jembatan serayu kebasen di jalur ka cirebon kroya

Jembatan Serayu Kebasen di Jalur KA Cirebon Kroya

Jembatan Serayu Kebasen merupakan bagian penting Jalur KA Cirebon Kroya dalam rangka percepatan konektivitas Jakarta Surabaya. Masih melestarikan bangunan lama-nya dan memiliki dua sisi unik: di atas rel dan diapit dua terowongan. Kini pakai yang baru.

Prologue

Sebelumnya kita telah membahas Jembatan Kereta Serayu Maos yang menjadi bagian dari Jalur KA Cilacap Yogyakarta. Jembatan pertama itu mulai beroperasi pada tahun 1894. Sekaligus menandai tersambungnya Pulau Jawa dengan jaringan kereta api hingga membentuk Trans Jawa.

Namun di sisi lain Jalur Trans Jawa yang telah terbentuk itu masih menyisakan titik lemah yakni persoalan waktu tempuh. Dimana penumpang diwajibkan untuk pindah kereta di Buitenzorg dan Yogyakarta. Maklum segmen Batavia Noord ke Buitenzorg dan Lintas Kereta Api Mataram (Vortenslanden) Jogja Solo dioperasikan NISM. Beda operator gitu.

Upaya Staats Spoorwegen (SS)

Pihak Pemerintah Kolonial Belanda dalam hal ini Staats Spoorwegen (SS) telah melakukan upaya agar masalah lamanya waktu tempuh itu bisa teratasi. Sekalipun itu dilakukan secara bertahap.

Sebagai Tahap awal mengakuisisi seluruh lintas milik BOS dari Batavia Zuid ke Karawang, kemudian memperpanjang jalur kereta Karawang Cikampek hingga membangun Jalur KA Cikampek Padalarang di tahun 1902. Setidaknya Batavia-Bandung telah dipersingkat dengan pengoperasian shortcut tersebut tahun 1906.

Nampaknya hal itu masih belum cukup. Staats Spoorwegen (SS) lantas membangun cabang kedua menuju Cirebon dan pada akhirnya membangun Jalur KA Cirebon Kroya (1912-1917) sebagai shortcut kedua.

Jembatan Serayu Kebasen : Di Atas Jalur Milik SdSM

Jalur KA Cirebon Kroya termasuk dalam katagori lintas pegunungan. Meski nggak seekstrem Priangan. Meskipun begitu di sini terdapat 3 buah Sungai Besar yang harus dilewati yakni Keruh, Logawa, dan paling besar tentu saja Sungai Serayu di Kabupaten Banyumas.

Adapun di sisi Sungai Serayu sebetulnya telah ada jaringan kereta api dari Maos ke Purwokerto Timur yang dioperasikan SdSM (Serajoedal Stroomtram Maatschappij). Sementara SS nggak akan menghubungkannya dengan lintas tersebut, alhasil bersama Sungai Serayu, jalur kereta tersebut ikut dilintasi Jembatan Serayu Kebasen.

Sehingga jembatan tersebut punya keunikan ketika dibangun dan dioperasikan pertama kali tahun 1917. Berada di atas Sungai Serayu dan Jalur Kereta Api Maos – Purwokerto Timur milik SdSM yang mengikuti alur sungai ikonik tersebut.

Jembatan Serayu Kebasen : Bagian Penting Jalur KA Cirebon Kroya

Keberadaan jembatan ini tentu merupakan bagian penting dari Jalur KA Cirebon Kroya. Bukan hanya ketika awal dibangun SS untuk mempersingkat waktu tempuh Jakarta Surabaya.

Bahkan hingga sekarang merupakan salah satu jembatan yang cukup sibuk dilintas kereta api. Terutama dari Jakarta dan Cirebon ke arah timur. Beroperasinya KA Baturraden Ekspres dari Bandung ke Purwokerto juga ikut meramaikan lintas dan jembatan ini. Belum lagi KA Kamandaka dan Joglosemarkerto.

Jembatan Serayu Kebasen : Dua Keunikan Tapi Satu Masih Bertahan

Ketika awal dibangun, jembatan ini bukan hanya menyeberangi Sungai Serayu. Tapi juga jalur kereta api di bawahnya milik SdSM. Disamping itu juga diapit dua buah terowongan yakni Notog dan Kebasen.

Namun dua keunikan ini hanya bertahan sampai tahun 1942. Seiring bergantinya kekuasaan Pemerintah Hindia Belanda ke Kekaisaran Jepang. Di sinilah kereta api mulai mengalami kemunduran. Oleh kekaisaran Jepang, jalur milik SdSM dari Maos ke Purwokerto Timur itu dibongkar. Praktis sejak itu hanya menyisakan satu keunikan saja dan bertahan hingga kini.

Renovasi dan Jembatan Baru Double Track

Jembatan Serayu Kebasen telah mengalami renovasi. Pada awal dibangun menggunakan model baja melengkung ke atas dan bertahan hingga awal dekade 1970-an. Setelahnya mengalami renovasi dan perubahan design. Dimana rangka melengkung itu diganti dengan model trapesium.

Pembangunan double track di Jalur KA Cirebon Kroya ternyata turut mempengaruhi keberadaan Jembatan Serayu Kebasen. Dimana jembatan lama hasil renovasi 1970-an ini nggak bisa mengakomodasi double track. Hingga mau nggak mau harus dibangun jembatan baru.

Alhasil sejak double track beroperasi, aktivitas perkeretaapian dialihkan ke jembatan baru yang mengakomodasi double track. Adapun bangunan jembatan lama tetap dipertahankan dan berada di sebelahnya. Dijadikan monumen sebagai bagian dari sejarah.

Kesimpulan

Jembatan Serayu Kebasen selain memegang peranan penting di Jalur KA Cirebon Kroya juga memiliki dua keunikan: Menyeberangi rel kereta api milik SdSM dan diapit dua terowongan (Notog-Kebasen). Sayangnya keunikan ini telah berakhir sejak 1942 dan tinggal sisakan satu saja yang bertahan hingga kini.

Jembatan ini sendiri sempat mengalami renovasi di tahun 1970-an dengan mengganti rangka baja lengkung dengan bentuk trapesium. Pengoperasian double track ternyata membutuhkan jembatan baru. Setelah tuntas seluruh aktivitas dipindahkan ke situ. Sedangkan jembatan lama masih tetap berdiri dan jadi monumen sejarah.

Galeri Foto

Lanjut Nggak Ya?

Sebetulnya konten ini selain bagian dari Dua Jembatan Kereta Serayu juga kelanjutan dari konten Jalur KA Cirebon Kroya yang telah diposting lebih dulu. Soal kelanjutannya inSyaaAlloh akan berlanjut ke Jalur KA Cilacap Yogyakarta dan Stasiun Kroya.