Semua terkejut begitu tau KA Argo Bromo Anggrek ganti nama jadi KA Anggrek. Apalagi ini cuma seminggu pasca Tragedi Bekasi Timur dan beberapa hari setelah temperan di Grobogan. Apakah ini bakal jadi efek domino lanjutan di brand argo lainnya?
Pendahuluan
Oke, mungkin ganti nama itu lumrah ya di dunia persepuran. Tapi buat yang brand nya udah terlanjut melekat selama puluhan tahun, ini kok agak aneh. Apalagi kejadiannya nggak lama setelah kereta tersebut mengalami kejadian yang kurang enak. Pertama jelas Tragedi Bekasi Timur 27 April 2026 lalu yang makan korban 16 penumpang.
Kedua sempat temperan sama kendaraan pengantar jama’ah haji yang juga makan korban belasan penumpang lagi. Kejadian kedua ini di Grobogan Jawa Tengah. Kejadian ganti nama setelah insiden memang bukan hal baru.
Tapi apakah gegara itu lantas ganti nama atau rebranding? Gimana juga dengan kemungkinan ada efek domino lanjutan ke brand argo lainnya?
KA Argo Bromo Anggrek Mulai Dinas 1998 sebagai “versi advance” JS950
Kereta argo pertama kali hadir di Indonesia pada tanggal 17 Juli 1995. Nggak tanggung-tanggung dua kereta diluncurkan yang sekaligus buat hadiah HUT RI ke-50 waktu itu. Pertama, KA Argo Bromo JS950 rute Gambir-Surabaya Pasar Turi PP. Kedua, KA Argo Gede JB350 rute Gambir-Bandung PP.
Kedua kereta ini punya kelebihan mencolok dibanding layanan yang udah ada di rute yang sama. Salah satunya tentu soal waktu tempuh. JS950 sendiri menjanjikan 9 jam perjalanan lebih cepat dari sebelumnya 12 jam.
JS950 eksis sampai hadir KA Argo Bromo Anggrek tahun 1998 yang mengusung tema futuristik dengan rangkaian terbaru dan paling canggih pada saat itu. Awalnya kedua kereta beroperasi secara bersamaan. Tapi kemudian JS950 akhirnya harus “merger” ke layanan baru itu buat penyederhanaan dan efisiensi.
KA Argo Bromo Anggrek dan Sejumlah Kecelakaan Fatal
Namun sayang perjalanan si Raja Jalur Kereta Pantura ini nggak selamanya mulus. Tercatat KA Argo Bromo Anggrek sempat terlibat sejumlah kecelakaan fatal yang memakan cukup banyak korban jiwa.
Pertama, waktu masih pake rangkaian aslinya yang “gendut” (K1 97), kereta ini terlibat Tragedi Petarukan Pemalang tanggal 2 Oktober 2010 dini hari di Stasiun Petarukan, Kabupaten Pemalang. Kereta ini menyundul dengan sangat brutal bagian belakang KA Senja Utama Semarang.
Saat kejadian, tiga kereta paling belakang mengalami kerusakan sangat parah. Bahkan kereta terakhir nggak berbentuk lagi. Akibatnya puluhan penumpang menjadi korban. Tragedi Petarukan tercatat sebagai kecelakaan kereta terbesar ketiga setelah Tragedi Bintaro 1987 dan Tragedi Ratujaya 1968.
Kejadian sundulan maut terulang lagi di Tragedi Bekasi Timur 27 April 2026 sepekan yang lalu. Kali ini korbannya KRL Commuter Line jenis Tokyo Metro 6000 (6124). Namun kali ini cuma rangkaian kereta terakhir yang mengalami kerusakan sangat parah. Akibatnya 16 penumpang jadi korban dan semuanya wanita.

Selang beberapa hari giliran mobil pengangkut rombongan jama’ah haji kena temper sang Raja Utara di Grobogan. Korbannya juga belasan. Itu masih ditambah lagi insiden anjlokan walaupun nggak sampe ada korban.
Misalnya anjlokan di Stasiun Manggarai beberapa bulan sebelum Tragedi Petarukan dan di Pegaden Baru hampir setahun lalu.
Ganti Nama Jadi KA Anggrek (Banyak yang Mengaitkan)
Namun entah karena apa, tiba-tiba PT. KAI ngasih pengumuman penggantian nama Argo Bromo Anggrek jadi KA Anggrek mulai 9 Mei 2026 mendatang. Warganet pun dibuat heboh, terutama para Railfans. Banyak yang mengaitkan sama dua kecelakaan terkahir yang memakan korban sampe belasan orang.
Perubahan nama gegara sejumlah insiden memang pernah terjadi di Empu Jaya yang ganti nama jadi Kereta Api Progo. Makanya jadi nggak sedikit yang pake semacam ilmu cocoklogi.
Terlepas dari apapun alasannya, PT. KAI sendiri menyebut tujuan perubahan nama jadi KA Anggrek ini untuk penyederhanaan nama. Nggak ada hubungan sama Tragedi Bekasi Timur dan insiden lainnya. Layanan dan pola perjalanan juga nggak mengalami perubahan sama sekali. Tetap menempati 4 urutan teratas Gapeka.
Akankah Menimbulkan Efek Domino?
Peralihan nama KA Argo Bromo Anggrek jadi KA Anggrek seolah menjadi semacam kode akan hilangnya brand “argo” di perkeretaapian Indonesia. Apalagi kereta ini adalah pelopor (sebelumnya JS950).
Bersama Argo Parahyangan yang sebelumnya JB250 Argo Gede. KA Argo Parahyangan sendiri udah pensiun di awal Gapeka 2025. Digantikan lagi sama sang legenda KA Parahyangan.
Dengan para pelopor yang “melepas” brand Argo, dikhawatirkan bakal bikin efek domino. Apalagi banyak kereta argo yang usianya lebih muda. Misalnya KA Argo Wilis yang baru dinas tahun 1998, atau yang Semarangan1 dan Solois2.

Situasi sekarang juga udah beda sama dulu. Kereta Argo nyaris nggak ada beda sama eksekutif biasa. Bahkan pake rangkaian yang sama kaya Argo Wilis-Turangga dan Argo Semeru-Bima. Kalo dulu kan Argo itu jadi kelas tersendiri.
Kaya gimana efek domino yang ditakutin? Brand Argo benar-benar tinggal kenangan masa lalu. Belum lagi kalo nanti Whoosh sampe Surabaya. Berdasarkan pengalaman di Jepang, setelah Shinkansen ada, Blue Train yang sempat jadi primadona akhirnya tersisih dan pensiun.
Nggak usah jauh-jauh, Argo Parahyangan juga “korban” Whoosh sama kaya Blue Train di Jepang. Pada akhirnya orang akan mengincar kecepatan waktu tempuh. Kalo Whoosh Lanjut ke Surabaya, argo-argoan itu udah nggak relevan lagi.
Kesimpulan
Mulai 9 Mei 2026, KA Argo Bromo Anggrek ganti nama jadi KA Anggrek. Perubahan ini murni untuk penyederhanaan nama dan nggak ada kaitan sama Tragedi Bekasi Timur dan temperan di Grobogan kemarin. Juga kecelakaan besar lainnya kaya Tragedi Petarukan.
Namun, ini mengundang kekhawatiran akan efek domino ancaman hilangnya brand argo di masa depan. Apalagi sekarang antara argo dan kereta eksekutif biasa nggak ada beda sama sekali. Belum lagi kalo nanti Whoosh Lanjut ke Surabaya, itu bisa bikin argo-argoan nggak lagi relevan.


Leave a Reply