Stasiun Cirahayu Terpencil Untuk Persilangan

Stasiun Cirahayu, Terpencil Untuk Persilangan dan Susul

Manakala perjalanan masuk lintasan ekstrem keempat, Stasiun Cirahayu adalah satu-satunya di segmen ini. Namun posisinya yang terpencil membuatnya hanya untuk kegiatan persilangan dan susul. Belum ada layanan penumpang.

Pendahuluan

Segmen dari Garut ke Cilacap memiliki dua lintasan ekstrem di etape awal. Pertama berada di Malangbong. Satunya lagi selepas Stasiun Cipeundeuy Garut. Di sini pernah terjadi sebuah malapetaka yakni Tragedi Trowek 1995.

PLH itu sebagai akibat dari rem KA Kahuripan (digabung Galuh) mengalami gagal fungsi hingga akhirnya anjlok. Sebagian gerbong terjatuh ke jurang. Kondisi korban jiwa pun nggak kalah mengenaskan dari Tragedi Bintaro 1987. Meski secara jumlah jauh dibawahnya.

Dari sini operator lantas mengembalikan kebijakan wajib berhenti periksa rem di Stasiun Cipeundeuy Garut. Namun sejatinya lintasan ekstrem yang telah berada di Kabupaten Tasikmalaya ini mempunyai stasiun kelas 3. Hanya satu-satunya di segmen itu. Stasiun apakah yang dimaksud?

Stasiun Cirahayu Asalnya Trowek

Adalah Stasiun Cirahayu yang berdiri di tengah lintasan ekstrem tersebut. Bila dari arah Garut jalurnya menurun. Disebabkan elevasi lebih rendah ketika memasuki akhir segmen yakni Ciawi, Kabupaten Tasikmalaya.

Sebetulnya stasiun tersebut telah ada sejak lama. Bahkan boleh jadi ketika awal segmen dari Garut ke Cilacap beroperasi pada tahun 1889. Walaupun kala itu hanya berupa halte kecil atau stopplast.

Pertama kali berdiri namanya Trowek. Nama tersebut dikenal cukup lama. Sehingga cukup familiar disebut Stasiun Trowek. Sampai sebuah tragedi terjadi di Jembatan Trowek pada tahun 1995.

Jarak antara Stasiun dan Jembatan sebetulnya cukup jauh. Bahkan jembatan masih lebih dekat dari Stasiun Cipeundeuy Garut. Akibatnya nama Trowek tak lagi dipakai. Diganti jadi Cirahayu.

Stasiun Cirahayu Kelas 3 Tapi Terpencil

Bila dilihat dari kondisinya secara fisik, Stasiun Cirahayu telah layak untuk menyandang status stasiun kelas 3. Hal ini tentu berbeda dengan Gadobangkong yang masih tetap jadi halte hingga sekarang.

Halte Gadobangkong nggak memiliki fasilitas toilet. Terlebih lagi musholla. Hanya ada ruang tunggu penumpang dan loket saja. Persinyalan pun dikendalikan dari Stasiun Cimahi, khususnya arah timur.

Berbeda dengan ini yang telah memiliki fasilitas toilet. Juga sistem persinyalan langsung dikendalikan dari dalam stasiun oleh PPKA. Tambahan lagi segmen ini masih menggunakan sistem persinyalan mekanik.

Namun sayangnya posisi stasiun cukup terpencil. Susah dijangkau oleh kendaraan. Padahal bentuk fisiknya hampir menyerupai Sasaksaat. Bahkan bisa diakses dari jalan raya dan nggak terlalu jauh. Sasaksaat juga melayani penumpang.

Hanya Untuk Persilangan dan Persusulan

Posisinya yang terpencil itulah menjadikannya hanya sebatas untuk kegiatan persilangan dan persusulan. Nggak ada layanan penumpang di sini. Mungkin bukan hanya akses jalan, dari perkampungan juga agak jauh.

Terlebih lintas dari Garut ke Cilacap sama sekali nggak ada layanan komuter. Hanya dilintasi KAJJ. Tentu ini berbeda dengan Sasaksaat yang melayani perjalanan KA Lokal Garut Cibatuan dan KA Lokal Bandung Purwakarta (aslinya Lokal Baraya).

Semoga aja nantinya ada layanan komuter yang bisa menjadikan stasiun ini lebih hidup. Bisa melayani penumpang sebagaimana ”kembarannya” di Priangan Barat. Idealnya memang ada komuter disitu. Khususnya dari Garut ke Tasikmalaya.

Kesimpulan

Stasiun Cirahayu asalnya bernama Trowek. Sebuah tragedi di tahun 1995 membuat nama Trowek diganti jadi Cirahayu. Meski sudah layak menyandang status sebagai stasiun kelas 3 di sini hanya layani persilangan dan susul.

Hal tersebut dikarenakan tiadanya layanan komuter sebagaimana “kembarannya” di Priangan Barat, Sasaksaat. Dimana KA Lokal Garut Cibatuan dan KA Lokal Bandung Purwakarta dilayani di sana. Semoga aja ada komuter dari Garut ke Tasikmalaya yang bisa hidupkan stasiun ini.

Galeri Foto

Epilog