jalur ka ambarawa kedungjati mirip garut line

Jalur KA Ambarawa Kedungjati : Mirip Garut Line (Ikuti Alur Sungai)

Jalur KA Ambarawa Kedungjati memang masih 50% yang aktif untuk kegiatan pariwisata. Namun untuk setengah lintas yang masih non-aktif mengikuti alur Sungai Tuntang. Jika dilihat sepintas mirip Garut Line.

Pendahuluan

Masih berkaitan dengan kegiatan pariwisata di Museum Kereta Api Ambarawa dan sekitarnya. Terutama di jalur yang dilintasi Kereta Wisata Ambarawa Tuntang. Segmen ini masih aktif meski sebatas untuk kereta wisata reguler yang berjalan setiap akhir pekan dan hari libur nasional.

Nah selepas Stasiun Tuntang sejatinya jalur masih ada dan terus hingga berakhir di Stasiun Kedungjati, Kabupaten Grobogan. Sayangnya segmen ini hingga sekarang masih non-aktif. Adapun mulainya di dekade 1970-an. Juga karena bencana alam yakni bencana banjir Tempuran ditambah kompetisi dengan moda jalan raya.

Namun ada satu hal yang nggak kita sadari. Ternyata setelah ditelusuri lintas ini punya kemiripan dengan Jalur Priangan. Seperti apa kemiripannya?

Aslinya Jalur Pegunungan

Jalur KA Ambarawa Kedungjati sebetulnya dimulai dari Stasiun Tugu Jogja. Kemudian berbelok ke utara sejajar Jalan Magelang, melewati Stasiun Secang, kemudian jalur rel gerigi sampai dengan Jambu, setelah itu barulah mendatar ke Stasiun Ambarawa.

Nah dari situ melewati Danau Rawapening sampai Stasiun Tuntang. Lanjut lagi ke Beringin dan Tempuran hingga berakhir di Kedungjati. Dimana stasiun yang design nya identik dengan Ambarawa merupakan bagian dari Jalur KA Tertua di Indonesia.  

Jika dilihat dari konturnya, berarti ini adalah jalur pegunungan. Biasanya jalur pegunungan terdapat terowongan. Namun karena NISM yang membangun lintas ini nggak cukup dana untuk itu maka dibuatlah rel gerigi dari Secang Magelang hingga Jambu.

Adapun lintas datarnya sendiri berada diapit 5 gunung yakni Ungaran di sebelah utara kemudian 4 lainnya yakni Gunung Merapi, Merbabu, Telomoyo, dan Andong di sisi selatan. Ketika melewati Danau Rawapening keempatnya seolah menjadi latar. Di sisi utara pun terdapat perbukitan kecil selain view sawah.

Jalur KA Ambarawa Kedungjati : Masih Aktif Separuhnya

Secara keseluruhan jalur cabang ini mulai ditutup 1976. Dengan hanya menyisakan segmen Bedono Tuntang yang tetap diaktifkan untuk mendukung Museum Kereta Api Ambarawa. Saat ini yang beroperasi secara reguler ialah segmen Tuntang yang jadi bagian dari Jalur KA Ambarawa Kedungjati, atau setengah dari keseluruhan. Setiap akhir pekan dan libur nasional layani perjalanan Kereta Wisata Ambarawa tujuan Stasiun Tuntang.

Jalur KA Ambarawa Kedungjati : Segmen Nonaktif Ikuti Alur Sungai Tuntang

Dari Stasiun Tuntang jalur ini masih berstatus non aktif dan dalam proses reaktivasi. Hanya saja proses itu telah lama terhenti karena satu dan lain hal. Ditambah lagi 3 stasiun yang ada di segmen ini yakni Stasiun Beringin, Gogodalem, dan Tempuran harus dirombak total.

Molornya proses reaktivasi memang cukup disayangkan. Padahal jalur ini dibuat seperti mengikuti aliran Sungai Tuntang hingga berakhir di Kedungjati. Cukup memiliki keunikan mengingat sejauh ini hanya dua lintas aktif yang punya karakter seperti ini: Garut Line di segmen Cibatu Garut dan Jalur Blitar. Keduanya merupakan lintas utama.

Jalur KA Ambarawa Kedungjati dan Lintas Priangan Timur

Karakteristik pegunungan membuat jalur ini bisa dibandingkan dengan Lintas Priangan Timur. Khususnya Jalur Kereta Cicalengka Garut. Dimana terdapat jalur mendaki kemudian menuruni lembah Mandalawangi. Selepas Leles sampai Stasiun Cibatu itu lintas datar. Nah dari situ belok ke Stasiun KA Garut mengikuti alur sungai Cimanuk.

Perbandingan itu bila diukur mulai dari Stasiun Secang, dimana rel menanjak hingga Bedono. Setelah itu baru menuruni bukit hingga Jambu. Barulah jalurnya mendatar lewat Stasiun Ambarawa sampai menyeberangi Sungai Tuntang dan mengikuti alurnya hingga Kedungjati.

Hanya saja yang membedakan keduanya ialah keberadaan jalur rel gerigi. Di lintas Priangan Timur walaupun terkesan ekstrem tapi belum membutuhkan jalur seperti ini. Sedangkan di Secang-Jambu secara teknis memerlukan terowongan. Namun demi menekan biaya, NISM akhirnya memasang jalur rel gerigi.

Kesimpulan

Saat ini Jalur KA Ambarawa Kedungjati memiliki setengah lintas aktif dan sisanya masih non-aktif walaupun dalam proses reaktivasi. Lintas aktif saat ini digunakan untuk kepentingan pariwisata khususnya operasional Kereta Wisata Ambarawa tujuan Stasiun Tuntang.

Adapun segmen yang masih non aktif ini mengikuti alur Sungai Tuntang sampai berakhir di Stasiun Kedungjati. Jika dilihat sekilas mirip Garut Line di segmen Jalur KA Cibatu Garut yang mengikuti alur Sungai Cimanuk. Dan bila diukur mulai dari Secang itu seperti Jalur Kereta Cicalengka Garut. Pembedanya ialah keberadaan rel gerigi.  

Galeri Foto