ke Banyuwangi.

Stasiun kedua yang ganti nama adalah Banyuwangi Baru, ganti jadi Stasiun Ketapang. Kalo ini udah jelas ya, karena posisinya memang dekat Pelabuhan Ketapang di luar kota Banyuwangi.

Kesimpulan

Jalur Kereta Api Ketapang dibangun PJKA tahun 1984-1985 pada masa pemerintahan Orde Baru. Menghubungkan Kabat dan Banyuwangi Baru, dengan dua pemberhentian di Karangasem dan Argopuro.

Pembangunan jalur ini seolah menjadi bukti bahwa anggapan Orde Baru kurang memperhatikan kereta api itu salah. Jalur ini merupakan satu dari dua jalur baru yang dibangun pada masa tersebut.

Di Gapeka 2019, terjadi pergantian nama di dua stasiun. Karangasem menjadi Stasiun Banyuwangi Kota, dan Banyuwangi Baru jadi Ketapang.

Comments

Leave a Reply