Update Terkini
Stasiun Ambarawa (Willem I) : Berubah Gegara Bencana Alam
Stasiun Ambarawa (Willem I) bagian dari percabangan jalur pertama di Indonesia. Dibangun tahun 1873 untuk…
Wisata Lokomotif Cepu (Perhutani) Destinasi Satu Satunya
Ternyata Wisata Lokomotif Cepu (Perhutani) jadi destinasi satu-satunya di sana. Meski jadi dasar pembangunan Jalur…
Stasiun Cepu : Peran Vital di Jalur Kereta Pantura Timur
Stasiun Cepu memiliki peran vital dalam pembangunan Jalur Kereta Pantura Timur. Khususnya dalam konteks ditemukannya…
Stasiun Gubug Grobogan : Antara Tragedi dan Kereta Ex ABA
Stasiun Gubug Grobogan jadi bagian dari jalur kereta pantura Semarang dan Surabaya. Mencuat karena tragedi…
Stasiun Ngrombo Purwodadi : Paling Besar dan Teramai
Stasiun Ngrombo Purwodadi berada di ibukota kabupaten Grobogan. Karenanya merupakan yang paling besar dan ramai…
Stasiun Brumbung Demak : Pintu Masuk dan Percabangan ke Solo
Stasiun Brumbung Demak merupakan satu-satunya stasiun aktif sekaligus pintu masuk kabupaten tersebut. Termasuk dalam barisan…
Stasiun Alastua : Antara Jalur Pertama dan KA Kedungsepur
Stasiun Alastua pertama dibangun bersamaan dengan jalur Semarang – Tanggung tahun 1865. Paling timur di…
Museum Lawang Sewu : Infografis, Koleksi, Miniatur dan Replika
Museum Lawang Sewu dibuka pasca renovasi selesai. Menawarkan wisata edukasi seputar perkeretaapian Indonesia. Terdapat infografis,…
Stasiun Cirahayu, Terpencil Untuk Persilangan dan Susul
Manakala perjalanan masuk lintasan ekstrem keempat, Stasiun Cirahayu adalah satu-satunya di segmen ini. Namun posisinya…
Jadwal Stasiun Cipeundeuy Layani Semua Perka
Jadwal Stasiun Cipeundeuy Garut. Bukan lagi sekedar pemeriksaan rem karena melewati lintasan ekstrem. Lebih dari…
Stasiun Cipeundeuy Garut: Semua Wajib Berhenti
Stasiun Cipeundeuy Garut walapun kecil tapi semua kereta wajib berhenti. Tragedi Trowek 1995 jadi salah…
Stasiun Purwosari Solo: 5 Layanan dan 2 Cabang?
Stasiun Purwosari Solo yang dikenal sebagai pemberhentian kereta ekonomi ternyata memiliki 5 layanan. Disamping itu…
Stasiun Kereta Api, juga Halte dan Stopplast melayani naik turun penumpang dan barang. Semua memiliki peran vital. Apabila tak ada akan menyulitkan operasional kereta api. Baik angkutan penumpang maupun barang.
Foto Ilustrasi aktivitas naik turun penumpang di Stasiun Bandung

Stasiun Kereta Api Termasuk Vital
Mengapa infrastruktur ini harus ada di dunia perkretaapian? Bukankah rel kereta api udah cukup untuk si ular besi bisa beroperasi?
Ternyata jalur rel kereta aja belum cukup untuk si ular besi bisa beroperasi. Masih diperlukan adanya infrastruktur untuk layanan turun naik penumpang dan barang. Nah infrastruktur yang dimaksud adalah Stasiun Kereta Api. Minimalnya Halte atau sekedar Stopplast (Pos Pemberhentian).
Ketiganya merupakan infrastruktur penting dalam rangka memaksimalkan kereta api.
Bisa dibayangkan gimana jadinya bila infrastruktur ini nggak ada? Padahal kereta api itu berbeda dengan angkutan jalan raya biasa yang bisa naik turun penumpang dimana aja.
Belum lagi kereta api juga punya jalan sendiri yang dinamakan jalur rel kereta. Menghubungkan satu titik dengan lainnya. Seperti juga jalan raya, jalur rel membutuhkan infrastruktur untuk naik turun penumpang.

Beda Stasiun Kereta Api dengan Halte dan Stopplast
Sama-sama tempat pemberhentian dan terjadi proses naik turun penumpang sebagaimana stasiun kereta api pada umumnya. Namun ada perbedaan cukup mencolok dengan Halte dan Stopplast. Dimanakah bedanya?
Klasifikasi Stasiun Kereta Api
Stasiun sendiri punya klasifikasi lho. Kelas 1, 2, dan 3. Berikut letak perbedaannya
Stasiun Kereta Api Kelas 1
Sering disebut Stasiun Besar yang melayani perjalanan jarak jauh. Kelas 1 memiliki fasilitas lengkap. Selain layanan penumpang, tersedia angkutan barang, Dipo Lokomotif, Kereta, hingga infrastruktur seperti Gudang dan Turntable. Intinya semua ada di sini
Stasiun Kelas 2
Secara fasilitas memang tak selengkap kelas 1. Tapi stasiun kelas 2 udah bisa dibilang stasiun besar. Untuk kelas 2 biasanya hanya jumlah lintasannya lebih sedikit dan nggak ada fasilitas dipo. Paling banter sub dipo atau salah satu dari yang ada di kelas 1.
Stasiun Kelas 3
Untuk kelas 3 hanya menyediakan fasilitas untuk naik turun penumpang tanpa ada bangunan lain seperti Dipo. Meski demikian di dalam stasiun masih tersedia fasilitas toilet dan musholla. Stasiun kelas 3 juga punya PPKA
Halte dan Stopplast
Halte juga berfungsi sebagai tempat untuk naik turun penumpang. Hanya saja secara fisik bangunannya lebih kecil dari stasiun kereta api kelas 3. Di sini hanya menyediakan fasilitas ticket counter (loket) dan ruang tunggu. Nggak ada PPKA, toilet, dan musholla. Petugas yang ada biasanya hanya ticketing, security, dan cleaning service.
Operasional Halte juga menginduk pada stasiun terdekat. Seperti kasus Halte Gadobangkong dibawah Stasiun Cimahi.
Stopplast atau pos pemberhentian dari segi infrastruktur jelas berada di bawah halte. Paling banter di sini hanya menyediakan petugas ticketing saja. Namun untuk operasional juga menginduk ke stasiun terdekat.
Di Indonesia saat ini udah nggak ada lagi stopplast. Paling banter juga halte. Itupun tinggal sedikit yang masih beroperasi seperti Gadobangkong dan Leuwigoong. Bahkan saat ini Halte Gadobangkong sedang dalam proses upgrade menjadi stasiun kelas 3.
